KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Kasus pelacakan dan pembunuhan Kepala Cabang (Kacab) Bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta, memasuki babak baru.
Empat tersangka berinisial AT, RS, RAH, dan EW alias Eras, melalui kuasa hukumnya, mengajukan permohonan perlindungan hukum kepada Panglima TNI dan Kapolri.
Pengaduan itu bukan tanpa alasan. Mereka menyebut ada sosok berinisial F yang diduga terlibat ikut dalam perencanaan hingga eksekusi terhadap Ilham.
Baca Juga: Peran Delapan Tersangka Dalam Penculikan dan Pembunuhan Kacab BRI Cempaka Putih Ilham Pradipta
"Kami sudah menyurati Panglima TNI dan Kapolri. Ada indikasi perintah datang dari seseorang berinisial F," ujar kuasa hukum Adrianus Agal di Mapolda Metro Jaya, Senin (25/8).
Meski begitu, Adrianus enggan menjelaskan lebih jauh siapa sebenarnya F. Ia hanya menyinggung bahwa F ikut dalam proses pengintaian serta memberi Arahan soal lokasi penyerahan korban di kawasan Jakarta Timur.
“Peran F cukup dominan, bahkan diduga ikut mengatur eksekusi,” tambahnya.
Seperti diketahui, Ilham disergap para pelaku saat berada di area parkir sebuah supermarket di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Rabu (20/8). Rekaman CCTV ditampilkan korban ditarik paksa masuk ke dalam mobil yang dikendarai Eras dan kawan-kawan.
Baca Juga: Empat Otak Penculikan dan Pembunuhan Kacab BRI Cempaka Putih Dibekuk di Solo dan PIK
Sehari kemudian, jasad Ilham ditemukan di persawahan Cikarang, Bekasi, dengan kondisi ikatan tubuh lakban.
Tak berhenti pada eksekutor, polisi juga sudah membekuk empat aktor intelektual lain yang dianggap sebagai otak nenek moyang: C, DH, YJ, dan AA. Tiga orang yang ditangkap di Solo, sementara AA diringkus di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Meski para tersangka sudah ditahan, misteri keberadaan dan identitas F masih menyisakan tanda tanya besar. Polisi belum memastikan apakah F adalah aparat, orang dekat korban, atau pihak lain yang mempunyai kepentingan.
Editor : Uways Alqadrie