KALTIMPOST.ID, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, akhirnya mengungkap harga asli bahan bakar minyak (BBM) dan LPG yang selama ini disubsidi pemerintah.
Fakta ini menunjukkan bahwa harga yang dibayar masyarakat jauh lebih rendah dibandingkan biaya sebenarnya.
Menurut Purbaya, harga keekonomian Pertalite mencapai Rp 11.700 per liter, lebih tinggi dari harga jual eceran yang dibayar masyarakat sekitar Rp 10.000 per liter.
Hal serupa juga terjadi pada Solar, di mana harga asli Solar mencapai Rp 11.950 per liter, sementara masyarakat hanya membayar sekitar Rp 6.800 per liter.
Selisih harga inilah yang selama ini ditanggung pemerintah melalui subsidi atau kompensasi.
Purbaya menekankan bahwa angka tersebut bukan sekadar teori. “Harga ini mencerminkan biaya produksi, distribusi, margin, dan pajak,” ujar Purbaya dalam penjelasannya.
Dengan kata lain, subsidi yang diberikan pemerintah selama ini menutupi selisih harga sehingga masyarakat tetap menikmati BBM dengan harga lebih terjangkau.
Selain BBM, Purbaya juga membahas LPG 3 kg, meski angka harga asli yang spesifik belum dirinci secara publik.
Hal ini menunjukkan perhatian pemerintah terhadap harga kebutuhan pokok energi yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya rumah tangga miskin.
Ekonom menilai keterbukaan ini penting untuk menjaga transparansi dan pemahaman masyarakat terhadap kebijakan energi nasional.
Namun, mereka juga menekankan bahwa fluktuasi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan biaya distribusi dapat memengaruhi harga keekonomian di masa depan.
Dengan data ini, pemerintah memberi gambaran bahwa subsidi energi bukan sekadar pengeluaran, tetapi juga bentuk perlindungan bagi masyarakat agar tidak terbebani harga energi yang sesungguhnya lebih mahal.***
Editor : Dwi Puspitarini