Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ancaman Tsunami Purba di Pesisir Selatan Jawa, Riset BRIN Ungkap Jejak Bencana Raksasa Ribuan Tahun Lalu

Ari Arief • Senin, 13 Oktober 2025 | 09:28 WIB
ANCAMAN: Peta ancaman tsunami di Indonesia.
ANCAMAN: Peta ancaman tsunami di Indonesia.

KALTIMPOST.ID-Sebagai negara yang terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia—Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik—Indonesia memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap gempa bumi dan tsunami, khususnya di wilayah pesisir selatan Jawa.

Meskipun demikian, data historis mengenai peristiwa tsunami di area ini masih sangat terbatas.

"Keterbatasan ini berarti kita berpotensi mengabaikan ancaman besar yang pernah terjadi di masa lampau, mirip dengan kasus tsunami raksasa Aceh pada tahun 2004," ungkap Purna Sulastya Putra, Periset Bidang Sedimentologi di Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam keterangan tertulis yang diterima pada Senin (13/10).

Untuk mengisi kesenjangan informasi ini, tim peneliti BRIN melakukan riset paleotsunami. Studi ilmiah ini bertujuan mendeteksi sisa-sisa tsunami purba melalui data geologi, yakni dengan menganalisis lapisan sedimen yang tersimpan dalam tanah dan batuan. Metode ini memungkinkan pemetaan kejadian tsunami yang sudah terjadi ribuan tahun lalu.

Berdasarkan hasil survei lapangan yang dilaksanakan sejak tahun 2006 hingga 2024, tim telah mengidentifikasi lapisan endapan tsunami purba.

Salah satu lapisan diperkirakan berasal dari peristiwa yang terjadi sekitar 1.800 tahun yang lalu. Endapan ini ditemukan tersebar luas di sepanjang wilayah selatan Jawa, meliputi Lebak, Pangandaran, Kulon Progo, hingga Pacitan.

Penemuan endapan tsunami dengan usia yang seragam di berbagai titik di pesisir selatan Jawa mengindikasikan bahwa peristiwa tersebut berskala sangat besar (tsunami raksasa).

Kejadian ini kemungkinan dipicu oleh gempa megathrust dengan magnitudo M9 atau lebih, menyerupai yang terjadi pada bencana tsunami Aceh 2004.

Melengkapi temuan sebelumnya, pada Mei 2025, BRIN melanjutkan kegiatan survei di wilayah selatan Kulon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul.

Fokus pencarian kali ini adalah jejak tsunami yang usianya lebih muda. Hal ini didasarkan pada hipotesis perulangan gempa besar dengan magnitudo di atas M9 di selatan Jawa terjadi sekitar 675 tahun sekali.

“Metode yang kami gunakan melibatkan pengeboran manual, trenching atau penggalian parit, serta pemetaan LiDAR,” jelas Purna.

Purna menambahkan, “Ekspedisi terbaru kami difokuskan untuk menemukan jejak paleotsunami yang umurnya lebih muda dari sekitar 1.800 tahun, tujuannya untuk merekonstruksi berapa kali tsunami raksasa akibat gempa megathrust bermagnitudo lebih dari 9 pernah menghantam selatan Jawa.”

Penemuan Lapisan Pasir Khas Tsunami

Hasil penggalian (trenching) di kawasan Kulon Progo menunjukkan hasil signifikan, yaitu ditemukannya tiga lapisan pasir yang diduga kuat sebagai endapan tsunami purba.

Lapisan-lapisan ini mengandung foraminifera laut dan menunjukkan struktur sedimen khas akibat hempasan gelombang besar.

Purna menerangkan bahwa salah satu lapisan yang ditemukan diduga berasal dari tsunami sekitar 1.800 tahun yang lalu. Ia juga mencatat adanya lapisan-lapisan lain yang umurnya lebih muda, menandakan bahwa tsunami besar kemungkinan telah terjadi berulang kali di kawasan tersebut.

Saat ini, sampel-sampel sedimen tersebut masih dalam tahap analisis mendalam. Beberapa sampel dikirim ke laboratorium di luar negeri untuk analisis penanggalan radiokarbon (radiocarbon dating), guna menentukan waktu pasti kejadian tsunami purba.

“Penemuan paleotsunami ini bukan sekadar arsip akademik. Data ini krusial untuk penyusunan zonasi kawasan rawan bencana, menjadi pertimbangan penting dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan wilayah pesisir, dan meningkatkan kesadaran publik, termasuk latihan evakuasi tsunami (tsunami drill), khususnya di daerah wisata pantai,” tegas Purna.

Ia berharap temuan ilmiah ini dapat menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan berbasis data. Dengan demikian, upaya mitigasi bencana dapat dilaksanakan secara lebih akurat, efektif, dan komprehensif. (*)

Editor : Almasrifah
#gempa bumi #BRIN 2025 #Lempeng Tektonik #tsunami