Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kulat Pelawan: 'Truffle' Indonesia yang Langka dan Bikin Restoran Berbintang Michelin Penasaran

Ari Arief • Senin, 10 November 2025 | 12:14 WIB
INCARAN: Jamur unik yang tumbuh di Indonesia kini jadi incaran dunia.
INCARAN: Jamur unik yang tumbuh di Indonesia kini jadi incaran dunia.

KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Jamur eksotis asal Indonesia, yang dikenal sebagai Kulat Pelawan, kini menjadi buruan restoran mewah, termasuk yang meraih predikat Michelin Star di Singapura dan kota-kota besar Indonesia. Dengan harga yang fantastis, jamur liar ini dijuluki sebagai 'truffle dari Indonesia'.

Kulat Pelawan merupakan salah satu jamur termahal di dunia, dengan harga jual yang bisa mencapai Rp 4 juta per kilogram dalam keadaan kering.

Keistimewaannya terletak pada habitatnya yang sangat terbatas, yakni tumbuh secara liar dan hanya ditemukan di bawah pohon pelawan (Tristaniopsis merguensis) di hutan Bangka Belitung.

Tidak seperti jamur tiram atau jamur kuping, Pelawan tidak dapat dibudidayakan. Jamur ini membutuhkan hubungan simbiosis yang rumit dengan akar pohon pelawan, suatu kondisi lingkungan alami yang gagal ditiru oleh teknologi pertanian modern. Inilah alasan utama mengapa Kulat Pelawan tetap menjadi komoditas liar yang langka.

Masyarakat lokal Bangka percaya bahwa jamur ini hanya muncul setelah ada sambaran petir. Menariknya, mitos ini mulai didukung oleh sains.

Sambaran petir menghasilkan nitrogen di dalam tanah, yang diduga dapat merangsang atau mempercepat pertumbuhan spora jamur.

Kemunculan Kulat Pelawan sangat bergantung pada fenomena alam ekstrem: musim kemarau panjang yang diakhiri hujan deras disertai petir.

Pola kemunculan musiman yang tak terduga inilah yang menjadikan jamur ini sulit diprediksi produksinya, dan hanya bisa dipanen pada waktu-waktu tertentu.

Musim panen biasanya terjadi saat musim hujan, namun sepenuhnya bergantung pada cuaca ekstrem dan kondisi tanah spesifik.

Rasa dan Manfaat Kesehatan Super

Saat masih segar, Pelawan memiliki tudung dengan warna oranye-merah yang mencolok. Ketika dimasak, ia menawarkan kombinasi cita rasa yang unik: aroma smoky alami dengan rasa gurih yang menyerupai kaldu daging, dan tekstur kenyal yang mirip perpaduan jamur kuping dan jamur merang.

Jamur ini menjadi bahan utama dalam hidangan sup, gulai, atau tumisan khas Melayu Bangka.

Penelitian oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) pada keluarga jamur sejenis (Boletus sp.) menunjukkan bahwa Kulat Pelawan sangat kaya nutrisi. Kandungan gizinya meliputi:

Selain itu, Pelawan dominan dalam mineral penting seperti kalium, fosfor, kalsium, zat besi, dan zinc. Dengan kandungan total fenolik yang tinggi, jamur ini berpotensi besar sebagai pangan fungsional.

Senyawa bioaktif seperti flavonoid dan saponin bahkan sedang diteliti sebagai agen imunomodulator dan anti-bakteri alami.

Tantangan Berat dan Ancaman Kepunahan

Tantangan terbesar bagi Kulat Pelawan adalah budidaya. Meskipun riset molekuler telah mengidentifikasi genetiknya, rekayasa untuk meniru lingkungan simbiosis alaminya belum berhasil.

Kondisi ini membuat Pelawan tetap menjadi jamur liar yang sulit 'dijinakkan', mirip dengan sifat truffle Eropa.

Kelangkaan dan ketidakpastian panen membuat harga jamur ini melambung. Versi keringnya bisa menembus Rp4 juta per kilogram, dan harga segar berkisar antara Rp 1-2 juta per kilogram.

Permintaan tinggi dari restoran premium di Jakarta hingga Singapura semakin mendongkrak nilai ekonominya, menjadikannya sumber penghasilan musiman bagi warga Bangka.

Proses pascapanen juga membutuhkan ketelatenan. Jamur yang baru dipetik harus dibersihkan selama 12 hingga 15 jam untuk menghilangkan kotoran.

Kemudian, jamur dikeringkan secara tradisional hingga berbulan-bulan untuk mengunci rasa dan aroma khasnya.

Sayangnya, keberadaan Kulat Pelawan terancam serius oleh deforestasi dan alih fungsi lahan, terutama akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang timah di Bangka.

Kerusakan hutan pelawan dapat menyebabkan kepunahan jamur ini, menghilangkan salah satu kekayaan biodiversitas terunik Indonesia.(*)

Editor : Almasrifah
#restoran #indonesia #dunia #truffle #jamur #Incaran