Menurut dia, harga jual Rp10 ribu per liter yang berlaku sejak 2022 sebenarnya jauh di bawah nilai keekonomian yang sesungguhnya.
Dalam pemaparannya di hadapan Komisi XI DPR, Purbaya menjelaskan bahwa hitungan keekonomian Pertalite saat ini berada di kisaran Rp11.700 per liter. Selisih Rp1.700 per liter itulah yang selama ini dipikul pemerintah melalui skema subsidi energi maupun kompensasi nonenergi.
Ia menyebut, beban subsidi ini tetap dipertahankan agar inflasi tidak melonjak dan daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan, tidak semakin tertekan. Pemerintah menilai penyesuaian harga Pertalite belum mendesak, mengingat tekanan ekonomi global masih terasa.
Sementara itu, PT Pertamina (Persero) resmi menetapkan daftar harga baru untuk BBM nonsubsidi mulai 1 Desember 2025. Pembaruan tarif dilakukan sebagai penyesuaian terhadap pergerakan harga minyak mentah dunia serta kurs rupiah.
Di wilayah DKI Jakarta, harga Pertamax kini mencapai Rp12.750 per liter, Pertamax Green 95 dipatok Rp13.500, dan Pertamax Turbo naik menjadi Rp13.750 per liter. Untuk produk diesel nonsubsidi, Dexlite dijual Rp14.700, sedangkan Pertamina Dex menyentuh Rp15.000 per liter.
Adapun dua jenis BBM bersubsidi, yakni Solar dan Pertalite, dipastikan tidak mengalami perubahan harga. Keduanya tetap berada di angka Rp6.800 dan Rp10.000 per liter, sesuai kebijakan stabilisasi pemerintah.
Penyesuaian harga diikuti pula oleh operator SPBU lainnya seperti BP-AKR, Shell, dan Vivo yang menerapkan tarif baru untuk produk-produk RON 92 hingga diesel berkualitas tinggi.
Editor : Uways Alqadrie