Remaja yang berdomisili di Kelurahan Plamongansari, Kecamatan Pedurungan, Semarang, itu meninggal setelah menjadi korban pengeroyokan di tengah aktivitas balapan liar pada Jumat dini hari, 26 Desember 2025.
Menurut keterangan organisasi, peristiwa bermula ketika Bimo bersama sejumlah rekan pulang dari kegiatan temu anggota Pagar Nusa lintas daerah yang digelar di Lapangan Pucang Gading, Kecamatan Mranggèn, Demak, Kamis malam. Sekitar pukul 00.00 WIB, rombongan bergerak ke arah Karangawen.
Saat melintas di Jalan Brigjen Sudiarto, mereka diduga dikejar sekelompok pemuda yang tengah melakukan balapan pembohong dan sempat melempari batu.
Kejar-kejaran berlanjut hingga kawasan flyover Ganefo. Di lokasi itu, sepeda motor yang dikendarai Bimo ditendang dari belakang hingga ia terjatuh. Setelah terjatuh, korban disebut langsung dikeroyok puluhan orang. Bimo mengalami pukulan dan tendangan bertubi-tubi, bahkan diduga dipukul menggunakan papan skateboard hingga tak sadarkan diri.
Polisi yang tiba di lokasi membawa korban ke Rumah Sakit Pelita Anugerah Mranggèn. Namun, nyawa Bimo tidak tertolong. Jenazah korban dimakamkan pada hari Jumat sore. Peristiwa tersebut memicu terjadinya mendalam di lingkungan Pagar Nusa dan keluarga besar Nahdlatul Ulama.
Dalam pernyataan yang disampaikan di Polres Demak, Sabtu, 27 Desember 2025, Pagar Nusa Semarang dan Demak meminta kepolisian segera menangkap para pelaku pengeroyokan.
Mereka juga mendesak aparat menertibkan dan membubarkan aktivitas balapan liar yang sering terjadi di sejumlah titik di wilayah Semarang dan Demak karena dinilai membahayakan keselamatan masyarakat.
Editor : Uways Alqadrie