Kondisi itu bahkan memaksa sebagian relawan kesehatan memilih jalur memutar melalui Malaysia demi mendapatkan tarif yang lebih terjangkau.
Keluhan soal tiket pesawat sebenarnya bukan isu baru bagi warga Aceh. Pada Senin, 12 Januari 2026, harga tiket penerbangan langsung dari Lhokseumawe ke Jakarta tercatat mencapai Rp 3,38 juta.
Sementara penerbangan singkat sekitar 40 menit dari Lhokseumawe ke Medan dibanderol lebih dari Rp 1,5 juta.
Warga Aceh Utara, Zulfikar mengatakan tingginya harga tiket telah berlangsung bertahun-tahun tanpa solusi berarti.
Menurut dia, keluhan masyarakat kerap tidak direspons, bahkan saat Aceh berada dalam situasi darurat akibat bencana.
“Kami sudah lama merasakan mahalnya tiket. Tapi sampai sekarang tidak ada perubahan,” ujarnya.
Ia juga membandingkan tarif Lhokseumawe–Medan dengan rute serupa di daerah lain yang umumnya hanya berkisar Rp 500 ribu. Ketimpangan harga itu membuat perjalanan udara dari Aceh terasa tidak masuk akal secara ekonomi.
Pengamat ekonomi Universitas Malikussaleh, Halida Bahri, menilai mahalnya tiket disebabkan minimnya persaingan maskapai. Rute Lhokseumawe–Medan, kata dia, hanya dilayani satu operator penerbangan sehingga harga cenderung bertahan di batas tarif atas.
“Secara aturan mungkin tidak melanggar, tapi dampaknya masyarakat menjerit,” kata Halida.
Ia menambahkan, kondisi tersebut mendorong warga Aceh lebih memilih bepergian ke Malaysia untuk berobat maupun berwisata karena biaya perjalanan dinilai jauh lebih murah dibanding ke kota-kota lain di Indonesia.
Sebelumnya, Budi Gunadi Sadikin menyampaikan persoalan ini dalam pertemuan dengan Wakil Ketua DPR RI di Banda Aceh. Ia mengungkapkan banyak relawan kesehatan terpaksa menggunakan rute Jakarta–Malaysia–Aceh agar biaya perjalanan bisa ditekan.
Editor : Uways Alqadrie