Peristiwa terjadi sekitar pukul 16.30 WIB ketika warga menggabungkan dua perahu kecil untuk membawa satu set sound system lengkap beserta genset. Beban berat yang mencapai sekitar satu ton ditambah belasan orang di atas perahu membuat salah satu perahu kehilangan keseimbangan.
Baca Juga: Mayat Pria Asal Tangerang Ditemukan di Kamar Kos Bandarlampung, Kepala Terbungkus Lakban
Kasat Polairud Polresta Sidoarjo AKP Imam Yuwono menjelaskan, getaran dari perangkat suara serta kapasitas muatan yang berlebihan menjadi penyebab utama insiden tersebut.
“Perahunya digabung dua, dipakai membawa sound, speaker dan genset. Karena bebannya berat dan ada getaran, salah satu perahu miring lalu tenggelam,” ungkap Imam, Minggu (8/2/2026).
Selain peralatan, sekitar 10 orang diketahui berada di atas perahu sambil berjoget mengikuti alunan musik. Kondisi tersebut membuat perahu tidak mampu menahan beban dan akhirnya karam di aliran Sungai Balongdowo.
Seluruh perlengkapan sound system, lighting, dan genset sempat terendam air sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh warga dan petugas. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Imam menyebut, insiden perahu sound horeg tenggelam bukan kali pertama terjadi dalam tradisi tahunan tersebut. Dalam dua tahun sebelumnya, kejadian serupa juga tercatat terjadi di lokasi berbeda.
“Sudah tiga kali kejadian dalam pelaksanaan Nyadran. Tahun-tahun lalu juga perahu pengangkut sound mengalami hal yang sama,” katanya.
Kapolsek Candi Kompol Septiawan Adi Prihartono memastikan situasi telah terkendali dan seluruh peralatan berhasil diamankan.
“Tidak ada korban jiwa. Perahu dan alat sudah dievakuasi,” jelasnya.
Meski sempat diwarnai kecelakaan, rangkaian Tradisi Nyadran tetap dilanjutkan. Kepolisian kembali mengingatkan panitia dan warga agar memperhatikan faktor keselamatan, khususnya kapasitas perahu dan beban muatan.
“Kami hanya bisa mengimbau agar ke depan menggunakan perahu yang layak dan kuat, supaya kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.
Editor : Uways Alqadrie