Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

TNI Akui Terapkan Hukuman Fisik bagi Peserta Latsarmil Pengelola Kopdes yang Melanggar Disiplin

Dwi Puspitarini • Jumat, 26 Juni 2026 | 05:53 WIB
Peserta Latsarmil SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. (Instagram/@kemhanri)
Peserta Latsarmil SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. (Instagram/@kemhanri)

KALTIMPOST.ID - TNI mengakui memberikan hukuman fisik kepada peserta latihan dasar militer (latsarmil) yang dipersiapkan menjadi pengelola Koperasi Desa Merah Putih apabila melanggar aturan kedisiplinan selama pendidikan.

Hukuman tersebut diberikan dalam bentuk latihan fisik ringan, seperti push up, dengan tujuan menanamkan disiplin, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap tata tertib.

TNI menegaskan bahwa bentuk hukuman yang diterapkan telah disesuaikan dengan kemampuan fisik peserta dan tidak menggunakan standar yang berlaku bagi prajurit aktif.

Hukuman Fisik Diterapkan untuk Membentuk Kedisiplinan Peserta

Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, menjelaskan bahwa pelanggaran sederhana, seperti terlambat mengikuti apel pagi, menjadi salah satu alasan peserta menerima hukuman fisik. Menurutnya, langkah tersebut bertujuan membangun kebiasaan disiplin selama mengikuti pendidikan.

Agus mengatakan peserta yang datang terlambat umumnya diberikan hukuman berupa push up sebanyak 10 hingga 15 kali. Hukuman itu dimaksudkan sebagai bentuk pembinaan agar peserta tidak mengulangi kesalahan yang sama.

"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kita berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Komandan Batalyon Latihan SPPI KDKMP dan KNMP di Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, di Markas Marinir Cilandak, Jakarta Timur, Kamis (25/6), dilansir dari CNN, Jumat (26/6).

Selain keterlambatan saat apel, peserta yang tidak mengikuti makan bersama juga dapat dikenai hukuman. Menurut Agus, makan merupakan bagian penting dalam menjaga kondisi fisik peserta selama menjalani pendidikan sehingga tidak boleh diabaikan.

"Kita juga lakukan hukuman secara kolektif, contohnya tidak makan. Karena makan adalah untuk meningkatkan kemampuan kita, kalau tidak makan atau tidak bersama-sama yang lain, kita kasih hukuman supaya besok tidak mengulang lagi," ujar Agus.

Meski demikian, TNI memastikan bentuk hukuman yang diberikan tetap mempertimbangkan kondisi fisik peserta. Standar latihan yang diterapkan tidak disamakan dengan pendidikan militer bagi prajurit sehingga tetap disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.

Selain memberikan sanksi, pelatih juga menyiapkan penghargaan bagi peserta yang menunjukkan prestasi selama mengikuti latihan. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan semangat peserta dalam menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan.

Peserta dengan Riwayat Penyakit Tidak Diikutkan Latihan Fisik Berat

TNI juga memastikan peserta yang memiliki riwayat penyakit kronis atau gangguan kesehatan tidak diwajibkan mengikuti latihan fisik di lapangan. Mereka dipisahkan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan sebelum pendidikan dimulai agar tetap dapat mengikuti program secara aman.

"Yang memiliki riwayat kronis atau sakit berat kita pisahkan sampai dengan tingkat peleton dan kompi. Supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang berkaitan dengan fisik tidak kita ikutkan," kata Agus.

Peserta yang memiliki kondisi kesehatan tertentu tetap mengikuti materi pembelajaran di dalam kelas. Sementara untuk kegiatan lapangan, peserta lain menjalani berbagai latihan, mulai dari apel pagi, peraturan baris-berbaris (PBB), hingga latihan menembak yang menjadi bagian dari pembekalan dasar militer.

"Termasuk nanti di minggu ketiga kita akan melatih menembak perorangan di lapangan yang sudah kita siapkan. Jadi mereka punya dasar-dasar militer yang sekiranya bisa buat bekal dalam menuju penugasan berikutnya," ujarnya.

Hingga saat ini, seluruh rangkaian latihan dasar militer disebut berjalan aman dan kondusif. TNI berharap seluruh peserta dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik serta memperoleh bekal disiplin, nasionalisme, dan keterampilan dasar yang bermanfaat saat menjalankan tugas sebagai pengelola Koperasi Desa Merah Putih.

Sebanyak 674 peserta latsarmil dari SPPI mengikuti pendidikan selama sekitar satu setengah bulan di Markas Pasmar I Cilandak, Jakarta. Seluruh peserta dibagi ke dalam empat kompi dan menjalani berbagai materi yang dirancang untuk membentuk karakter disiplin serta meningkatkan kesiapan mereka dalam menjalankan penugasan.(*)

Editor : Dwi Puspitarini
#SPPI #Latsarmil #Hukuman Fisik #Pengelola Kopdes #tni