​Tragedi Siswi SD 10 Tahun di Padang Meninggal Diduga Jadi Korban Bullying

Ilmidza • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 19:23 WIB
Ilustrasi siswi jadi korban bullying.
Ilustrasi siswi jadi korban bullying.

KALTIMPOST.ID, Kasus dugaan perundungan di lingkungan sekolah kembali memakan korban jiwa. Seorang siswi berusia 10 tahun berinisial NH, murid kelas 3 SD Negeri 33 Rawang, Padang Selatan, Kota Padang, mengembuskan napas terakhirnya pada Kamis (23/7/2026) sore. Ia meninggal dunia setelah mengalami sakit parah pada bagian pinggang yang diduga akibat tindakan kekerasan dari rekan sekelasnya.

​Ayah korban, Wahid Al Amin, mengonfirmasi kabar duka tersebut. Ia menjelaskan bahwa putri kecilnya meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit karena kondisinya yang terus menurun. Menurut keterangan Wahid, insiden perundungan fisik itu terjadi pada Senin (20/7/2026) pagi di dalam ruang kelas, berdasarkan kesaksian saudara kembar NH yang bersekolah di tempat dan kelas yang sama.

​Seusai sekolah pada hari kejadian, NH pulang dalam kondisi lemas, pucat, dan ketakutan. Keluarga baru menyadari adanya kejanggalan pada Selasa (21/7/2026) setelah korban mulai mengeluhkan nyeri hebat di area pinggang. Meski sempat diobati secara herbal dan dibawa ke tukang urut, kondisi NH tidak kunjung membaik.

​Kesehatannya kian memburuk hingga pada Rabu (22/7/2026), keluarga berhasil membujuk korban untuk menceritakan perlakuan fisik yang diterimanya dari dua teman sekolahnya. Puncaknya pada Kamis sore, NH tidak sadarkan diri hingga akhirnya meninggal dunia sebelum sampai di rumah sakit. Jenazah korban telah dimakamkan di TPU Tunggul Hitam pada Jumat (24/7/2026).

​Wahid mengungkapkan bahwa perlakukan buruk yang menimpa anaknya disinyalir sudah terjadi berulang kali oleh pelaku yang sama sejak korban duduk di kelas 2 SD. Pihak keluarga menyayangkan sikap sekolah yang dinilai lambat dan kurang tegas merespons laporan perundungan yang telah berulang kali mereka sampaikan.

​Menanggapi tuduhan tersebut, Kepala SD Negeri 33 Rawang, Siptah Hayadi, membantah adanya aksi perundungan yang berujung fatal di sekolahnya. Berdasarkan hasil investigasi internal, pihak sekolah mengklaim tidak menemukan bukti yang mendukung pernyataan orang tua korban.

​Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Padang mengambil sikap hati-hati dan belum menarik kesimpulan. Guna mengusut tuntas peristiwa ini serta meluruskan perbedaan informasi yang beredar, Disdikbud berencana memanggil pihak kepala sekolah beserta jajaran guru untuk dimintai keterangan secara rinci.

Editor : Ilmidza
kasus bullying