
Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Saat ini, kaum pemuda bisa melontarkan aspirasi melalui pelbagai kanal. Tinggal dipilah dan dipilih mana yang sesuai selera. Saat ini, setiap dari kita selaku pemuda memiliki kesempatan yang sama untuk menyalurkan pemikiran, gagasan, dan kritikan kepada pemerintah.
Melalui konten berupa tulisan, gambar, grafik, video, dan semacamnya, kita bisa mengawasi dan sekaligus mengecam pejabat publik yang semena-mena terhadap kita sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Dengan begitu, kontrol sosial dalam alam demokrasi menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditanggalkan begitu saja.
Jika tidak, bersiap-siaplah menerima keputusan, aturan, dan program dari pemerintah yang tidak pro-rakyat. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk terus menerus dipimpin oleh orang-orang yang menodai sumpah jabatannya.
Persoalannya, apakah pemuda sekarang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap situasi dan kondisi negeri? Apakah pemuda kini memiliki empati yang tinggi terhadap ragam persoalan yang sedang menimpa tanah airnya? Kesadaran akan pentingnya peran pemuda sebagai kontrol sosial akan menggerakkan kita untuk lebih proaktif mencari cara dan solusi dalam rangka menjadi problem solver.
Pemuda, dalam hal ini, tidak hanya berpangku tangan, tetapi juga memiliki tekad yang berkobar-kobar dalam jiwa untuk mendharmabaktikan diri sepenuhnya pada Ibu Pertiwi. Kesadaran ini tidak serta-merta didapatkan begitu saja. Faktor teman, lingkungan, bacaan, pendidikan, guru/mentor, dan pengalaman hidup, saya rasa, ikut membentuk kesadaran itu.
Kesadaran ini perlu ditumbuhkembangkan detik ini juga. Masa muda hanya sekali seumur hidup. Spirit perjuangan yang masih menyala-nyala menjadi modal berharga dalam mengakselerasi pembangunan nasional di berbagai bidang. Terutama dalam catatan ini, saya lebih menekankan lagi bahwa pemuda menjadi kekuatan moral dan sekaligus penjaga nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terutama lagi, ikut mengawasi jalannya tata kelola pemerintahan yang akhir-akhir ini kerap kali mendapatkan sorotan tajam dari publik. Mulai dari kasus korupsi kelas kakap yang melibatkan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) hingga pembangunan beberapa Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang dinilai tidak strategis dan cenderung menghambur-hamburkan anggaran negara.
Di situlah peran penting kaum muda, yakni bagaimana menjadi corong publik terkait pelaksanaan program prioritas presiden yang acap kali janggal dan tidak sesuai dengan harapan. Ditambah lagi, baru-baru ini, Presiden Prabowo mengumumkan akan mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) di beberapa wilayah.
Pimpinannya pun, dalam hal ini Gubernur URI, sudah dilantik, yakni Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan. Pelantikan tersebut menuai polemik sebab Donny tidak melepas jabatannya sebagai Wamenhan. Publik khawatir hal itu justru akan mengganggu kinerjanya. Perihal URI ini, sumber pendanaannya berasal dari APBN. Lalu, bagaimana dengan semangat efisiensi yang selama ini digembor-gemborkan pemerintah?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




