Fenomena Bediding Landa Indonesia, Suhu Dieng Anjlok Hingga Hampir 0 Derajat Celcius

Ari Arief • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14 WIB
DINGIN: Suhu minus 3 derajat celsius di kawasan Gunung Dieng.(ANT)
DINGIN: Suhu minus 3 derajat celsius di kawasan Gunung Dieng.(ANT)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Dalam beberapa pekan terakhir, penurunan suhu udara yang signifikan pada malam hingga pagi hari melanda sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Fenomena fenomena suhu dingin yang kerap dikenal masyarakat sebagai bediding (atau bedhidhing dalam bahasa Jawa) ini paling dirasakan di kawasan dataran tinggi dan pegunungan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah wilayah dataran tinggi bahkan mengalami penurunan suhu minimum yang sangat ekstrem.

Baca Juga: Sah! Teddy Pardiyana Resmi Jadi Ahli Waris Mantan Istri Sule, Permohonan Banding Dikabulkan Pengadilan

"Data AWS BMKG mencatat, suhu di Bromo menyentuh angka 3,9 derajat Celcius pada tanggal 11 Juni kemarin. Tapi Dieng juaranya, suhunya hampir menyentuh titik beku di angka 0,7 derajat Celcius," tulis BMKG melalui akun Instagram resminya, Selasa (28/7/2026).

BMKG menambahkan, tingginya intensitas udara dingin ini sampai memicu fenomena alam yang unik di kawasan pegunungan. Di dataran tinggi seperti Gunung Bromo, tetesan air embun yang menempel pada dedaunan dilaporkan membeku menjadi kristal es hingga tampak menyerupai hamparan salju.

Baca Juga: Jadwal Lengkap Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Catat Tanggal Main dan Jam Tayangnya!

Kondisi tersebut diperkuat oleh penjelasan Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Dr. Givo Alsepan. Menurutnya, udara dingin akan terasa jauh lebih nyata di kawasan pegunungan karena selain dipengaruhi faktor elevasi (ketinggian), massa udara dingin juga memiliki kecenderungan alami untuk mengalir dan berkumpul di wilayah lembah.

Di kawasan tertentu seperti Dataran Tinggi Dieng, kombinasi faktor ini secara berkala memicu terbentuknya embun beku atau yang dikenal warga lokal sebagai embun upas.

Baca Juga: Kronologi Penembakan Brutal di Bangkalan: Pria Dikepung 10 Mobil, Dua Kendaraan Rusak Diberondong Peluru

Penyebab Fenomena Bediding

BMKG menjelaskan, terjadinya fenomena bediding dipicu oleh pergerakan Monsun Australia. Angin musiman yang bersifat kering ini bertiup membawa massa udara dingin serta secara signifikan mengurangi pembentukan awan di langit wilayah Indonesia.

Baca Juga: Viral! Tertangkap Ketahuan Bawa Paket Narkoba, Kucing Ini Akhirnya Dilepas Petugas

Minimnya tutupan awan menyebabkan radiasi panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari terlepas secara bebas dan cepat ke atmosfer pada malam hari. Proses Pelepasan panas tanpa "selimut" awan inilah yang membuat suhu udara merosot tajam menjelang pagi hari.

Berdasarkan historis data meteorologi BMKG dalam 10 tahun terakhir, fenomena penurunan suhu udara ini umumnya mulai terasa sejak masuk bulan Juli dan mencapai puncaknya sepanjang Juli hingga Agustus.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
dieng bmkg bromo bediding