BMKG Rilis Daftar Wilayah Puncak Musim Kemarau Agustus 2026

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 06:51 WIB
Ilustrasi musim kemarau.
Ilustrasi kondisi lahan yang mengering saat puncak musim kemarau Agustus 2026 di sejumlah wilayah Indonesia.

KALTIMPOST.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan puncak musim kemarau Agustus 2026 akan terjadi di hampir separuh wilayah Indonesia. Kondisi ini tidak hanya membawa cuaca yang lebih kering, tetapi juga meningkatkan potensi kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah daerah.

Dalam proyeksi terbaru, puncak musim kemarau Agustus 2026 diperkirakan mencakup sekitar 48,84 persen wilayah daratan Indonesia. Memasuki September, wilayah yang mencapai puncak kemarau diperkirakan masih cukup luas, yakni sekitar 25,41 persen dari total daratan.

BMKG mencatat hingga pertengahan Juli 2026 sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sementara 77 ZOM masih berada pada musim hujan dan 113 ZOM lainnya termasuk wilayah bertipe satu musim.

Baca Juga: Rekomendasi 10 Tempat Camping Terbaik di Indonesia, Nomor 10 Jadi Favorit Pemburu Sunrise

Daftar Wilayah yang Memasuki Puncak Musim Kemarau Agustus 2026

Pada Agustus, wilayah yang diperkirakan mengalami puncak musim kemarau meliputi:

·         Sumatra bagian tengah

·         Sebagian besar Pulau Jawa

·         Bali

·         Nusa Tenggara Barat

·         Sebagian Nusa Tenggara Timur

·         Sebagian besar Kalimantan

·         Sebagian Sulawesi

·         Sebagian Maluku dan Maluku Utara

·         Sebagian besar Pulau Papua

Baca Juga: Kulit Mendadak Gatal? Bisa Jadi Kamitetep Penyebabnya, Kenali Tanda-Tandanya

Wilayah yang Mengalami Puncak Kemarau pada September 2026

BMKG juga memperkirakan sejumlah daerah baru mencapai puncak musim kemarau pada September, yaitu:

·         Kepulauan Bangka Belitung

·         Sebagian besar Sumatra Selatan

·         Lampung

·         Sebagian kecil Pulau Jawa

·         Sebagian besar Nusa Tenggara Timur

·         Kalimantan bagian selatan

·         Sebagian besar Sulawesi

·         Sebagian besar Maluku Utara

·         Sebagian Maluku

·         Papua Pegunungan bagian tengah

Baca Juga: Pria Sulit Punya Anak? Program Hamil Tak Kunjung Berhasil? Dokter Ungkap 4 Penyebabnya

BMKG Minta Waspada Kekeringan dan Karhutla

Seiring memasuki puncak musim kemarau, BMKG mengingatkan pemerintah daerah maupun masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.

Wilayah yang dinilai memiliki tingkat risiko tinggi meliputi:

·         Riau

·         Sumatra Selatan

·         Jambi

·         Kalimantan Barat

·         Kalimantan Tengah

·         Papua Selatan

Hingga 29 Juli 2026, BMKG mendeteksi sebanyak 5.019 titik panas. Jumlah terbanyak ditemukan di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau. Selain itu, partikulat asap akibat karhutla juga telah terpantau di Kalimantan Barat.

Musim Kemarau Diperkirakan Lebih Panjang

Selain lebih kering, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

Sebanyak 437 Zona Musim atau sekitar 48,77 persen wilayah daratan Indonesia diproyeksikan mengalami musim kemarau dengan durasi lebih panjang. Curah hujan dengan kategori tinggi diperkirakan baru mulai meningkat secara bertahap pada Oktober hingga November 2026.

BMKG juga mencatat beberapa daerah telah mengalami hari tanpa hujan dalam durasi yang cukup panjang. Rekor terlama tercatat di Pos Hujan Katerban, Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, dengan 80 hari tanpa hujan.

BMKG memperkirakan fenomena El Nino masih akan berlangsung setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027. Bahkan, intensitasnya berpotensi melampaui kategori kuat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa indeks bulanan Niño 3.4 pada akhir Juni telah mencapai angka 1,56. Nilai tersebut sudah berada di atas ambang batas El Nino kategori kuat.

"Namun, perlu digarisbawahi bahwa dampaknya ke Indonesia terjadi ketika El Niño bertemu langsung dengan musim kemarau," kata Ardhasena dalam keterangan resmi BMKG, dilansir dari CNN, Minggu (2/8/2026)

"Meskipun El Niño terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya terfokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia," tambahnya.

Selain pengaruh El Nino, BMKG juga mengingatkan adanya peluang munculnya fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026.

Saat ini suhu permukaan laut di Samudra Hindia tercatat berada pada angka -0,387. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan peluang yang cukup besar bagi terbentuknya IOD positif, yang berpotensi memperparah kondisi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia selama musim kemarau berlangsung.***

Editor : Dwi Puspitarini
Sumber : CNN
puncak musim kemarau Agustus 2026 wilayah puncak musim kemarau kekeringan dan karhutla musim kemarau 2026 bmkg