Eks Mendag Lutfi Bongkar Dugaan Campur Tangan Singapura di Balik Ancaman MSCI

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:18 WIB
Ilustrasi Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNBC INdonesia)
Ilustrasi Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (CNBC INdonesia)

KALTIMPOST.ID - Mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyoroti langkah MSCI yang membuka peluang menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Lutfi menduga ada campur tangan pihak Singapura di balik ancaman tersebut.

Menurut Lutfi, dua institusi investasi asal Singapura, Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), memegang pengaruh kuat di tubuh MSCI. Ia bahkan membeberkan informasi internal terkait upaya penekanan yang dilakukan pihak GIC terhadap MSCI demi memicu kepanikan investor.

"Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujar Lutfi melalui akun Instagram pribadinya, Selasa (20/10/2026), dilansir dari Detikfinance.

Baca Juga: Viral Rumor Meninggal Dunia, Kim Jong Un Justru Tampil Tinjau Pameran di Pyongyang

Lutfi menilai status Standalone Market lazimnya hanya disematkan pada negara yang memberlakukan pembatasan arus modal atau capital control. Kebijakan semacam itu sama sekali tidak diterapkan di Indonesia.

Ia menduga isu transparansi sejumlah emiten konglomerasi nasional sengaja diembuskan sekadar sebagai dalih. Tujuan utamanya adalah membuka jalan bagi investor asing agar dapat kembali mengoleksi saham-saham unggulan Indonesia dengan valuasi murah.

Lutfi memaparkan sekitar 80 persen dana asing yang telah keluar dari pasar modal domestik beberapa waktu lalu ternyata belum berhasil menjatuhkan harga saham sesuai target investor asing. Kondisi tersebut memicu skenario baru untuk mengguncang bursa saham nasional.

Baca Juga: Evaluasi 2 Tahun Prabowo-Gibran, PKS Desak Perbaikan MBG dan Soroti Ijazah Gibran

"Jadi, bagaimana caranya supaya mereka bisa masuk lagi? Mereka tekan MSCI untuk mengancam turunkan kasta Indonesia ke Standalone Market, bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok. Lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon," kata Lutfi.

Menyikapi tekanan tersebut, Lutfi meminta publik tidak mudah terprovokasi oleh manuver sentimen dari negara tetangga. Baginya, polemik ini bukan sekadar dinamika pergerakan indeks bursa, melainkan pertaruhan kontrol atas aset dan kekayaan nasional, serupa dengan pola isu kebakaran hutan dan lahan yang kerap melibatkan pihak Singapura.

"Jadi, buat bangsa Indonesia, jangan mau kita diadu-adu, dibuat minder oleh negara tetangga. Ini soal siapa memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik. Kita jaga harga diri bangsa kita sendiri," tegasnya.***

Editor : Dwi Puspitarini
Muhammad Lutfi GIC Temasek pasar modal indonesia MSCI singapura