KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Beberapa hari lalu, dunia olahraga di Kaltim dikejutkan dengan peristiwa pilu. Dua orang meninggal dunia dalam waktu berdekatan, setelah berolahraga.
Pertama Junaidi. Ketua DPRD Kutai Kartanegara itu dinyatakan meninggal setelah sempat kolaps selepas bermain bulu tangkis. Beberapa jam sebelumnya, ada Juliansyah, yang meninggal akibat kelelahan saat membela tim tenis Paser dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) III/2024 Kaltim di Paser.
Hal tersebut kemudian menjadi atenis Perhimpunan Pemerhati Kesehatan Olahraga Indonesia (PP Kori). Sang ketua, M Sadik Sahil mengatakan, hal tersebut menjadi peringatan dini untuk seluruh insan olahraga. Dia menekankan betapa pentingnya mempersiapkan diri sebelum berjibaku dalam aktivitas berintensitas tinggi seperti olahraga.
“Para pelaku olahraga, atlet maupun bukan, harus mawas diri dengan kondisi tubuhnya sebelum beraktivitas. Sebab, olahraga itu merupakan aktivitas berat. Apalagi olahraga tersebut berkaitan dengan kompetisi yang membuat seseorang harus terus dalam keadaan prima agar lebih unggul dari lawannya,” jelas Sadik.
Apalagi, bila melihat dua kasus tersebut, mereka yang meninggal berusia di atas 40 tahun. Sudah tentu mereka harus menaruh perhatian lebih besar terhadap kebugaran fisik sebelum beraktivitas olahraga. “Intinya, segala sesuatu itu kembali pada kondisi kesehatan. Jadi, sejauh mana atlet-atlet ini mempersiapkan diri dan memastikan kondisi kesehatannya dalam keadaan bugar,” ucapnya.
Dia pun menyarankan agar para pelaku olahraga bisa lebih arif dalam memilih jenis olahraga yang akan digeluti. “Apalagi sudah di atas 40 tahun. Kalau sudah ada dasar atlet atau sudah terbiasa menjaga kebugaran, masih tidak masalah. Tetapi untuk yang jarang olahraga kemudian melakukan aktivitas berat, itu sangat berisiko. Jadi, harus lebih bijak dalam memilih jenis olahraganya,” jelas dia.
Selain dari sisi atlet, dia juga mengingatkan para penyelenggara kegiatan olahraga agar bisa menaruh perhatian yang lebih besar kepada ketersediaan perangkat kesehatan berupa tim medis. Tentu tidak ada yang ingin masalah terjadi. Tetapi kehadiran tim medis adalah langkah terbaik untuk meredam risiko yang lebih besar.
“Karena tim kesehatan itu pasti punya kapabilitas untuk mengambil tindakan dalam kondisi darurat. Sehingga hal-hal yang berisiko memperburuk kondisi penderita keadaan darurat bisa dicegah,” tegas Sadik. (*)
Editor : Ery Supriyadi