KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) KONI Kalimantan Timur pasca-Lebaran, bursa calon ketua mulai menghangat. Sejumlah nama mencuat, salah satunya inisial S yang santer dikaitkan dengan Sapto Setyo Pramono.
Namun, isu tersebut langsung dibantah Sapto. Ia menegaskan tidak memiliki rencana untuk maju sebagai ketua KONI Kaltim periode 2026–2030.
Sapto yang dikenal sebagai politisi senior Partai Golkar ini saat ini menjabat Wakil Ketua Komisi II dan Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Kaltim. Menurutnya, kabar pencalonan itu tidak benar dan berkembang tanpa konfirmasi.
Baca Juga: Misteri Samarinda: Dulu, Kini dan Nanti
Sapto mengakui bahwa secara administratif dirinya memenuhi seluruh persyaratan pencalonan sesuai AD/ART dan Peraturan Organisasi KONI. Saat ini, ia juga menjabat ketua Federasi Kurash Indonesia Kaltim.
“Tidak benar saya akan maju. Dari sisi persyaratan memang saya cukup. Pernah menjadi ketua pengprov satu periode, memimpin PBVSI Kaltim, dan menjadi pengurus KONI Kaltim,” ujarnya.
Meski memiliki pengalaman panjang di dunia olahraga dan legislatif, Sapto memilih tetap berada di posisi yang sekarang. Ia menyatakan tidak tertarik ikut dalam kontestasi pemilihan ketua.
Baca Juga: Belajar dari Tragedi Anak SD di NTT, Disdikbud Kaltim Pastikan 63 Ribu Siswa Dapat Seragam Gratis
Lebih jauh, Sapto menilai membangun prestasi olahraga Kalimantan Timur bukan perkara sederhana. Menurutnya, siapa pun boleh mencalonkan diri selama memenuhi syarat, tetapi kompetensi dan pengalaman menjadi faktor penentu.
“Ketua KONI itu harus benar-benar paham mengelola olahraga. Bukan hanya ingin menjabat, lalu kebingungan menentukan arah setelah terpilih,” katanya.
Keputusan untuk tidak maju, lanjut Sapto, justru didasari pemahamannya atas kompleksitas mengelola prestasi olahraga daerah. Ia menilai tanggung jawab tersebut sangat besar dan menuntut kesiapan penuh.
Baca Juga: Kasus Pencabulan Anak di Melak Naik Tahap, Polres Kubar Limpahkan Tersangka ke Kejaksaan
“Karena itu, meskipun saya memenuhi syarat, saya memilih tidak mencalonkan diri. Saya tahu betul rumitnya mengelola prestasi olahraga,” pungkasnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan tersirat bagi kandidat lain agar tidak sekadar mengandalkan ambisi. Dengan mundurnya nama Sapto dari bursa calon, perhatian publik olahraga Kaltim kini mengarah pada figur-figur lain yang mulai bergerak dan melakukan lobi menjelang Musorprov. (*)
Editor : Ery Supriyadi