KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Penajam Paser Utara (PPU) menghadapi tantangan besar usai ditunjuk sebagai tuan rumah Kejuaraan Daerah (Kejurda) Kelompok Umur Panjat Tebing Kaltim 2028.
Masalahnya, hingga kini PPU bahkan belum memiliki venue panjat tebing yang representatif.
Penunjukan tersebut merupakan hasil rapat kerja (Raker) FPTI Kaltim 2025. Bagi FPTI PPU, kepercayaan itu menjadi kebanggaan sekaligus pekerjaan rumah yang tak bisa ditunda.
Ketua FPTI PPU, Abdu Cholik, mengatakan kondisi fasilitas saat ini masih jauh dari ideal untuk menggelar event tingkat daerah. Karena itu, dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
“PPU sudah ditunjuk sebagai tuan rumah Kejurda Kelompok Umur tahun 2028. Sementara fasilitas kami belum ada. Jadi kami sangat berharap pemerintah daerah bisa segera memfasilitasi,” ujarnya.
Saat ini, atlet panjat tebing PPU masih berlatih dengan sarana terbatas dan belum memiliki sport climbing center sendiri. Kondisi tersebut dinilai kontras dengan tanggung jawab besar sebagai calon penyelenggara kejuaraan.
Abdu menegaskan, penunjukan sebagai tuan rumah seharusnya menjadi momentum pemerintah daerah untuk lebih serius melihat kebutuhan cabang olahraga panjat tebing, terutama pembangunan venue baru.
Baca Juga: Kutim Lampaui Target di Kejurprov, Pembinaan Matang Jadi Kunci Dominasi Panjat Tebing
“Karena sudah ada penunjukan, ya maunya segera. Jangan sampai kita jadi tuan rumah tapi fasilitas dasarnya belum siap,” katanya.
FPTI PPU mengaku telah lebih dulu menyampaikan usulan pembangunan melalui KONI Penajam. Namun, hingga kini proses tersebut masih sebatas pengajuan.
“Tahun ini kami sudah usulkan lewat KONI. Kalau langsung ke bupati memang belum, tapi dalam waktu dekat kami ingin audiensi,” ungkapnya.
Langkah audiensi ke kepala daerah dinilai penting agar pembangunan venue tak berhenti di meja proposal. Terlebih, waktu menuju 2028 dinilai tidak panjang jika pembangunan ingin benar-benar matang.
Bagi FPTI PPU, Kejurda 2028 bukan hanya soal status penyelenggara, tetapi peluang membangun ekosistem olahraga panjat tebing dari akar.
“Tanpa venue yang representatif, PPU bukan hanya berisiko kesulitan sebagai tuan rumah, tetapi juga kehilangan momentum membina atlet lokal yang saat ini mulai tumbuh,” tutupnya. (*)
Editor : Duito Susanto