BALIKPAPAN – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim mendorong seluruh cabang olahraga (cabor) menerapkan pendekatan sport science dalam pembinaan atlet. Langkah tersebut dinilai penting agar proses latihan tidak hanya rutin dilakukan, tetapi juga terukur dan berbasis data.
Plt Kepala Dispora Kaltim Rasman Rading mengatakan, penerapan sport science perlu menjadi bagian dari sistem pembinaan, termasuk pada cabang olahraga bola tangan yang dinilai memiliki potensi prestasi di tingkat nasional.
"Bola tangan ini termasuk cabor unggulan karena sudah mampu menunjukkan prestasi, meski memang belum konsisten. Karena itu, pembinaannya juga harus mengikuti perkembangan ilmu olahraga," ujarnya usai menghadiri Musyawarah Provinsi (Musprov) ABTI Kaltim di Hotel Grand Tiga Mustika, Balikpapan.
Baca Juga: Sempat Tertunda! Kejurprov Hapkido Kaltim Berputar Akhir Juli di Samarinda, Intip Misi Besarnya!
Menurut Rasman, pembinaan atlet saat ini tidak lagi cukup mengandalkan metode latihan konvensional. Penggunaan teknologi seperti perangkat pemantau aktivitas (wearable device) dapat membantu pelatih memantau intensitas latihan atlet secara objektif.
"Sekarang sudah ada teknologi seperti Garmin dan perangkat sejenis. Dengan alat itu bisa diketahui apakah atlet benar-benar menjalankan program latihan atau tidak. Jadi meskipun berlatih secara mandiri sesuai program dari pelatih, perkembangannya tetap bisa dipantau," katanya.
Ia menilai pendekatan tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas atlet Kalimantan Timur. Pembinaan tidak lagi bergantung pada sistem pemusatan latihan semata, melainkan mengedepankan disiplin latihan yang dapat diukur melalui pendekatan sport science.
Selain aspek fisik, Rasman juga menekankan pentingnya kesiapan mental atlet menjelang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim VIII/2026. Karena itu, tes psikologi dinilai perlu menjadi bagian dari proses seleksi dan pembinaan.
"Bisa saja dari luar kelihatannya baik-baik saja, tetapi ternyata secara psikologis ada masalah. Jangan sampai ketika bertanding justru mengalami tekanan mental dan performanya menurun. Itu yang harus kita antisipasi sejak awal," tegasnya.
Menurutnya, kombinasi pembinaan fisik, pemanfaatan teknologi, serta pendampingan psikologis akan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing atlet Kaltim pada berbagai ajang olahraga, baik tingkat provinsi maupun nasional.
Editor : Muhammad Ridhuan