KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 Nusa Tenggara akan menjadi ujian berat bagi insan olahraga Kaltim.
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Pertama, penyesuaian cabang olahraga (cabor) yang berkiblat pada Olimpiade, SEA Games, dan cabor yang masuk dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON).
Berdasarkan draf awal, hanya 42 cabor yang nantinya dipertandingkan. Perinciannya, 32 cabang lomba Olimpiade, 8 nomor tanding SEA Games, dan 3 cabor DBON. Sisanya, dicoret dari keikutsertaan di PON 2028. Itu pukulan telak pertama untuk Kaltim.
Sebab, dari sejumlah cabor yang dicoret, mayoritas adalah lumbung emas patriot olahraga Bumi Etam. Sebut saja futsal, catur, angkat berat, binaraga, dansa, kabaddi, dan kurash. Mereka adalah penyumbang medali emas untuk Kaltim di PON XXI/2024 Aceh-Sumut, September lalu. Binaraga bahkan menyumbang dua medali emas.
Selain itu, Kaltim dalam periode regenerasi atlet. Dari yang ambil bagian di PON 2024, hanya 20 persen saja yang bisa kembali membela panji Ruhui Rahayu di PON 2028. Adapun 80 persen lagi, sudah memasuki masa pensiun atau melampaui batas usia di tiap-tiap cabor.
Ketua KONI Kaltim Rusdiansyah Aras mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi performa kontingen Kaltim di PON 2024, ada delapan rekomendasi. “Untuk PON berikutnya, kita tidak bisa lagi mempersiapkan diri dengan cara biasa. Kalau mau pencapaian yang maksimal, harus persiapan luar biasa," ucap Rusdi.
Salah satu yang kerap dia sampaikan adalah rencana KONI Kaltim mewujudkan kerja sama dengan lembaga keolahragaan di Korea Selatan (Korsel). Negeri Ginseng ini terkenal dengan kedisiplinan dan integritasnya dalam membangun olahraga prestasi, ditunjang laboratorium olahraga representatif.
Dia meyakini, patriot olahraga Kaltim akan mendapat banyak manfaat dari kerja sama tersebut. Dari simulasi yang mereka lakukan, sisi pembiayaan akan lebih hemat. Salah satu penyebab, fasilitas penunjang dan visa, disiapkan oleh negara mitra kerja sama, dalam hal ini Korsel.
Hanya, kerja sama ini harus benar-benar diikat dalam bentuk memorandum of understanding (MoU), alias nota kesepahaman. Mereka belajar dari kisah tim anggar Kaltim yang gagal try out ke luar negeri saat Pelatda KONI Kaltim 2024, karena terdampak problem dualisme organisasi di tingkat Pengurus Besar (PB) Ikatan Anggar Seluruh Indonesia (Ikasi).
Untuk diketahui, masing-masing kubu difasilitasi oleh organisasi yang berbeda. Yakni KONI dan KOI. Pengurus Provinsi (Pengprov) Ikasi Kaltim yang di bawah naungan PB Ikasi versi KONI, kesulitan mendapatkan rekomendasi try out, karena izinnya hanya bisa diterbitkan oleh KOI sebagai fasilitator level internasional.
“Nantinya, MoU itu jadi pegangan utamanya, karena sudah ada kerja sama langsung. Sebab, anggaran yang digunakan bersumber dari hibah. Di samping itu tetap harus ada persetujuan dari federasi olahraga terkait di negara tujuan bahwa mereka siap menerima kegiatan kita di sana,” tegasnya.
Sebagai langkah awal yang bisa menjadi fondasi penting terwujudnya rencana itu, KONI Kaltim memulai langkahnya dengan menciptakan pelatih fisik berkualitas. Melalui program 1.000 Pelatih Fisik. Saat ini tahapnya di level pengprov sudah terlaksana. Tinggal dilanjutkan ke level kabupaten/kota.
“Namun, sebelum melaksanakan ini, kita juga harus mempertimbangkan prestasi cabor. Akan disaring berdasarkan prestasi dan potensinya,” pungkas dia. (*)
Editor : Ery Supriyadi