KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ketua KONI Kaltim saat ini, Rusdiansyah Aras, menegaskan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri kembali sebagai ketua pada Musyawarah Olahraga Provinsi (Musorprov) 2026.
Pernyataan itu langsung memicu perbincangan hangat di kalangan olahraga tentang siapa yang pantas melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan.
Situasi ini terasa krusial karena Kaltim kini berada di titik regenerasi. Banyak atlet senior, yang selama ini menyumbang medali emas, telah atau akan memasuki masa pensiun.
Tantangannya semakin berat, apalagi waktu menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 Nusa Tenggara tinggal tiga tahun lagi. Pemain baru di pucuk pimpinan KONI Kaltim dituntut sarat pengalaman agar mampu menjaga prestasi.
Di antara nama-nama yang mulai muncul adalah Rusman Ya’qub, ketua Pengprov Persatuan Boling Indonesia (PBI) Kaltim. Dengan rendah hati ia menyambut dorongan agar maju sebagai calon ketua KONI periode 2026-2030.
Rusman menyadari bahwa tugas pendahulunya, Rusdiansyah Aras, cukup besar dalam hal regenerasi. Seperti menetapkan usia maksimal atlet di babak kualifikasi, yakni 30 tahun.
Rusman juga telah menerapkan prinsip tersebut dalam cabang boling yang dibinanya. Keberhasilan Kaltim menembus peringkat dua nasional bersama DKI Jakarta dalam kejuaraan nasional menjadi salah satu buktinya.
“Mereka kaget sekali dengan kemajuan pesat Kaltim,” ujarnya. Ia yakin dalam 2-3 tahun mendatang boling akan semakin bersinar di pentas nasional.
Namun, soal regenerasi tidak hanya terkait pembiayaan atau organisasi KONI dan cabor. Tantangan lainnya adalah meyakinkan orang tua bahwa olahraga prestasi memiliki masa depan yang cerah.
Pemerintah dan dunia pendidikan pun diharapkan bekerja sama untuk memberikan dukungan nyata kepada atlet pelajar.
Baca Juga: Prediksi Dewa United vs Madura United: Kedua Tim Sama-Sama Ingin Perbaiki Posisi
Selain itu, KONI Kaltim telah memulai pelatihan pelatih setelah PON XXI/2024 Aceh-Sumut, sebagai salah satu langkah pengembangan daya saing. Menurut Rusman, organisasi ini wajib mengokohkan tiga pilar: pengelola yang profesional, pelatih yang kompeten, serta atlet berkualitas.
“Problem KONI adalah problem kita bersama. Tidak bisa diletakkan hanya pada KONI saja,” tuturnya. Pemerintah, cabor, dan masyarakat harus bahu membahu memastikan olahraga di Kaltim terus berkembang. (*)
Editor : Ery Supriyadi