KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Suasana GOR Segiri Samarinda mendadak hening, Minggu (8/2). Seluruh penonton dan peserta Honda DBL with Kopi Good Day 2025 2026 East Kalimantan berdiri dalam moment of silence untuk menghormati Nadya Paramitha.
Nadya, dancer SMAN 2 Tenggarong, meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas pada 5 Februari lalu, sehari sebelum kompetisi dimulai. Sebagai bentuk penghormatan terakhir, panitia meminta semua penonton dan peserta mengheningkan cipta sebelum laga basket putra SMAN 2 Tenggarong melawan SMAN 6 Balikpapan.
Keluarga Hadir dan Dukungan Emosional
Tim pelaksana DBL juga mengundang kedua orang tua serta keluarga besar almarhumah untuk hadir menyaksikan penampilan tim dance BNB Crew. Kehadiran keluarga di tribun menjadi momen emosional yang menguatkan seluruh anggota tim.
Baca Juga: Perahu Angkut Sound Horeg 1 Ton Karam saat Tradisi Nyadran di Sidoarjo
Nadya merupakan siswi kelas X SMAN 2 Tenggarong dan baru merayakan ulang tahun ke-16 pada 14 Januari lalu. Ia adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya, Patria Abdi Samuang, turut hadir mendampingi keluarga.
Tampil Meski Duka Mendalam
Meski masih bersedih, BNB Crew memutuskan tampil. Gerakan energik dan koreografi matang membuat penampilan mereka tetap solid. Selepas pertunjukan, kedua orang tua dan saudara almarhumah turun ke panggung, memeluk anggota BNB Crew, sahabat seperjuangan Nadya, dalam suasana haru.
Keluarga juga memberikan dukungan penuh untuk tim SMAN 2 Tenggarong, baik tim basket putra maupun tim dance putri, sepanjang rangkaian pertandingan hari itu.
Doa untuk Rekan yang Kritis
Sementara itu, salah satu dancer utama lainnya, Zahra Nandhita Rahma Firzatullah atau Awa, yang sebelumnya kritis akibat kecelakaan yang sama, kini dilaporkan sudah sadar dan menjalani masa pemulihan. Momen hening ini juga menjadi kesempatan bagi semua untuk mendoakan kesembuhan Zahra.
Ayah Nadya Bangga dengan Semangat Putrinya
Patria Abdi Samuang mengaku masih diliputi kesedihan, namun berusaha menguatkan diri demi meneruskan semangat putrinya yang begitu mencintai dunia dance dan mendukung tim sekolahnya.
Baca Juga: Peran Ibu Mendidik Gen Z di Era Digital
“Saya sebenarnya masih sedih. Tapi dari awal, anak saya sangat ingin ikut dance ini untuk mendukung tim basketnya. Kami sekeluarga selalu mendukung semua kegiatannya,” ujar Patria.
Ia pun tersentuh melihat dukungan besar teman-teman sekolah sejak kepergian Nadya hingga hari pemakaman.
“Yang membuat saya tersenyum di hati, teman-teman sekolahnya begitu banyak yang datang dan tidak pernah sepi. Itu membuat kami, yang hampir patah semangat, akhirnya menguatkan diri untuk mengikuti kemauan Nadya, memberi semangat untuk tim SMAN 2,” lanjutnya.
Harapan Keluarga
Keluarga berharap semangat kebersamaan dan kegiatan positif seperti DBL Samarinda terus berlanjut, memberi ruang bagi pelajar untuk berkembang dengan penuh semangat. (*)
Editor : Ery Supriyadi