Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Rakernas Pelti Jadi Momentum Evaluasi Struktur Kepengurusan dan Pembinaan. Nurdin Halid Ubah Jadi Model Exco

Oktavia Megaria • Sabtu, 2 Mei 2026 | 17:02 WIB
TUNTAS: Ketua Umum PP Pelti Nurdin Halid memberikan pernyataan kepada jurnalis. OKTAVIA MEGARIA/KP
TUNTAS: Ketua Umum PP Pelti Nurdin Halid memberikan pernyataan kepada jurnalis. OKTAVIA MEGARIA/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) menjadi momen untuk para pengurus menata arah prestasi ke depan. Kegiatan yang tuntas terlaksana selama dua hari ini (1-2 Mei) pun menetapkan beberapa program ke depan.

Ketua Umum PP Pelti Nurdin Halid berkata, beberapa keputusan strategis dan fokus kepengurusan dibahas. Khususnya soal perubahan anggaran dasar.

“Alhamdulillah Rakernas telah selesai dengan berbaik keputusan yang sangat strategis, khususnya perubahan anggaran dasar. Di mana kalau selama ini struktur kepengurusan PLT itu seperti ormas, seperti partai. Ini kami ubah, mengadopsi struktur seperti di sepakbola, yaitu dengan sistem exco (executive committe),” jelasnya.

Menurutnya, ini akan membuat organisasi semakin efisien dan berjalan secara efektif. Dengan sistem ini, maka exco bertugas hanya merumuskan kebijakan-kebijakan, kemudian ada pihak yang menjadi badan pelaksana.

Baca Juga: Jangan Asal Titip, Ini Tips Psikolog Memilih Daycare yang Aman dan Nyaman

“Maka insyaAllah cita-cita dan mimpi saya untuk menjadikan tenis sebagai sebuah industri itu akan bisa tercapai mungkin 5-10 tahun yang akan datang. Seperti dulu saya jadikan PSSI sebagai sepakbola menuju pentas dunia,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menyebut Rakernas kali ini juga menyepakati perbaikan sistem prakualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON). Yang selama ini dinilai belum seimbang antarwilayah.

Ke depan, kata Nurdin, sistem kualifikasi akan mengacu pada indikator prestasi atlet di masing-masing daerah. Misalnya Pulau Jawa sering dijadikan satu grup, membuat persaingan yang sangat ketat.

“Nah, kami ingin menciptakan keseimbangan dengan berdasarkan indikator prestasi atlet-atlet di setiap wilayah,” sebutnya.

Baca Juga: Haramkan Kekerasan! Ceria Daycare Samarinda Buka Pintu Survei Kapan Saja, Nadya: Kalau Tertutup, Orang Tua Harus Waspada

Ia juga berkata memberi batasan untuk atlet PON. Di mana tahun-tahun sebelumnya, ada dominasi satu atau dua provinsi yang semua sudah mengontrak pemain-pemain yang sudah bertaraf internasional atau yang sudah mendapatkan nomor SEA Games.

Untuk ke depan, pihaknya akan atur kriterianya. Yakni, pemain nasional yang sudah berprestasi tingkat dunia itu hanya boleh di satu provinsi dengan hanya satu kategori yang bisa diikuti.

“Jadi misalnya dia pilih tunggal, hanya boleh tunggal. Tidak boleh lagi ikut di ganda campuran, ganda putra atau ganda putri, tidak boleh lagi. Mungkin akan kita pertimbangkan dia boleh ikut nomor beregu,” jelas Nurdin.

Di samping itu, ia juga mengapresiasi wacana revisi Perpres DBON yang menjadikan tenis sebagai cabang olahraga (cabor) unggulan. Dengan begitu, pembinaan dan prestasi tenis akan mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

“Kami mengharapkan negara itu hadir untuk infrastruktur. Karena, tenis memang belum punya stadion bertaraf internasional sehingga tidak bisa mendatangkan pemain-pemain dunia. Padahal kehadiran mereka akan memotivasi para orangtua untuk mendorong anak-anaknya untuk bermain tenis,” harapnya.

Sementara itu, Ketua Pengprov Pelti Kaltim Wahyu Hernaningsih Seno juga bersyukur agenda ini berjalan lancar dan baik. Tentunya hasil Rakernas ini bakal menjadi tolak ukur agar ke depannya Pelti bisa berbenah dan menorehkan prestasi lebih banyak. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Rakernas PP Pelti 2026 #sistem Exco Pelti #tenis Indonesia #Pelti Kaltim #nurdin halid