KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Junior Bola Tangan 2026 resmi bergulir di GOR STT Migas Balikpapan, Sabtu (13/6). Sebanyak delapan kabupaten dan kota di Kalimantan Timur ambil bagian dalam ajang yang digelar Asosiasi Bola Tangan Indonesia (ABTI) Kaltim tersebut.
Kejurprov berlangsung selama dua hari, 13–14 Juni 2026, dengan mempertandingkan dua kategori. Nomor indoor digelar di GOR STT Migas Balikpapan, sedangkan kategori beach handball berlangsung di Balikpapan Tennis Stadium (BTS).
Ketua ABTI Kaltim Suryadi Gunawan mengatakan, dua daerah yang absen dalam kejuaraan ini adalah Kutai Barat dan Kutai Timur karena terkendala anggaran.
Baca Juga: Gol Telat Khoukhi Paksa Swiss Berbagi Angka, Qatar Raih Poin Bersejarah
“Dua daerah yang tidak bisa hadir yaitu Kutai Barat dan Kutai Timur karena terkendala anggaran. Namun, dengan delapan daerah yang ambil bagian ini, saya pikir atlet yang akan turun adalah yang terbaik dan akan mewakili Kaltim dalam kejuaraan nasional yang akan datang,” ujarnya.
Suryadi menjelaskan, Kejurprov Junior kali ini sekaligus menjadi ajang seleksi untuk menghadapi Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Bola Tangan di Surabaya pada 3–8 Agustus mendatang. Kejurnas tersebut juga menjadi bagian dari seleksi nasional menuju kejuaraan IHF tingkat Asia dan ASEAN.
Dari dua kategori yang dipertandingkan, ABTI Kaltim akan menjaring total 52 atlet. Pada kategori indoor akan dipilih 32 atlet, terdiri dari 16 putra dan 16 putri. Sementara pada kategori pantai akan dipilih 20 atlet, masing-masing 10 putra dan 10 putri.
Baca Juga: Tiga Bahasa, “Siapa Takut” Rita Widyasari, dan Panggung Hangat Para Legenda
Mengenai peluang di tingkat nasional, Suryadi mengaku optimistis dengan kualitas atlet yang dimiliki Kaltim. Meski demikian, ia mengakui persaingan akan berlangsung ketat, terutama dari DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Menurutnya, optimisme tersebut didukung oleh program pembinaan yang berjalan baik. Sejumlah atlet muda yang dipersiapkan merupakan pemain yang pernah tampil pada PON Aceh-Sumut.
“Karena memang pembinaan kami sangat bagus. Artinya, dari usia pelajar sudah kami siapkan. Bahkan, usia 17-18 tahun sudah bisa ikut PON. Itu menjadi bukti bahwa regenerasi kami tidak terputus,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi