KALTIMPOST.ID - Sabtu siang di bulan Juni 2023 ada sebuah event unik di mal terbesar di ibu kota Kalimantan Timur. Lain dari biasanya, event itu adalah sebuah talkshow yang membahas sejarah Kota Samarinda. Panitianya dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tingkat provinsi dan tingkat kota. Acara di atrium pusat perbelanjaan tepi Sungai Mahakam itu bisa disimak oleh siapa pun yang berminat. Saya turut hadir di sana sebagai pengunjung umum.
Dua bulan setelah itu saya menerima undangan diskusi buku di Perpustakaan Kota Samarinda. Undangan untuk saya dalam kapabilitas sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda. Buku yang dibedah berjudul Perang di Samarinda: Sejarah Perjuangan Indonesia Merdeka di Ibu Kota Kalimantan Timur 1945–1949. Saya pun hadir di acara yang dibuka oleh wakil wali kota Samarinda.
Forum diskusi buku Perang di Samarinda terlaksana pada 4 Oktober 2023. Narasumbernya selain sang penulis buku, ada seorang anak muda yang predikatnya di flyer sebagai publik pembaca. Selesai acara, saya bertegur sapa dengan penulis bukunya. Waktu itu saya melihat penulis sejarah tersebut sibuk melayani wawancara para jurnalis. Jadi, saya tak ada obrolan khusus dengan sang penulis. Namun, buat saya cukup perkenalan singkat saja sebagai bukti bahwa saya memenuhi undangan.
Dari dua forum sejarah lokal itu, saya merasa ada sesuatu yang perlu diapresiasi. Menurut saya, keren banget ada acara literasi sejarah lokal yang dipresentasikan kaum muda. Event di Bigmall itu dibawakan oleh duet sejarawan Muhammad Sarip dan presenter TV Talitha Aufa Nabilah. Sementara di perpustakaan kota, sang penulis, yaitu Bang Sarip didampingi oleh publik pembaca yang bernama Nanda Puspita Sheilla.
Saya terlahir dari kelompok generasi yang disebut gen Z. Menyaksikan tandem gen Y, Bang Sarip dan Kak Nanda di forum, saya pikir gen Z juga harus aktif berpartisipasi. Namun, pada masa aktivitas saya sebagai pimpinan dan pengurus inti beberapa organisasi mahasiswa intra dan ekstrakampus, ada beberapa forum sejarah lokal yang saya terlewat.
Setidaknya ada tiga forum sejarah yang semuanya menampilkan duet Bang Sarip dan Kak Nanda, saya berhalangan hadir. Termasuk yang paling besar ketika launching dan diskusi buku di Gedung Unmul Hub. Bukunya berjudul Historipedia Kalimantan Timur, ditulis oleh Bang Sarip dan Kak Nanda.
Saya menyesalkan ketidakhadiran diri saya karena sedang mengikuti kegiatan di luar Kalimantan. Forum sejarah di Universitas Mulawarman itu dihadiri oleh Rektor Unmul. Yang membedah bukunya juga figur level nasional, yaitu unsur pimpinan Otorita Ibu Kota Nusantara, Dr. Myrna A Safitri. Saya bertekad agar suatu saat nanti mampu juga mengadakan forum sejarah di kampus UINSI.
Singkat cerita, akhirnya impian saya terwujud. Saya sepanggung bersama Bang Sarip dan Kak Nanda di Auditorium UINSI, 7 Maret 2024. Saya cukup happy bisa menjadi moderator di forum membahas IKN dari aspek sejarah dan lingkungan. Apalagi tokoh OIKN yang sama yang datang ke Unmul juga hadir di UINSI sebagai narasumber. Meskipun merasa kurang maksimal, tapi saya sangat bangga memoderatori Bu Myrna, Bang Sarip, dan Kak Nanda.
Selama bersekolah, saya kurang mendapatkan materi tentang sejarah lokal Kalimantan Timur. Saat saya kuliah semester II di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda, tiba-tiba nama IAIN berubah menjadi UIN Sultan Aji Muhammad Idris. Sebelumnya saya sama sekali tidak mengetahui siapa dan bagimana profil tokoh yang dijadikan nama kampus saya. Terasa sekali bahwa sosialisasi dan edukasi sejarah lokal sangat minim. Kaltim darurat literasi sejarah lokal.
Saya mengetahui literasi sejarah lokal bukan dari institusi pendidikan formal. Justru dari pegiat atau komunitas literasi sejarah yang tidak disokong bujet pemerintah, saya memperoleh informasi sejarah. Profil kesejarahan tokoh nama kampus saya di Samarinda Seberang, tidak saya peroleh dari intern kampus. Saya mengetahuinya dari teks buku Historipedia Kalimantan Timur dan juga penuturan langsung penulisnya.
Sebenarnya sejarah itu menarik. Namun, entah mengapa pelajaran sejarah di sekolah relatif tidak menarik. Saya baru berminat mempelajari sejarah setelah tidak lagi duduk di sekolah menengah. Ketertarikan saya mungkin karena penyampaian sejarah lokal di jalur nonsekolah itu lebih dinamis dan fleksibel serta tidak beroritensi nilai akademik. Tidak ada yang menuntut saya menghafal informasi sejarah, tetapi saya sendiri yang merasa berkepentingan untuk memahami sejarah, terutama sejarah lokal.
Sejarah mengajarkan kita untuk meneladani keberhasilan generasi terdahulu dalam mencetak sejarah yang gemilang. Sejarah juga mendidik kita untuk tidak menempuh jalan keburukan dari kejadian masa lalu yang tragis. Begitulah benefit kita belajar sejarah, sebagaimana yang disampaikan oleh sejarawan. (riz)
Editor : Muhammad Rizki