Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kekalahan Isran-Hadi di Pilgub Kaltim 2024

Muhammad Ridhuan • Minggu, 1 Desember 2024 | 20:02 WIB

Dr. Asnar., M.Si
Dr. Asnar., M.Si

Oleh:

Dr. Asnar., M.Si

Pengajar di Beberapa Lintas Fakultas Universitas Mulawarman

Penguji di Program Studi Doktor FKIP

 

KEKALAHAN pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Kaltim, Isran Noor-Hadi Mulyadi di Pilgub Kaltim 2024 dapat ditinjau dari berbagai faktor strategis. Salah satunya adalah kurangnya respons terhadap dukungan dari sejumlah tokoh dan organisasi masyarakat (ormas).

Beberapa tokoh masyarakat dan perwakilan ormas dikabarkan telah menemui Isran untuk menawarkan diri menjadi bagian dari tim pemenangan. Namun, komunikasi yang kurang optimal dan tidak adanya respons yang jelas dari pihak Isran-Hadi membuat peluang ini terlewatkan.

Akibatnya, dukungan yang seharusnya bisa memperkuat basis suara di berbagai kabupaten/kota di Kaltim justru tidak tergarap dengan baik, sehingga mengurangi daya gedor di tengah kompetisi yang ketat ini.

Dalam dunia politik, koneksi adalah segalanya. Kemampuan seorang kandidat atau tim untuk membangun jejaring yang luas dan efektif sering kali menjadi penentu kemenangan.

Ketika tokoh masyarakat dan ormas, yang memiliki basis massa dari berbagai kalangan, datang dengan niat mendukung, seharusnya itu dianggap sebagai peluang emas. Namun, ketidakresponsifan dari Isran-Hadi apakah karena kurangnya waktu, pengabaian, atau kesalahan kalkulasi politik justru menciptakan kesan negatif.

Tokoh masyarakat dan ormas yang merasa diabaikan kemungkinan besar akan mengalihkan dukungan mereka kepada kandidat lain yang lebih terbuka dan kooperatif.

Keputusan untuk tidak merespons tokoh dan ormas ini bisa dipandang sebagai sikap eksklusif yang kontraproduktif. Dalam politik, eksklusivitas sering kali diartikan sebagai kesombongan atau ketidakpedulian terhadap kebutuhan dan masukan dari pihak eksternal.

Hal ini merusak citra seorang pemimpin yang seharusnya terlihat inklusif, merangkul semua kalangan, dan siap bekerja sama dengan berbagai pihak. Ketidakmampuan dalam merangkul para tokoh dan ormas tersebut mencerminkan lemahnya strategi konsolidasi politik Isran-Hadi.

Di tengah persaingan pilgub yang menuntut pendekatan merangkul semua pihak, kegagalan untuk merespons tawaran kerja sama ini menunjukkan kurangnya keluwesan dalam membangun jejaring dukungan. Hal ini berpotensi menimbulkan kesan kurang peduli terhadap aspirasi masyarakat akar rumput, yang notabene diwakili oleh tokoh dan ormas tersebut.

Dalam dimensi politik lokal, dukungan dari jaringan ini sering menjadi faktor penentu dalam mengamankan kemenangan, sehingga kurangnya perhatian terhadap aspek ini menjadi salah satu alasan utama kegagalan Isran-Hadi di Pilgub Kaltim 2024.

Organisasi massa dan tokoh lokal memiliki kekuatan politik yang tidak bisa diremehkan. Mereka biasanya adalah penghubung langsung ke masyarakat akar rumput. Ketika mereka datang menawarkan diri untuk mendukung kampanye, mereka tidak hanya membawa suara, tetapi juga pengaruh dan jaringan sosial yang luas. Mengabaikan mereka adalah kehilangan kesempatan strategis untuk memperluas basis dukungan.

Tokoh lokal sering kali dipandang sebagai “penyambung lidah” antara kandidat dengan masyarakat. Mereka memahami kebutuhan, aspirasi, dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Jika Isran memberikan perhatian lebih pada masukan dan tawaran kerja sama dari tokoh-tokoh ini, ia mungkin bisa mengonsolidasikan dukungan dari lapisan masyarakat yang lebih luas.

Sebaliknya, dengan tidak merespons, ia mengirimkan pesan bahwa masukan dari mereka tidak dianggap penting, yang tentu saja berdampak pada hilangnya kepercayaan dan loyalitas.

Lebih jauh, kegagalan ini juga dapat dilihat sebagai indikasi lemahnya manajemen tim pemenangan yang seharusnya memiliki strategi proaktif untuk menjangkau basis-basis suara potensial. Tim sukses yang efektif mestinya mampu mengidentifikasi dan merespons peluang  dukungan dari tokoh-tokoh berpengaruh dengan cepat, termasuk dengan membangun komunikasi yang intensif dan memastikan adanya kerja sama yang saling menguntungkan.

Namun, kelambanan dan kurangnya kepekaan politik ini menciptakan celah besar yang dimanfaatkan oleh lawan politik mereka. Ketidakresponsifan Isran-Hadi tidak hanya berdampak pada hubungan dengan tokoh masyarakat dan ormas, tetapi juga menciptakan efek domino yang lebih luas.

Ketika tokoh-tokoh ini merasa diabaikan, mereka mungkin mengarahkan pengaruh mereka untuk mendukung kandidat lain. Hal ini tidak hanya berarti kehilangan suara, tetapi juga berpotensi menciptakan narasi negatif di masyarakat.

Dalam politik, dukungan dari tokoh masyarakat sering kali dianggap sebagai sinyal bagi pemilih lainnya. Ketika tokoh yang dihormati atau ormas berpengaruh mendukung seorang kandidat, mereka membawa serta pengaruh moral dan sosial yang signifikan.

Sebaliknya, ketika mereka berpaling, hal itu menciptakan kesan bahwa ada sesuatu yang salah dengan kandidat yang ditinggalkan. Tidak hanya itu, absennya pendekatan yang merangkul semua kalangan juga mengurangi kepercayaan dari kalangan masyarakat yang merasa aspirasinya tidak didengar.

Dalam kontestasi politik di Kaltim yang cukup kompetitif melawan Rudy-Seno yang diusung oleh KIM Plus, kemampuan untuk merangkul semua elemen masyarakat, mulai dari akar rumput hingga elite lokal, menjadi kunci keberhasilan.

Dengan tidak adanya strategi ini, Isran-Hadi gagal memanfaatkan momentum dukungan kolektif yang sejatinya bisa menjadi kekuatan utama dalam Pilgub Kaltim 2024. (adv/kh/rdh)

Editor : Muhammad Ridhuan
#Isran - Hadi #politik #Pilgub Kaltim 2024 #ormas