KALTIMPOST.ID, Visi besar mewujudkan Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi ilusi tanpa persiapan sedini mungkin. Tanpa bergerak cepat dan segera berkemas-kemas menyongsongnya, semua tinggal angan-angan.
Sehingga menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk bergegas mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.
Karena, kita pun menyadari betul bahwa SDM yang bermutu menjadi salah satu variabel utama dalam pembangunan nasional di setiap dimensinya.
Apalagi, kita semua sedang melaju untuk mewujudkan Indonesia maju yang salah satunya melalui SDM unggul.
Sebagai penulis, saya pun meyakini bahwa peningkatan kualitas SDM akan berdampak pada peningkatan daya saing Indonesia.
Terkait hal itu, mengutip laman Kontan.id (20/6), peringkat daya saing Indonesia dalam laporan World Competitiveness Ranking (WCR) 2025 mengalami penurunan signifikan.
Indonesia turun 13 peringkat ke posisi 40 dari total 69 negara yang dievaluasi, Salah satu penyebab penurunannya yakni keterbatasan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas. Padahal, keadaan dunia sudah berkembang sedemikian pesatnya.
Masifnya perkembangan teknologi digital menuntut kita untuk lebih peka dan adaptif menyikapi. Bukan sebaliknya, justru menutup mata dan enggan mengikuti dinamika zaman. Dampaknya, kita akan semakin jauh tertinggal dengan negara-negara maju lainnya.
Lantas, yang barangkali menjadi pertanyaan kita selanjutnya adalah, bukankah di negeri ini sudah banyak orang-orang yang bergelar sarjana, magister, dan doktor di berbagai bidang?
Apakah mereka semua tidak bisa menjadi problem solver? Mengenai hal itu, rasa-rasanya kita tidak boleh terburu-buru dalam menarik kesimpulan.
Karena berdasarkan pengamatan saya, gelar yang disandang bukanlah jaminan menjadi inisiator, konseptor, dan aktor pembangunan nasional dan perubahan sosial.
Apalagi, kampus selama ini hanya seolah menjadi perpanjangan tangan industri yang hanya mencetak lulusan-lulusan terampil dan siap bekerja. Terkait lulusannya memiliki kemampuan berpikir kritis dan jiwa kepemimpinan itu lain persoalan.
Belum lagi ketidaksesuaian jebolan perguruan tinggi dengan kebutuhan pasar. Ya, sebagian besar lulusan kampus masih belum terserap di dunia industri.
Ditambah, memang lapangan pekerjaan yang tersedia begitu minim. Ini menjadi alarm pengingat bahwa bukan hanya bagaimana mencetak lulusan yang bermutu.
Lebih dari itu, mencetak lulusan yang kreatif dan inovatif, serta siap mengarungi dunia pasca-kuliah.
Bahkan, juga menjadi tugas dan tanggung jawab perguruan tinggi agar mencetak lulusan bukan sekadar memiliki kemampuan kognitif. Namun juga kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan.
Jangan sampai bonus demografi yang kita hadapi menjadi ancaman atau petaka demografi. Dan hal itu, sekali lagi, berkaitan dengan bagaimana mencetak SDM unggul.
Unggul dalam artian bukan hanya memiliki kecerdasan intelektual. Namun juga memiliki kecerdasan emosional dan spiritual.
Ditambah lagi bekal mentalitas yang tangguh untuk mengarungi bahtera kehidupan setelah lulus dari universitas.
Karena, memang tidak cukup hanya mengandalkan selembar ijazah untuk menapaki hidup yang penuh dengan ragam masalah dan tantangan.
Kemudian, mengenai SDM unggul, Satar (2002) menyampaikan ada empat sifat yang melekat padanya yakni dedikasi, jujur, inovatif, tekun, dan ulet (Djitu).
Sehingga di era sekarang, keterampilan non-teknis (soft skill) dan keterampilan teknis (hard skill) harus dimiliki oleh SDM kita.
Termasuk dari soft skill di antaranya yaitu kemampuan berkomunikasi lisan dan tulisan, kemampuan bernegoisasi, bekerja sama, kepemimpinan, pemecahan masalah, manajemen waktu, dan sebagainya.
Kemudian, beberapa contoh hard skill yaitu kemampuan analisis data, desain grafis, akuntansi, bahasa pemrograman, dan sebagainya. Tentu, semua tergantung mana yang kita minati dan hendak kembangkan selanjutnya.
Selain itu, dalam mempersiapkan SDM unggul, menjadi relevan untuk menguatkan kembali empat pilar belajar yang pernah digagas oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).
Di antaranya yaitu: 1) learning to know; 2) learning to do; 3) learning to be; dan 4) learning to live together.
Ringkasnya, jika merujuk pada gagasan tersebut, untuk mencetak lulusan berkualitas, perguruan tinggi bertanggung jawab mencetak lulusan yang berilmu, mampu mengaplikasikan ilmunya, bisa mengenal jati dirinya, dan sanggup untuk menjalani kehidupan bersama di tengah-tengah masyarakat plural.
Akhirnya, lewat tulisan ini, saya mendorong penguatan sinergitas dan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mencetak SDM unggul.
Tentu saja lewat program atau kegiatan yang berdampak. Selain itu, dosen sebagai ujung tombak di kampus, diharapkan bisa menjadi motor penggerak yang merangsang mahasiswa untuk menggali potensi dirinya.
Terutama bisa mendorong mahasiswa untuk berjejaring, melatih kemampuan komunikasi, bernegoisasi, penguasaan bahasa asing, kecerdasan buatan, dan semacamnya.
Dengan begitu, kita akan semakin optimis SDM kita tidak akan kalah saing dengan negara-negara lainnya di dunia ini. Dengan begitu, masa depan Indonesia yang gilang-gemilang bukanlah suatu hal yang mustahil diraih.
*) Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi, Pelaku UMKM Batik Tulis Madura
Editor : Almasrifah