Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Budaya Membaca dan Kemajuan Bangsa

M
Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura.
Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura.

Advertisement

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

KALTIMPOST.ID, Pada momentum Hari Buku Sedunia yang jatuh pada hari ini, 23 April 2026, tiba-tiba saja saya tergerak untuk menulis seputar budaya membaca masyarakat kita. Budaya membaca yang oleh sebagian lembaga survei dinilai cukup rendah.

Betapa sebagian dari masyarakat kita masih belum sepenuhnya sadar dan terdorong untuk membaca buku. Barangkali, ketiadaan motivasi atau minimnya stimulus eksternal menjadi salah satu penyebab masyarakat kita belum “akrab” dengan yang namanya “jendela dunia” itu.

Advertisement

Padahal buku bukan sebatas gudang ilmu dan pengetahuan yang mana membaca adalah kunci untuk membukanya. Lebih dari itu, di dalam buku, kita bisa memetik nilai-nilai kebijaksanaan hidup dari banyak tokoh nasional dan dunia.

Bisa berkaca pada perjalanan hidup mereka dalam mengarungi samudra kehidupan. Meneropong lebih dekat lika-liku hidup, perjuangan, pengorbanan, dan pengabdian orang-orang di masa lampau itu. Dengan begitu, kita sedikit paham, bahwa ruhani dan pikiran kita sebenarnya juga “lapar” dan “dahaga” akan asupan-asupan yang bergizi.

Advertisement

Dan hal itu bisa terpenuhi dengan membaca buku. Sama halnya jasmani yang membutuhkan makanan dan minuman. Demikian pula dengan akal kita yang membutuhkan asupan ilmu pengetahuan.

Beberapa manfaat lainnya dari membaca buku di antaranya yaitu meningkatkan daya ingat, melejitkan kemampuan berpikir logis dan kritis, menambah ilmu, mengembangkan imajinasi, memperluas wawasan, mengasah kreativitas, menguatkan karakter, dan masih banyak lagi tentunya. 

Ragam manfaat itu akan bisa dirasakan manakala kebiasaan membaca telah terbentuk dalam keseharian kita. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kebiasaan membaca itu telah terbangun? Jangan-jangan selama ini kita hanya sekadar membaca untuk memenuhi tugas sekolah/kampus.

Membaca hanya karena perintah atasan di kantor tempat di mana kita bekerja. Di luar itu, kita seolah enggan untuk sekadar mengambil buku di rak lemari.

Padahal, aktivitas membaca, sekali lagi, sangat menunjang pembentukan sumber daya manusia (SDM) Indonesia berkualitas. Artinya, jika masyarakatnya berkualitas, maka bukan tidak mungkin cita-cita besar mewujudkan Indonesia Emas 2045 itu akan tercapai.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Kaltim PostIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Menguak Fenomena Joki Membaca Buku

Menguak Fenomena Joki Membaca Buku

Fenomena joki membaca buku membuka peluang ekonomi, tetapi memunculkan pertanyaan: ingin benar-benar cerdas atau sekadar terlihat cerdas?

Bukan Sekadar Scroll Media Sosial, Azazi Ajak Pemuda Kembali Menghidupkan Budaya Membaca

Bukan Sekadar Scroll Media Sosial, Azazi Ajak Pemuda Kembali Menghidupkan Budaya Membaca

Rahmad Azazi Rhomantoro ajak pemuda kembali menghidupkan budaya membaca di tengah dominasi konten digital. Simak aksi sang Pemuda Pelopor.

Mengembalikan Etika dan Kesopanan di Ruang Digital

Mengembalikan Etika dan Kesopanan di Ruang Digital

Layar ponsel yang seharusnya menjadi jendela informasi, justru kerap menampilkan wajah-wajah kita yang paling buruk.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer