Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Perajin Batik, Ujung Tombak Pelestarian Budaya yang Tersisihkan

Muhammad Aufal Fresky • Kamis, 2 Oktober 2025 | 19:27 WIB
Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.
Muhammad Aufal Fresky, Penulis buku Empat Titik Lima Dimensi.


KALTIMPOST.ID, Beberapa saat lalu, Fathor Rahman, jurnalis Kompas.com, menghubungi saya via WhatsApp.

Usut punya usut, ia hendak mewawancarai saya seputar batik Pamekasan. Merujuk pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan itulah saya tergerak untuk menulis perihal batik.

Saya sendiri sudah cukup lama bergelut dengan dunia batik. Khususnya batik tulis Madura. Lebih-lebih saya lahir, tumbuh, dan berkembang di Kampung Batik Klampar, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan.

 Tentu latar belakang saya tersebut juga mendukung pengetahuan dan pemahaman saya seputar batik.

Lebih lanjut, kekhawatiran saya terkait masa depan industri batik juga semakin menjadi-jadi. Sebab, fakta bahwa dukungan pemerintah dalam menstimulus perkembangan industri batik belum begitu optimal, itu tidak bisa dibantah. Khususnya di kampung saya sendiri, perlahan jumlah perajin batik mulai merosot.

Regulasi, kebijakan, dan program yang ditetapkan masih belum memprioritaskan kepentingan perajin.

Lewat catatan ini, dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional 22 Oktober 2025, saya berharap ada angin segar yakni industri batik kembali menggeliat. Kita semua membutuhkan terobosan atau gebrakan pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam rangka menstimulus industri batik.

Terkait hal itu, hemat saya, pemerintah mesti kembali menguatkan sinergisitas dengan perwakilan dari komunitas perajin batik, komunitas pelaku UMKM batik, lembaga pendidikan tinggi, dan pemuda.

Tujuannya untuk menemukan alternatif solusi dalam menggenjot industri batik.

Terutama para perajin batik, jangan sampai mereka berbondong-bondong beralih profesi sebab industri batik tak lagi membuat asap dapur mereka mengepul.

Apalagi, kita sepakat bahwa perajin batik adalah ujung tombak pelestarian budaya batik. Maka sudah seharusnya pemerintah sungguh-sungguh memerhatikan jerit hati mereka.

Selaku penulis, saya menawarkan beberapa solusi yang barangkali bisa kembali membuat industri batik berdenyut.

Pertama, pemerintah wajib menggelar pameran atau pertunjukan budaya batik setahun sekali misalnya.

Semakin sering semakin bagus. Kedua, intervensi lewat perda dan kebijakan. Semisal, semua ASN harus memakai batik khas daerahnya masing-masing; setidaknya sekali dalam sepekan.

Ketiga, memasifkan kembali gerakan mencintai batik dan bangga terhadap batik. Gerakan macam ini bisa dimulai dari lembaga pendidikan. Mulai dari tingkat KB-TK hingga perguruan tinggi.

Keempat, memberikan subdisi pembelian bahan baku batik khusus perajin atau pelaku UMKM batik.

Kelima, memberikan bantuan pelatihan kewirausahaan dan pemasaran digital kepada perajin dan pelaku UMKM batik.

Keenam, kolaborasi pemerintah, swasta, dan lembaga pendidikan untuk mendorong lahirnya tunas-tunas muda perajin batik.

Begitulah kira-kira yang bisa saya kemukakan. Sekali lagi, saya tetap optimistis ke depan industri batik bukan sekadar menggeliat.

Namun juga bisa menjadi salah satu industri yang menyerap banyak tenaga kerja dan sekaligus menopang perekonomian nasional. Apalagi batik ini bukan sekadar produk. Namun juga warisan para leluhur bangsa dan sekaligus identitas kebanggaan kita. ***


*) Pelaku UMKM Batik Tulis Madura

Editor : Dwi Puspitarini
#perajin batik tulis #batik pamekasan #hari batik nasional 2025 #Regenerasi perajin batik #Industri batik Madura #UMKM batik Madura