KALTIMPOST.ID, Adalah suatu hal yang sukar dibantah bahwa kaum muda memiliki potensi besar sebagai katalisator pembangunan nasional.
Ditilik dari sejarah perjalanan bangsa ini, peran dan kontribusi pemuda tidak bisa diragukan. Terbukti, pemikiran-pemikiran sebagian kaum muda tempo dulu melampaui zamannya.
Tidak hanya itu, mereka menjadi pioner perubahan sosial kemasyarakatan. Langkah-langkah dan sepak terjang kaum muda di zaman pra-kemerdekaan terbukti mampu menggalang persatuan nasional.
Mampu membangkitkan spirit nasionalisme dalam jiwa rakyat kala itu. Keyakinan dan optimismenya dalam mewujudkan Indonesia merdeka dibuktikan lewat gerakan nyata.
Kepintaran dan kecerdasan yang dimiliki diberdayagunakan untuk kemaslahatan masyarakat.
Mereka, berani bertaruh jiwa dan raga untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur.
Kini, puluhan tahun sejak kemerdekaan, tantangan yang dihadapi kita semakin kompleks dan beragam. Pemuda hari ini, dinilai masih belum mampu mewarisi semangat perjuangan dan pengorbanan para pemuda di masa silam.
Sebagian dari kita dianggap belum memiliki sensivitas sosial yang tinggi. Belum mampu membaca situasi dan kondisi masyarakat. Tidak bisa menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.
Jangankan berkontribusi nyata, bahkan untuk sekadar mengetahui dan memahami apa yang sedang menjadi jeritan hati masyarakat pun, kita tidak peduli. Seakan-akan menutup mata dan telinga atas ragam problematika sosial.
Padahal, masyarakat sedang menunggu peran aktif pemuda sebagai garda terdepan perubahan. Padahal, masyarakat sedang menanti gebrakan-gebrakan kaum muda dalam mengentaskan persoalan yang sedang terjadi. Pemuda memang dinanti kiprahnya sebagai problem solver. Bukan sebaliknya, justru menjadi problem maker.
Terkait hal itu, tidak bisa dimungkiri lagi, sebagian pemuda hari ini sedang mengidap penyakit pragmatisme dan hedonisme.
Sebagian enggan untuk menikmati proses dalam hidupnya. Ingin serba cepat, instan, dan pragmatis. Belum lagi, pikiran dan hatinya yang selalu tertuju bagaimana agar hasrat duniawinya terpenuhi dalam waktu selekas-lekasnya.
Pemuda sebagai sumber energi, lokomotif perubahan, pilar dan sekaligus akselerator pembangunan sekadar slogan tanpa makna manakala tidak ada gerak nyata. Buat apa pengetahuan dan ilmu ditumpuk-tumpuk, gelar berderet-deret, sekolah hingga ujung dunia, tapi di tengah masyarakat justru tidak berbuat apa-apa.
Padahal, ide-ide brilian dan gagasan progresif pemuda, hemat saya, bisa menjadi alternatif pemecahan masalah.
Saya kira, negeri ini tidak kekurangan pemuda pintar, tidak sedang krisis pemuda cerdas. Kita, barangkali, hanya krisis pemuda yang berani dan peduli. Berani dalam menegakkan kebenaran, peduli terhadap wong cilik.
Sekolah-sekolah, kampus-kampus, dan berbagai lembaga pendidikan lainnya seolah belum mampu melahirkan pemuda-pemuda visioner, cerdas, berintegritas, nasionalis, religius, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Padahal, jumlah pemuda yang mengenyam pendidikan tinggi cukup banyak. Lantas, kenapa persoalan ekonomi, sosial, budaya, dan semacamnya masih menjadi pekerjaan rumah yang sukar dituntaskan?
Apa jangan-jangan karena pemuda kita tidak diberikan kesempatan untuk berkiprah lebih luas lagi di negeri ini? Atau mungkin kita sendiri yang apatis terhadap keadaan?
Entahlah, yang jelas visi besar mewujudkan Indonesia Emas itu hanya ilusi apabila pemuda di negeri ini bersikap acuh tak acuh.
Padahal, ada empat potensi yang dimiliki pemuda untuk bukan hanya menciptakan akselerasi pembangunan. Tapi juga mampu menjadikan Indonesia sebagai mercusuar peradaban dunia.
Empat potensi itu, antara lain: a) potensi spiritual, artinya pemuda sejati, ketika meyakini sesuatu, akan memberi sesuatu apapun yang dipunyai dan disanggupinya secara ikhlas tanpa pamrih; b) potensi intelektual, yakni daya analisis yang kuat didudukung spesialisasi keilmuan yang dipelajari menjadikan kekritisan kaum muda berlandaskan intelektual; c) potensi emosional, yaitu keberanian, semangat, dan kemauan keras yang dimilikinya selalu bergelora; d) potensi fisikal, maksudnya secara fisik pemuda berada dalam puncak kekuatan.
Selaku penulis, saya berpandangan, keempat potensi kaum muda itu, jika digunakan dengan optimal, sungguh-sungguh, dan penuh kesadaran untuk berbakti kepada bangsa dan negaranya, maka bukan tidak mungkin, peradaban emas itu bisa kita capai.
Sebaliknya, jika empat potensi tersebut, disia-siakan, maka yang terjadi adalah pemuda bisa terjerumus melakukan hal-hal yang kontraproduktif, bahkan bisa melabrak norma agama dan hukum.
Sebab itulah, kecerdasan intelektual, harus diimbangi dengan kecerdasan sosial, emosional, dan spiritual. Sebab, kita sedang membutuhkan pemuda patriot berjiwa pemimpin serta peduli terhadap nasib dan masa depan bangsanya.
Baiklah, untuk memungkasi catatan ini, besar harapan saya, kaum muda bisa lebih termotivasi menjadi pencipta dan pengabdi yang membawa kebermanfaatan bagi sesama.
Pemuda diharapkan mampu menjadi “Kompas” yang menunjukkan arah dan menjadi “Pelita” yang menerangi jalan.
Satu lagi, persatuan, sinergi, dan kolaborasi antar-pemuda perlu dikokohkan untuk menyambut Indonesia Emas.
Lewat tulisan ini pula, saya mewanti-wanti diri saya pribadi terutama, dan seluruh pemuda Indonesia, untuk mengambil bagian, apapun yang bisa dilakukan, meskipun kecil dan sederhana, untuk terus menerus membangun Indonesia.
Sebab, jika bukan kita, siapa lagi yang akan peduli dengan masa depan Indonesia. Jika bukan hari ini, kapan lagi kita berbakti pada Ibu Pertiwi?
Mari sejenak meneropong perjuangan pahlawan dim masa silam. Betapa mereka berapi-api dalam berjuang dan berkorban untuk negerinya.
Jadi, idealisme kaum muda harus tetap hidup dan menyala. Jangan sampai digadaikan untuk hal-hal yang bersifat nisbi atau sesaat.
Pemuda hari ini adalah pemimpin di kemudian hari. Mari kita buktikan, bahwa kita mampu menjadi katalisator pembangunan nasional di berbagai bidang.
Editor : Hernawati