BEBERAPA hari lalu, tepatnya Selasa (7/10), seperti yang dilansir laman Antara, pemerintah meluncurkan Rencana Induk Produktivitas Nasional (RIPN) 2025–2029. Rencana nasional ini dalam rangka mempercepat inovasi, memperkuat daya saing industri, dan meningkatkan standar hidup melalui peningkatan produktivitas berkelanjutan.
Menarik sekali peluncuran tersebut. Rakyat kembali mendapatkan angin segar. Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional kian jelas dan terarah dengan adanya RIPN. Harapan rakyat kembali membuncah lewat gebrakan-gebrakan pemerintah. Optimisme kembali menyala. Lebih-lebih saat ini, nampaknya pemerintah sedang berupaya optimal mendorong ekonomi nasional semakin menggeliat.
Ada satu dari lima poin fokus implementasi RIPN yang menjadi perhatian saya. Poin tersebut yaitu penyempurnaan keahlian dan teknologi untuk meningkatkan Total Factor Productivity (TFP). Mengenai hal itu, saya kira, perguruan tinggi memiliki peran sentral untuk mencetak lulusan yang terampil, kompeten, kreatif, adaptif, dan inovatif. Lulusan yang bukan hanya sekadar memiliki growth mindset atau pola pikir untuk berkembang, tetapi juga lulusan yang memiliki bekal skillset dan toolset yang mumpuni.
Skillset ini yakni segenap pengetahuan, ilmu, dan kapabilitas yang bisa diberdayagunakan dalam dunia kerja. Dalam konteks profesional, skillset mencakup penguasaan soft skill (keterampilan interpersonal) dan hard skill (keterampilan teknis).
Kemudian, toolset mengandung pengertian alat atau perangkat yang dipakai untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan tugas. Toolset meliputi segala sesuatu mulai dari perangkat keras dan perangkat lunak komputer hingga alat-alat fisik atau digital lainnya yang mendukung pekerjaan tertentu.
Hemat saya, mindset, skillset, dan toolset menjadi hal yang harus diperhatikan oleh tenaga kerja produktif kita hari ini untuk mendongkrak TFP yang pada akhirnya bisa meningkatkan produktivitas nasional sekaligus daya saing bangsa. Sehingga wajar jika banyak yang berharap kampus mampu mengambil peran aktif dalam meningkatkan kualitas SDM. Tujuannya tiada lain agar nantinya SDM tersebut menjadi akselerator pertumbuhan ekonomi nasional.
Kemudian, terkait upaya menggenjot produktivitas nasional itu memang berhubungan dengan peningkatan TFP. TFP sendiri bisa dinaikkan lewat peran aktif kampus, pemerintah, dan swasta dalam melahirkan SDM yang memiliki daya kreativitas dan inovasi tinggi, menguasai teknologi (khususnya teknologi digital), serta kemampuan manajemen yang mumpuni. Termasuk manajemen mengelola sumber daya agar mampu berproduksi secara efektif dan efisien. Sehingga mencetak SDM unggul menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Apalagi, dalam forum Week of Indonesia-Netherlands Education and Research (Winner) 2025, yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Selasa (7/10/2025), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyatakan bahwa kampus harus menjadi motor perubahan sosial dan ekonomi. Artinya, Brian mendorong kampus bukan hanya sibuk pada urusan belajar, mengajar, dan meneliti, tetapi juga bagaimana mampu menjadi problem solver di tengah masyarakat lewat riset-riset yang relevan dan berdampak pada kehidupan masyarakat. Tentu muaranya adalah lahir lebih banyak lagi sarjana, magister, dan doktor unggul di bidangnya masing-masing yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan produktivitas.
Tidak hanya itu, saya pribadi lewat catatan ini juga mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lebih aktif menjaring dan melahirkan peneliti unggul yang mampu menelurkan banyak gagasan dan penemuan baru, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan produktivitas nasional.
Selanjutnya, pemerintah perlu meningkatkan investasi di bidang riset dan pengembangan sumber daya manusia, efisiensi birokrasi dan regulasi, serta aktif berinovasi di bidang teknologi digital. Tiga langkah tersebut tentu saja untuk mendongkrak TFP. Khusus peningkatan investasi, pemerintah bisa fokus pada investasi asing langsung (FDI) yang membawa teknologi dan keahlian baru yang bisa berdampak positif pada peningkatan produktivitas nasional.
Akhir kata, saya rasa, salah satu kunci meningkatkan produktivitas nasional yaitu mendorong peningkatan kualitas SDM. Terkait hal itu, sinergi dan kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi perlu kembali diperkuat. Apalagi, tantangan ke depan kian beragam dan kompleks. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua harus berbenah total. Kalau tidak, siap-siap digulung dan digilas masifnya perkembangan zaman. Sekali lagi, kita harus bergerak cepat mencetak SDM unggul bukan sekadar untuk meningkatkan produktivitas nasional, tapi juga untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju lainnya.