Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Menjaga Marwah Pondok Pesantren

Muhammad Aufal Fresky • Rabu, 15 Oktober 2025 | 17:42 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN- Belakangan ini, sorotan publik tertuju pada satu media: Trans7. Tagar #BoikotTrans7 menggema di jagat maya. Gelombang protes meluas. Bukan hanya datang dari kalangan pesantren. Hampir semua elemen masyarakat juga angkat suara; mengritik habis-habisan Trans7. 

Duduk perkaranya bermula ketika pada Senin (13/10) kemarin, stasiun TV nasional tersebut menayangkan cuplikan video yang menyinggung santri, kiai, dan pesantren. Nama programnya "Xpose Uncensored.

Saya pribadi melihat tayangan tersebut tendensius dan tak berimbang. Menginjak-injak harkat dan martabat kiai. Benar-benar menampar dan sekaligus mencoreng dunia pesantren. 

Ditambah lagi, yang membuat hati semakin teriris adalah dalam cuplikan video tersebut ada Kiai Anwar Mansur, Pengasuh Ponpes Lirboyo, yang di-framing seolah-olah mengeksploitasi santri. Narasinya berbau fitnah dan merendahkan. Ulama yang sehari-harinya menjadi "kompas" dan "pelita" masyarakat marwahnya dicabik-cabik.

Belum lagi judul salah satu episodenya sangat provokatif dan menodai pesantren. Judulnya yaitu “Santrinya Minum Susu Aja Kudu Jongkok, Emang Gini Kehidupan Pondok?”

Maka tidak heran jika sebagian besar menganggap video itu sebagai tayangan sampah dan murahan. Beritanya dibangun tanpa observasi, riset, dan wawancara.

Kesimpulan yang dibuat serampangan dan tak berdasar. Artinya dari awal hingga akhir, videonya menyudut satu pihak. Memojokkan pesantren, melecehkan santri, dan mencemari martabat kiai.

Bahkan, ada pernyataan narator tayangan tersebut yang membuat saya mengelus dada dan kehabisan kata-kata. Dia bilang:

"Ketemu kiainya masih ngesot dan cium tangan. Dan ternyata yang ngesot itulah yang ngasih amplop. Netizen curiga bahwa bisa jadi inilah kenapa sebagian kiai makin kaya raya."

Tidak hanya itu, sang pengisi suara menambahkan: “Padahal kan harusnya kalau kaya raya mah umatnya yang dikasih duit enggak sih?"

Sontak, cuplikan tayangan yang mengoyak-ngoyak wibawa pesantren ini menuai kecaman banyak pihak. Tidak hanya santri, alumni, dan simpatisan Pesantren Lirboyo, tapi seluruh kalangan pesantren. 

Sebab sekali lagi, video yang ditayangkan bukan saja melanggar kode etik jurnalistik, tapi juga sangat sembrono dan tidak beradab. Menciderai marwah seluruh pesantren di Indonesia.

Terkait hal itu, izinkan saya meminjam pandangan Gus Birril Kholifur Rohman, salah satu kawan saya yang sehari-harinya mengabdikan diri di Pesantren Tanwirul Islam. 

Menurutnya, jasa pesantren untuk masyarakat begitu besar. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan tertua di negeri ini berkontribusi membangun kepribadian luhur generasi penerus. 

Tidak hanya, Gus Birril juga menegaskan bahwa di pesantren itu tidak ada yang namanya perbudakan. Semua yang dilakukan santri terhadap pesantren, ustad, dan kiainya murni karena ngalap/ngamri barokah. Sebagai bentuk totalitas pengabdian santri kepada gurunya.

Artinya, sesuai konteks catatan ini, ketika ada santri memberikan sesuatu kepada kiainya, entah itu berupa uang, barang, dan jasa, itu semua semata-mata karena berharap dan mendambakan ridho sang kiai. Jadi video yang di-framing sedemikian rupa oleh Tim Kreatif Trans7 itu menyesatkan. 

Bisa menghancurkan citra positif pesantren yang sudah terbangun ratusan tahun sebelum Indonesia merdeka, sebelum Trans7 ada.

Kemudian terkait sikap membungkuk, menunduk, atau ngesot sekalipun, sekali lagi itu adalah bagian dari adab penghormatan santri kepada gurunya. 

Tidak feodalisme, tidak primordialisme dalam pesantren. Cara memandangnya saja yang keliru. Bisa jadi memang kru Trans7 yang terlibat dalam produksi video tersebut sama sekali tidak mengenal dunia pesantren.

Atau memang, kalau boleh sedikit curiga, jangan-jangan ada aktor intelektual di belakangnya yang hendak membuat kegaduhan di kalangan umat Islam, khususnya kalangan pesantren. 

Entahlah, yang jelas, semua karyawan yang terlibat penyiaran tayangan tersebut, terutama direktur produksinya harus bertanggung jawab di hadapan hukum, bertanggung jawab kepada seluruh kiai dan pesantren seluruh Indonesia. Tidak cukup dengan meminta maaf.

Sebab, itu keteledoran yang imbasnya besar. Tayangannya sudah terlanjur viral di mana-mana. Artinya, sudah banyak yang menyaksikan. 

Siapa yang menjamin tidak ada yang terpengaruh oleh tayangan Trans7 itu? Lebih-lebih yang awam dengan dunia pesantren. Bisa-bisa ditelan mentah-mentah.

Oleh karena itu, kasus Trans7 ini, hendaknya dijadikan pelajaran bagi media-media lainnya agar tidak sembarangan dalam menyiarkan sebuah tayangan yang belum dikaji secara matang. Apalagi yang menyangkut ajaran atau kultur yang barangkali sama sekali kurang dipahami oleh tim produksinya. 

Khususnya dalam masalah ini, Tim Produksi Trans7 yang untuk ke depannya, hemat saya perlu riset yang mendalam sebelum menayangkan video.

Untuk mengakhiri catatan ini, saya mengajak kita semua untuk sama-sama menjaga marwah pesantren, kiai, dan santri. Sebab pesantren adalah benteng terakhir penjaga moralitas bangsa. Sebab kiai adalah sumber rujukan masyarakat. Sebab santri adalah tunas-tunas muda harapan bangsa.

*) Penulis buku "Empat Titik Lima Dimensi"

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Uways Alqadrie
#trans 7 lecehkan pesantren #Trans 7 lecehkan kiai #Xpose Uncensored TRANS7