Oleh:
Andi Aslindah
Dosen Program Studi PG-PAUD, Universitas Widya Gama Mahakam Samarinda/Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan*
SETIAP pagi di Samarinda, para guru PAUD menyambut anak-anak dengan senyum hangat, tetap setia menemani anak-anak belajar, meski ruang belajar mereka sederhana dan fasilitas terbatas. Ada yang mengajar di ruang sederhana berdinding papan, ada yang menggunakan alat permainan buatan tangan, dan tak sedikit yang masih menanti bantuan pemerintah untuk memperbaiki sarana. Di balik dedikasi itu, kita diingatkan bahwa mutu PAUD tidak bisa dibangun sendiri oleh lembaga pendidikan, tetapi harus melalui kemitraan multisektor.
Pendidikan anak usia dini (PAUD) sering dianggap urusan sekolah semata, cukup dengan guru, ruang bermain, dan kegiatan belajar yang menyenangkan. Padahal, anak usia dini tumbuh dari banyak sisi: fisik, emosi, sosial, moral, dan kognitif. Artinya, layanan PAUD tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi juga harus menyentuh aspek kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan dukungan keluarga. Anak yang kurang gizi atau tumbuh di lingkungan tidak aman akan kesulitan belajar secara optimal. Karena itu, mutu PAUD tidak cukup diukur dari pelaksanaan kurikulum atau kecakapan guru saja, melainkan dari sejauh mana berbagai pihak ikut memastikan anak tumbuh secara utuh, sehat jasmani, cerdas emosi, dan kuat spiritual.
Di sinilah pentingnya pendekatan PAUD Holistik Integratif (PAUD HI), kebijakan nasional yang sudah dicanangkan pemerintah beberapa tahun terakhir. Pendekatan ini memandang anak sebagai subjek yang perlu dilayani secara menyeluruh melalui keterlibatan berbagai sektor: pendidikan, kesehatan, sosial, dan perlindungan anak. Dengan kata lain, membangun PAUD bermutu adalah tanggung jawab bersama, bukan tugas satu sektor semata.
Kemitraan multisektor bukan hanya slogan. Ini adalah strategi untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya secara utuh. Dinas kesehatan dapat menjamin pemantauan gizi dan tumbuh kembang anak. Dinas sosial berperan dalam perlindungan keluarga dan intervensi kesejahteraan. Dunia usaha bisa ikut memperkuat sarana belajar dan pengembangan program.
Ketika semua pihak bekerja dalam satu arah melalui perencanaan mutu bersama, PAUD tidak lagi hanya berbicara tentang kurikulum atau akreditasi, tetapi tentang kualitas hidup anak. Anak yang sehat, bergizi, dan terlindungi memiliki kesempatan belajar yang lebih baik. Inilah makna mutu PAUD yang sesungguhnya, bukan sekadar administratif, tetapi berakar pada kesejahteraan anak.
Di Samarinda, semangat kolaborasi sebenarnya sudah mulai terlihat. Beberapa PAUD menjalin kerja sama dengan puskesmas untuk pemeriksaan kesehatan rutin, ada yang bermitra dengan PKK atau organisasi masyarakat dalam kegiatan parenting, bahkan ada yang melibatkan dunia usaha untuk penyediaan alat bermain. Namun, kolaborasi semacam ini sering masih bersifat sementara, belum menjadi bagian dari sistem perencanaan mutu lembaga. Belum ada mekanisme yang memastikan kerja sama itu berjalan berkesinambungan, terukur, dan memberi dampak nyata bagi anak-anak.
Hasil penelitian yang saya lakukan menunjukkan, banyak lembaga PAUD memahami pentingnya kerja sama, tetapi belum memiliki panduan strategis untuk melibatkan sektor lain secara berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu hadir sebagai penggerak, menyediakan panduan, forum koordinasi, serta rencana aksi bersama yang mengikat komitmen antar sektor. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah menyusun Rencana Aksi Kemitraan PAUD HI di tingkat kota atau kecamatan. Rencana ini melibatkan dinas pendidikan, kesehatan, sosial, dunia usaha, dan organisasi profesi dalam satu kerangka kerja bersama. Dengan cara ini, tanggung jawab peningkatan mutu PAUD menjadi lebih jelas dan terukur.
Mutu PAUD tidak akan terwujud hanya dengan pelatihan guru atau pengadaan alat bermain baru. Yang dibutuhkan adalah gerakan bersama yang menyatukan niat dan langkah berbagai sektor. Pemerintah daerah perlu berperan sebagai pengarah dan penjaga komitmen, bukan sekadar pelaksana proyek tahunan. Kolaborasi multisektor dapat diwujudkan melalui forum atau rencana aksi bersama yang mengikat seluruh pemangku kepentingan. Dengan begitu, PAUD bukan lagi urusan “siapa yang bertanggung jawab”, tetapi menjadi urusan “kita semua peduli.”
Membangun PAUD bermutu berarti menanam benih masa depan bangsa. Di Samarinda, kerja keras para guru sudah menjadi fondasi yang kokoh. Kini saatnya fondasi itu diperkuat dengan tiang-tiang kolaborasi dari berbagai arah: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan budaya. Kita tidak bisa menunggu satu sektor bekerja sempurna. Yang kita butuhkan adalah langkah kecil dari banyak pihak yang berjalan ke arah yang sama. Karena masa depan anak-anak tidak bisa ditunda, dan kemajuan PAUD tidak akan lahir dari perjuangan yang sendirian.
PAUD yang kuat adalah PAUD yang dirawat bersama. Ketika semua tangan terulur, pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan keluarga maka tumbuhlah generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga bahagia. Sebab sesungguhnya, Mutu PAUD tumbuh dari kolaborasi, bukan dari kerja sendirian. (adv/kh/rdh)
*Promotor: Prof. Dr. Hj. Widyatmike Gede Mulawarman, M.Hum ; Co-Promotor : Prof. Dr. Hasbi Sjamsir, M.Hum
Editor : Muhammad Ridhuan