Oleh :
Amir Hady
Sekretaris PW Muhammadiyah Kaltim
HARI Guru selalu menghadirkan renungan yang panjang bagi Muhammadiyah. Bukan hanya karena persyarikatan ini telah berada di garis depan dunia pendidikan lebih dari satu abad, tetapi karena guru, dalam pandangan Muhammadiyah, bukanlah sekadar profesi.
Guru adalah muharrik, penggerak peradaban. Ia bukan hanya pengajar yang mengisi kepala, tetapi pembimbing jiwa yang menata akhlak, membentuk karakter, dan meletakkan fondasi moral bagi masa depan bangsa. Karena itu, ketika wibawa guru mulai tampak terkikis, Muhammadiyah merasa gelisah; bukan semata karena masa depan sekolah terancam, tetapi karena masa depan peradaban ikut diguncang.
Fenomena belakangan ini memperlihatkan kecenderungan yang mengkhawatirkan. Banyak guru menghadapi tekanan, kriminalisasi, hantaman opini, bahkan penghakiman publik yang tidak proporsional.
Di sisi lain, masyarakat menuntut guru untuk mencetak generasi pintar, berakhlak, sopan, kritis, dan kreatif, namun teladan yang diberikan oleh sebagian orang tua, pejabat publik, figur selebritas, atau pemimpin justru bertolak belakang.
Guru diharapkan meluruskan karakter, sementara di luar pagar sekolah, anak-anak disuguhi tontonan perilaku buruk yang justru menjadi role model instan. Dalam kondisi inilah Muhammadiyah mengambil posisi tegas: guru harus dimuliakan, didukung, dan ditempatkan sebagai kekuatan moral bangsa.
Ajaran K.H. Ahmad Dahlan menempatkan pendidikan sebagai jantung gerakan Muhammadiyah. Buya Syafii Maarif dalam banyak kesempatan menegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar, tetapi arsitek kemanusiaan. Inilah ruh yang menempatkan guru sebagai tokoh sentral dalam misi tajdīd, pembaharuan.
Dalam pandangan Muhammadiyah, guru adalah aktor dakwah yang bekerja melalui ilmu pengetahuan. Setiap huruf yang diajarkan adalah bagian dari ibadah, setiap karakter baik yang dibentuk adalah wujud dari implementasi Al-Mā’un, dan setiap siswa yang dibimbing untuk menjadi manusia berakhlak adalah bagian dari jihad peradaban.
Maka, krisis wibawa guru bukanlah persoalan kecil. Itu adalah tanda bahwa masyarakat mulai melupakan fondasi penting: adab mendahului ilmu. Ketika guru dipandang sebagai pelayan, bukan pembimbing; ketika sekolah dipandang sebagai penyedia jasa, bukan rumah ilmu; maka di sanalah peradaban mulai retak.
Muhammadiyah memandang tugas utama Hari Guru hari ini adalah mengembalikan martabat guru pada posisinya yang semestinya: sebagai pendidik umat dan penjaga masa depan bangsa.
Guru sering kali dipaksa memikul beban moral yang tidak seimbang. Di ruang kelas, mereka dituntut mengajarkan sopan santun, kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, dan hormat kepada orang tua. Tetapi begitu siswa keluar dari pagar sekolah, dunia di sekitarnya memberikan contoh sebaliknya.
Media menayangkan gosip, konflik, gaya hidup instan; tokoh publik menunjukkan perilaku yang jauh dari akhlak; sementara sebagian orang tua memberikan teladan amarah, ketidakhormatan kepada aturan, atau ketidakjujuran.
Guru akhirnya seperti bekerja sendirian dalam kesunyian moral. Ia diminta memperbaiki apa yang rusak di luar kendalinya. Dalam banyak kasus, guru berhadapan dengan tuntutan yang tidak realistis: diminta mengubah karakter anak dalam waktu singkat, sementara lingkungan sosial tidak mendukung.
Di sinilah Muhammadiyah memandang bahwa persoalan wibawa guru tidak bisa dipisahkan dari persoalan ekosistem. Jika masyarakat ingin guru dihormati, maka masyarakat harus terlebih dahulu membangun budaya hormat terhadap ilmu dan adab.
Jika orang tua ingin anak taat pada guru, maka orang tua harus lebih dahulu menunjukkan keteladanan. Jika negara ingin guru bermartabat, maka negara harus menjamin keselamatan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum bagi mereka.
Muhammadiyah bukan sekadar suara moral. Persyarikatan ini adalah pelaku langsung pendidikan dengan ribuan sekolah, puluhan ribu guru, dan jutaan siswa. Karena itu, pembelaan terhadap martabat guru bukan hanya wacana, tetapi langkah nyata. Ada tiga arah gerakan yang terus ditegakkan Muhammadiyah:
- Menguatkan Profesionalisme dan Integritas, Guru Muhammadiyah didorong menjadi pribadi teladan: disiplin, jujur, cerdas, dan memiliki kecakapan pedagogik. Sekolah Muhammadiyah menekankan bahwa guru harus menjadi uswah hasanah, bukan hanya pengajar, tetapi figur moral.
- Membangun Ekosistem Pendidikan yang Beradab, Muhammadiyah memandang sekolah bukan sekadar lembaga formal, tetapi pusat pembudayaan nilai. Artinya, wibawa guru tidak dibangun melalui ancaman, tetapi melalui struktur hubungan yang sehat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
- Menyuarakan Perlindungan Hukum dan Keadilan bagi Guru, ketika guru dikriminalisasi, Muhammadiyah sering menjadi salah satu pihak yang mengambil posisi mendampingi, membela, atau memberikan bantuan hukum. Tidak dengan membenarkan kekerasan, tetapi memastikan bahwa guru tidak menjadi korban budaya menghakimi yang berlebihan.
Tantangan terbesar pendidikan hari ini bukan hanya kurikulum yang berubah-ubah, bukan hanya gempuran teknologi, tetapi hilangnya keteladanan publik. Karena itu, Hari Guru harus menjadi momentum kebangkitan moral bangsa. Muhammadiyah melihat bahwa guru tidak bisa dibiarkan bekerja sendirian.
Persyarikatan telah membuktikan satu hal penting: ketika guru dimuliakan, pendidikan akan melesat; ketika guru dihormati, anak-anak akan tumbuh lebih baik; ketika guru diberi ruang untuk berkarya, bangsa akan bangkit.
Hari Guru bukan hanya untuk guru. Ia adalah cermin bagi semua: orang tua, masyarakat, pemimpin, pejabat, dan bangsa. Wibawa guru adalah cermin wibawa bangsa. Bila guru jatuh, bangsa ikut jatuh. Bila guru bangkit, bangsa pun terangkat.
Muhammadiyah mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali pada nilai dasar: menghormati ilmu, memuliakan orang yang mengajarkannya, dan bersama-sama membangun lingkungan pendidikan yang beradab. Karena masa depan Indonesia tidak pernah ditentukan oleh gedung-gedung tinggi atau sumber daya alam yang melimpah, tetapi oleh manusia, dan manusia terbaik selalu lahir dari tangan seorang guru. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan