KALTIMPOST.ID, Ada sebuah kutipan menarik yang saya rasa menjadi otokritik dan bahan evaluasi bagi para politisi tanah air. Penggalan kutipan tersebut berasal dari cendekiawan muslim terkemuka, Ahmad Syafii Maarif.
Dia mengatakan: “Jangan menjadi politikus sebelum mampu dan cukup dalam urusan keuangan keluarga dan jangan jadikan panggung politik itu untuk mengais rezeki.” Sepenuhnya saya sepakat dengan apa yang disampaikan Buya Syafii, sapaan akrabnya.
Bagaimana tidak, bahwa dunia politik tanah air, baik di level lokal maupun nasional, sering kali kita temukan tipikal politisi macam itu.
Menjadikan politik sebagai sarana untuk mempertebal isi dompet. Rakyat hanya dijadikan tangga untuk memenuhi ambisi duniawinya yang tidak terbendung.
Kepentingan diri, keluarga, dan golongannya dijadikan prioritas utama dibandingkan kepentingan publik.
Politisi macam itu sama biasanya menghalalkan segala macam cara, taktik, dan strategi untuk duduk di kursi kekusaan.
Meskipun harus melontarkan fitnah dan ujaran kebencian kepada lawan politiknya, akan dilakukan tanpa beban apapun.
Kendatipun harus “menyogok” pemilihnya dengan ratusan hingga milyaran rupiah, tak jadi masalah. Bagi mereka, asalkan berkuasa, nanti bisa “balik modal” dengan beragam jurus mabuknya.
Tipu muslihatnya memang sekilas nampak samar. Kamuflasenya agak sukar ditebak. Mulanya tampak sama dengan kontestasn lainnya dalam pencalonannya sebagai kepala daerah. Tapi, lambat laun, modusnya itu tercium juga. Sepintar-pintarnya tupai meloncat akan jatuh juga.
Lagi-lagi, rakyat yang akan menananggung akibatnya. Saat terpilih menjadi pejabat publik, watak aslinya akan kelihatan juga.
Karakternya sebagai “bandit” mncul juga. Sehebat apapun siasatnya mengelabui rakyat, cepat atau lambat, “bau busuknya” akan terendus juga.
Artinya, rakyat perlahan akan sadar bahwa ternyata pemimpinnya tidak sungguh-sungguh memperhatikan nasib dan masa depan mereka. Yang diperhatikan hanyalah isi perutnya sendiri berserta gaya hidupnya.
Selain itu, omong kosong. Janji tinggalah janji. Apa yang pernah dilontarkan semasa kampanye hanya pura-pura.
Terbukti, mereka memakai topeng berlapis-lapis hanya untuk nampak sebagai “Juru Selamat” atau “Ratu Adil” bagi masyarakat. Ternyata, usut punya usut, semua hanyalah kemunafikan yang dibungkus dengan retorika.
Sebelumnya, berkoar-koar hendak menyediakan lapangan kerja sebanyak-banyanya, berkomitmen memberantas kemiskinan, bertekad meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan masih banyak janji lain tentunya.
Tapi, kita selaku pemilih, masih menunggu hingga detik ini. Menanti janji yang tak kunjung ditepati. Memang, kepalsuan, sepintar apapun disembunyikan, pastinya akan terkuak. Jangan mentang-mentang berkuasa lalu merasa semua akan tersimpan rapi kebusukan-kebusukannya itu.
Sebab, kekuasaan itu, sekali lagi, ada masanya. Kekuasaan itu tidak langgeng. Akan dipergilirkan. Lagi pula, siapa yang menjamin, kejahatan yang kita lakukan tidak akan terkuak.
Pejabat publik yang bisanya hanya berleha-leha dan bersenang-senang di atas penderitaan rakyat, secara tidak langsung mereka telah menghancurleburkan kepercayaan yang diberikan rakyat kepada mereka. Padahal, rakyat telah memberikan mandat pada mereka untuk memimpin dan mengelola pemerintahan agar sesuai dengan konstitusi.
Nyatanya, setelah berkuasa, mereka lupa daratan, amnesia dengan janji politiknya. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dianggap tidak begitu penting.
Sebab, bagi mereka, rakyat hanya penting untuk diperhatikan saat masa pemilihan untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.
Miris rasanya jika mengamati tingkah polah pejabat publik urat malunya telah putus. Bagaimana tidak, jika ditelisik lebih lanjut, ternyata yang ada di dalam benaknya hanya untuk memperkaya diri dan menaikkan status sosialnya lewat jabatan yang dikejar mati-matian.
Politik tidak lagi dijadikan sarana pengabdian untuk nusa dan bangsa. Politik ternyata sebatas dijadikan batu loncatan untuk memenuhi nafsu hendonismenya yang tak terkendali.
Rakyat dijadikan sapi perah untuk mewujudkan ambisi pribadinya. Idealismenya hanya diucapkan dan diwacanakan di forum-forum publik.
Setelah itu, mereka bertindak semena-mena dan semau-maunya. Artinya, jangan berharap politisi macam itu berjuang karena nilai-nilai luhur.
Dusta belaka jika ada yang berteriak keadilan harus ditegakkan jika faktanya program kerja dan kebijakan yang dikeluarkan sama sekali tidak berpihak pada rakyat. Adalah sebuah pengkhianatan yang teramat nyata terhadap sumpah jabatan yang pernah diucapkan jika gerak-geriknya justru melukai hati rakyat.
Bertindak seperti majikan, padahal mereka sejatinya adalah pelayan. Yang majikan adalah rakyat. Betapa cerdiknya pemimpin semacam itu dalam berkamuflase. Berlaku seakan mendengarkan saran dan kritik rakyat. Padahal, rakyat dipinggirkan dengan sengaja. Sama sekali tidak dijadikan prioritas utama dalam setiap pengambilan keputusan.
Amanah yang diberikan rakyat tidak dijalani dengan penuh kesungguhan.. Jangankan menjalankan, mendengarkan keluh kesah wong cilik saja susahnya minta ampun.
Berulang kali kita mengelus dada dan geleng-geleng kepala, bisa-bisanya mereka selalu mengibuli kita. Tidak ada rasa empati apalagi simpati kepada rakyat yang nelongso. Ogah untuk membela dan apalagi memperjuangkan nasib rakyat.
Politik bagi mereka adalah seni untuk berkuasa dan jalan pintas untuk kaya raya. Politik, bagi mereka, merupakan sarana untuk menaikkan status sosial dalam tempo selekas-lekasnya dengan cara yang selicik-liciknya.
Akhir kata, saya pun telah kehabisan kata-kata melihat kamuflse pemimpin dan politisi seperti yang telah saya paparkan di atas.
Sebab, dibilang bodoh, nyatanya mereka pintar. Tapi sayang seribu sayang, kepintarannya hanya untuk menipu dan merampok uang negara.
Oleh sebab itulah, bangsa dan negara ini, saya rasa membutuhkan lebih banyak lagi politisi-politisi yang jujur, cerdas, dan bertanggung jawab,
Politisi yang berjiwa kesatrria yang rela berkorban untuk bangsa dan negaranya. Politisi yang memang sedari awal terjun ke dunia politik untuk memperjuangkan idealismenya.
Politisi yang siap menang dan siap kalah dalam setiap kompetisi politik. Politisi yang bersedia untuk bertarung secara sportif dalam setiap pemilu/pilkada.
Besar harapan saya, di negeri ini, semakin banyak terlahir, politisi-politisi muda yang siap “melawan” segala bentuk ketidakadilan.
Dan dengan tegas, saya sampaikan pula bahwa kita harus menolak lebih cermat dan hati-hati memilih pemimpin. Jangan tertipu kamuflase politisi!
Editor : Hernawati