Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inovasi Tim SRF ITK: Ubah Residu Sampah Jadi Bahan Bakar Pengganti Batu Bara

Redaksi KP • Sabtu, 14 Februari 2026 | 19:19 WIB

Photo
Photo

PENINGKATAN timbulan sampah perkotaan merupakan konsekuensi langsung dari pertumbuhan penduduk, urbanisasi, dan perubahan pola konsumsi. Di wilayah perkotaan pesisir seperti Kota Balikpapan, pengelolaan sampah menjadi isu strategis karena keterbatasan lahan dan tingginya sensitivitas lingkungan.

TPAS UPTD Manggar sebagai fasilitas pemrosesan akhir utama masih didominasi sistem landfill, yang secara ilmiah diketahui berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), terutama metana (CH₄), serta percepatan degradasi daya tampung TPAS. Pendekatan konvensional tersebut perlu dikombinasikan dengan teknologi pengurangan dan pemanfaatan sampah berbasis sumber daya.

Salah satu opsi yang semakin relevan adalah produksi Solid Recovered Fuel (SRF) pellet dari fraksi sampah residu non-daur ulang. SRF merupakan bahan bakar alternatif yang dihasilkan melalui proses mechanical-biological treatment (MBT), meliputi pemilahan, pencacahan, pengeringan, dan densifikasi.

Fraksi sampah yang umum digunakan mencakup plastik bernilai rendah, tekstil, kertas terkontaminasi, dan residu biomassa. SRF pellet memiliki nilai kalor menengah (15–18 MJ/kg), sehingga layak digunakan sebagai substitusi parsial bahan bakar fosil, khususnya dalam skema co-firing.

Dari perspektif teknik lingkungan, konversi sampah menjadi SRF memberikan dua manfaat utama: (1) reduksi massa dan volume sampah yang ditimbun di landfill, dan (2) penurunan emisi GRK melalui penghindaran emisi metana dan penggantian batu bara.

Berdasarkan estimasi timbulan sampah Balikpapan sebesar ±400–450 ton/hari, potensi pemanfaatan SRF di TPAS Manggar dapat dihitung secara konservatif sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1.

Photo
Photo

Secara ilmiah, angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan SRF di TPAS Manggar berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap mitigasi perubahan iklim di sektor limbah dan energi secara simultan.

Pemanfaatan SRF sejalan dengan Peraturan Presiden tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah, yang menekankan pengurangan sampah dari sumber serta pemanfaatan sampah sebagai sumber daya. Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara eksplisit mendorong penurunan emisi GRK dari sektor limbah dalam kerangka Nationally Determined Contribution (NDC).

Di tingkat daerah, arah kebijakan Kota Balikpapan juga konsisten. Dalam regulasi daerah tentang pengelolaan sampah, Pemerintah Kota Balikpapan menegaskan bahwa:

“Pengelolaan sampah dilaksanakan dengan prinsip pengurangan dan penanganan sampah melalui pemanfaatan kembali dan atau pengolahan sampah menjadi sumber daya yang bernilai guna, berwawasan lingkungan, dan berkelanjutan.”

Upaya mengubah persoalan sampah menjadi peluang energi bersih kini mulai diwujudkan di TPAS UPTD Manggar, Kota Balikpapan. Melalui dukungan Program Pertamina PFsains kategori Implementation, inovasi pengolahan sampah padat non-daur ulang menjadi pellet Solid Recovered Fuel (SRF) tidak lagi berhenti pada tahap riset, tetapi telah masuk ke fase penerapan nyata di lapangan.

Program PFsains berperan penting dalam mendorong lahirnya solusi berbasis sains yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dukungan ini memungkinkan teknologi pengolahan sampah residu yang selama ini hanya berakhir di landfill diolah menjadi bahan bakar alternatif bernilai guna. Inovasi ini sekaligus menjadi bagian dari kontribusi dunia riset terhadap pengurangan emisi dan penguatan transisi energi bersih di daerah.

Pelaksanaan proyek ini dijalankan oleh Tim SRF Institut Teknologi Kalimantan (ITK), yang secara aktif terlibat dalam proses pengolahan sampah, mulai dari pemilahan, pencacahan, hingga pencetakan pellet SRF. Tim ini memastikan bahwa bahan bakar hasil olahan memiliki kualitas yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai energi, sekaligus aman bagi lingkungan.

Keterlibatan perguruan tinggi ini menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai motor penggerak inovasi dan solusi nyata bagi permasalahan perkotaan.

Pellet SRF yang dihasilkan nantinya dirancang untuk mendukung skema co-firing biomassa di PLTU Kaltim Teluk Balikpapan. Melalui skema ini, sebagian penggunaan batu bara dapat digantikan dengan bahan bakar alternatif dari sampah, sehingga emisi karbon dapat ditekan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Langkah ini menjadi contoh nyata bagaimana pengelolaan sampah dan sektor energi dapat saling terhubung dalam satu solusi berkelanjutan.

Sinergi antara Program Pertamina PFsains, Tim SRF ITK, pengelola TPAS Manggar, dan sektor ketenagalistrikan menunjukkan kuatnya kolaborasi lintas sektor dalam menjawab tantangan lingkungan. Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah di TPAS, tetapi juga membuka peluang baru pemanfaatan sampah sebagai sumber energi.

Ke depan, proyek SRF TPAS Manggar diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis energi yang dapat direplikasi di daerah lain, khususnya di Kalimantan Timur.

Lebih lanjut, peraturan kepala daerah mengenai kebijakan teknis persampahan menekankan pentingnya penerapan teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan pada landfill serta mendorong inovasi waste to energy. Redaksi kebijakan ini memberikan dasar hukum yang kuat bagi implementasi SRF pellet di TPAS Manggar.

Meskipun potensinya besar, implementasi SRF memerlukan pengendalian kualitas yang ketat, khususnya terkait kadar air, kandungan klorin, dan abu, agar sesuai dengan spesifikasi industri pengguna. Selain itu, diperlukan integrasi kelembagaan antara pemerintah daerah, pengelola TPAS, sektor energi, dan perguruan tinggi untuk memastikan keberlanjutan operasional dan transfer pengetahuan.

Secara teknis dan kebijakan, pemanfaatan SRF pellet di TPAS UPTD Manggar Kota Balikpapan merupakan solusi yang layak dan strategis. Teknologi ini mampu menurunkan timbulan sampah landfill secara signifikan, mereduksi emisi GRK hingga puluhan ribu ton CO₂-ekuivalen per tahun, serta mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan energi rendah karbon.

Dengan dukungan regulasi daerah dan sinergi lintas sektor, Balikpapan berpotensi menjadi model pengelolaan sampah berbasis energi di Kalimantan Timur. (*)

 

 

 

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#ITK Balikpapan #pengelolaan sampah Balikpapan #institut teknologi kalimantan #balikpapan