Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bukan Sekadar Berburu Reputasi Mentereng

Muhammad Aufal Fresky • Senin, 20 April 2026 | 13:23 WIB
Muhammad Aufal Fresky.
Muhammad Aufal Fresky.

Oleh: Muhammad Aufal Fresky

KALTIMPOST.ID, Ketika perguruan tinggi mengabaikan kualitas lulusannya, saat itu juga alarm keras bagi dunia pendidikan tinggi kita. Kepercayaan publik terhadap perguruan tinggi perlahan akan merosot.

Semakin runyam pula persoalan manakala perguruan tinggi kita, baik negeri maupun swasta, sekadar fokus berlomba-lomba mengejar ranking terbaik di kancah nasional maupun internasional. 

Setiap program studi dan fakultas sebatas menargetkan nilai akreditasi terbaik. Para dosen hanya fokus memeras keringat mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk memenuhi syarat sertifikasi dan kenaikan pangkat/jabatan tanpa memedulikan perkembangan mahasiswanya.

Tri Dharma perguruan tinggi yakni pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat acapkali tidak terintegrasi. Riset/penelitian di perguruan tinggi juga belum sepenuhnya menjawab sejumlah persoalan aktual seperti halnya pengangguran, kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan sebagainya.

Bahkan yang lebih miris lagi adalah ketika hasil riset yang didanai oleh pemerintah ataupun swasta hanya berhenti di rak-rak ruang baca/perpustakaan. Sama sekali tidak memberikan kontribusi atau dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.

Baca Juga: Menyoal Etika Mahasiswa

Pantas saja jika sebagian dari kita berpikiran bahwa jangan-jangan memang dosen, kaprodi, dekan, rektor, dan seluruh jajarannya di berbagai perguruan tinggi tersita waktu, pikiran, dan tenaganya hanya untuk memoles citranya di tengah masyarakat.

Menjadikan peringkat di QS World University Rankings, Webometrics, EduRank/UniRank, Times Higher Education (THE) World University Rankings (WUR), dan sebagainya sebagai hal wajib diutamakan. Tidak jarang pula tepasung dalam tetek bengek urusan birokratis dan administratif.

Sehingga kehilangan substansi dalam mendidik dan mempersiapkan generasi bangsa yang berkarakter, kompeten, kreatif, inovatif, dan bermental baja.

Memang, kita sukar menepis anggapan bahwa banyak perguruan tinggi yang tidak begitu peduli dengan nasib lulusannya. Teramat banyak dan panjang untuk diceritakan perihal lulusan perguruan tinggi yang harus garuk-garuk kepala menerima kenyataan bahwa selembar ijazah yang diperoleh dari kampus ternama tidak memberikan jaminan diterima di dunia kerja.

Maka menjamurlah pengangguran terdidik. Ketimpangan kualitas output perguruan tinggi dan kebutuhan industri menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi memang kuantitas lulusan hari ini tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja. Artinya permintaan terhadap tenaga kerja produktif tidak sebanding dengan penawarannya.

Kampus dipandang hanya sebagai pabrik intelektual inkompeten. Menutup mata atas kenyataan ini sama halnya menunggu keruntuhan nama besar kampus itu sendiri. Bahwa nasib mahasiswa dan alumninya, bagaimanapun juga tidak boleh dilepaskan begitu saja dari peran kampus.

Sebab, sejak awal, kampus mempermak diri sebagai wadah terbaik untuk masa depan yang lebih cerah. Walaupun faktanya banyak alumninya harus pontang panting mencari cara bertahan hidup di tengah kerasnya kompetisi dunia kerja.

Tidak sedikit yang banting setir bekerja di luar jurusannya hanya karena ekosistemnya belum sepenuhnya mendukung. Atau memang yang bersangkutan belum kompeten untuk bekerja di bidang yang digelutinya semasa kuliah. Entahlah.

Herannya lagi, saat publik bertanya di mana tanggung jawab dan peran kampus dalam melahirkan lulusan yang bermutu, perguruan tinggi seakan sibuk memacu mahasiswa dan dosennya untuk menghasilkan sebanyak-banyaknya karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal nasional/internasional. Apa lagi tujuannya jika bukan dalam rangka menaikkan reputasi kampus di mata publik. Padahal, dampak sosialnya tidak terasa.

Baca Juga: Pemuda dan Peradaban Gemilang

Dengan begitu, akan semakin terang benderang bahwa selain persoalan inkompetensi lulusannya, kampus hanya berorientasi pada ranking dan peringkat yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga tertentu. Maka tidak usah terkejut ketika kita menjumpai kenyataan bahwa kampus hari ini kehilangan taringnya. Terutama dalam memberikan kebermanfaatan yang nyata bagi masyarakat.

Selaras dengan hal itu, Mohammad Nuh, dalam Konferensi Puncak Perguruan Tinggi Indonesia (KPPTI) di Universitas Surabaya (Unesa), seperti yang dilansir di laman radarsurabaya.id (21/11/2025) pernah menawarkan gagasan perihal bagaimana mengevaluasi perguruan tinggi lewat dinilai dari dampak sosial yang diberikan.

Dalam kerangka pengukuran tersebut, ada lima klaster utama yang nantinya bisa dijadikan alat ukur penilaian. Di antaranya yaitu: penguatan ekonomi dan sosial, perluasan akses pendidikan, pemanfaatan inovasi untuk penyelesaian masalah masyarakat, kontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan, dan keterlibatan dalam penanganan bencana nasional.

Selaku penulis, saya pun cukup sependapat dengan pemikirannya. Gagasan dari Mohammad Nuh tersebut, saya kira layak untuk dikaji dan dipertimbangkan untuk diimplementasikan.

Hemat saya, untuk mengukur keberhasilan perguruan tinggi, tidak cukup dilihat dari pencapaian ranking yang dinilai dari sebanyak apa publikasi ilmiah mahasiswa dan dosen. Lebih dari itu, pengukuran itu alangkah relevannya jika diukur sejauh mana dampak sosial yang bisa diberikan mahasiswa, alumni, dan dosen terhadap kehidupan masyarakat.

Sejauh mana hasil penelitian atau riset mahasiswa dan dosen bisa menjawab masalah masyarakat. Sejauh mana para alumni bisa berdampak di tengah masyarakat lewat karya, gerakan, dan terobosan yang diciptakan.

Dengan begitu, keberadaan perguruan tinggi akan semakin nyata dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa. Terutama lagi, dalam mengentaskan ragam persoalan masyarakat. Sekali lagi, bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi lulusan-lulusan perguruan tinggi yang betul-betul berkualitas.

Lulusan yang cerdas intelektual, emosional, dan spiritual. Lulusan yang berdaya dan memberdayakan. Lulusan yang proaktif menjadi problem solver. Lulusan yang penuh empati dan simpati terhadap keadaan sekitarnya, terhadap nasib dan masa depan bangsanya. Lulusan yang tidak hanya berpangku tangan melihat kesewenang-wenangan dan ketidakadilan.

Lulusan yang berjiwa pemimpin, visioner, dan cinta tanah air. Lulusan yang bersedia mengabdi dan berdedikasi setulus hati terhadap Ibu Pertiwi. Dan itu semua sukar diwujudkan jika kampus hanya fokus berburu reputasi mentereng. (*)

Editor : Almasrifah
#Reputasi #sertifikasi #dunia pendidikan #perguruan tinggi #tri dharma perguruan tinggi