Oleh:
Surpani Sulaiman
Tokoh dan Politikus Kaltim
DI tengah dinamika kehidupan modern yang sering diwarnai perbedaan pandangan, persaingan kepentingan, dan polarisasi sosial, nilai silaturahmi tetap menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan masyarakat. Nilai ini sesungguhnya bukan hal baru bagi bangsa Indonesia. Jauh sebelum republik ini berdiri, para leluhur di berbagai kerajaan Nusantara telah menunjukkan bahwa kemajuan suatu daerah hanya dapat dicapai melalui kebersamaan dan musyawarah.
Salah satu teladan tersebut dapat ditemukan dalam kisah yang berkembang di masa kejayaan Kerajaan Kutai di tepian Sungai Mahakam. Pada masa itu, Kutai dikenal sebagai wilayah yang dihuni berbagai kelompok masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Ada bangsawan kerajaan, pemuka adat, ulama, pedagang dari berbagai daerah, hingga kepala-kepala kampung yang bertanggung jawab menjaga kehidupan masyarakat di wilayahnya masing-masing.
Keberagaman tersebut menjadi kekuatan sekaligus tantangan. Dalam kondisi normal, seluruh unsur masyarakat dapat hidup berdampingan dan saling mendukung. Namun ketika menghadapi kesulitan, perbedaan kepentingan sering kali memunculkan gesekan yang berpotensi mengganggu persatuan.
Hal itulah yang terjadi ketika musim kemarau panjang melanda Kerajaan Kutai. Air Sungai Mahakam yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat mulai surut. Hasil pertanian menurun, aktivitas perdagangan melambat, dan kekhawatiran mulai menyelimuti berbagai lapisan masyarakat. Situasi yang sulit tersebut memunculkan beragam pendapat mengenai cara mengatasinya.
Sebagian tokoh memiliki pandangan berbeda satu sama lain. Ada yang menilai persoalan harus diselesaikan melalui pembangunan sarana pertanian, ada yang menekankan pentingnya menjaga ketertiban sosial, sementara yang lain lebih fokus pada penguatan ekonomi masyarakat. Perbedaan pandangan itu perlahan menimbulkan ketegangan dan saling menyalahkan.
Menyadari kondisi tersebut, Raja Kutai mengambil langkah yang bijaksana. Alih-alih membiarkan perbedaan berkembang menjadi perpecahan, beliau mengundang seluruh tokoh masyarakat untuk berkumpul di balairung kerajaan. Semua hadir tanpa memandang kedudukan dan status sosial. Bangsawan duduk berdampingan dengan tokoh adat, pedagang, ulama, maupun kepala kampung. Tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Yang diutamakan adalah kepentingan bersama.
Dalam pertemuan itu, setiap orang diberi kesempatan menyampaikan pandangan dan gagasannya. Musyawarah berlangsung terbuka dan penuh penghormatan. Tidak ada suara yang diabaikan, tidak ada pendapat yang dianggap remeh.
Di tengah diskusi tersebut, seorang tetua adat menyampaikan sebuah petuah sederhana namun sarat makna.
"Pohon besar tetap kokoh bukan karena satu akar, melainkan karena banyak akar yang saling menguatkan."
Kalimat itu menjadi pengingat bagi semua yang hadir bahwa kejayaan Kutai tidak pernah dibangun oleh satu kelompok saja. Kemajuan negeri lahir dari kerja sama berbagai unsur masyarakat yang saling melengkapi.
Pesan tersebut menyentuh hati para tokoh. Mereka menyadari bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berpecah. Sebaliknya, keberagaman pemikiran justru dapat menjadi sumber kekuatan apabila disatukan dalam semangat persaudaraan dan gotong royong.
Dari musyawarah itulah lahir berbagai kesepakatan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Para pedagang membantu memastikan distribusi kebutuhan pokok tetap berjalan. Pemuka adat menggerakkan masyarakat untuk menjaga persatuan dan ketertiban. Para ulama memberikan penguatan moral dan spiritual agar masyarakat tidak kehilangan harapan. Sementara pihak kerajaan mengambil langkah konkret dengan memperbaiki saluran air dan membuka lahan pertanian baru untuk meningkatkan ketahanan pangan.
Kerja sama yang terjalin melalui silaturahmi dan musyawarah tersebut akhirnya membuahkan hasil. Beberapa bulan kemudian keadaan berangsur membaik. Pertanian kembali produktif, perdagangan tumbuh lebih ramai, dan kehidupan masyarakat kembali sejahtera.
Dari pengalaman itu lahirlah sebuah petuah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi di tanah Kutai:
"Perbedaan adalah warna, silaturahmi adalah pengikatnya. Ketika para tokoh bersatu, rakyat menjadi kuat dan negeri menjadi bermartabat."
Kisah ini mengandung pelajaran yang sangat relevan hingga hari ini. Dalam kehidupan bermasyarakat, kekuatan terbesar bukanlah jabatan, kekayaan, atau pengaruh yang dimiliki seseorang. Kekuatan sejati terletak pada kemampuan para pemimpin dan tokoh masyarakat untuk duduk bersama, saling menghormati, mendengarkan perbedaan, serta menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Di era modern, tantangan yang dihadapi masyarakat tentu berbeda dengan masa Kerajaan Kutai. Namun esensi persoalannya tetap sama. Ketika masyarakat menghadapi kesulitan ekonomi, persoalan sosial, perubahan teknologi, atau tantangan pembangunan, solusi tidak akan lahir dari perpecahan. Solusi justru muncul melalui dialog, kebersamaan, dan semangat untuk saling menguatkan.
Karena itu, silaturahmi bukan sekadar tradisi sosial atau kegiatan seremonial. Silaturahmi adalah sarana membangun kepercayaan, memperkuat persaudaraan, dan menjaga harmoni di tengah keberagaman. Dari silaturahmi lahir komunikasi yang sehat, dari komunikasi tumbuh kesepahaman, dan dari kesepahaman terbangun kerja sama untuk mencapai kemajuan bersama.
Warisan kebijaksanaan para tokoh Kutai tersebut patut terus dihidupkan dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Sebab sejarah telah menunjukkan bahwa negeri yang kuat bukanlah negeri yang bebas dari perbedaan, melainkan negeri yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan.
Pada akhirnya, pesan yang diwariskan dari tanah Kutai tetap relevan sepanjang zaman: silaturahmi memperpanjang persaudaraan, persatuan melahirkan kemajuan, dan kebijaksanaan para tokoh menjadi penopang kejayaan sebuah bangsa. Jika nilai-nilai itu terus dijaga, maka masyarakat akan tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman, sebagaimana pohon besar yang berdiri tegak karena akar-akarnya saling menguatkan. (***/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan