Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sinkretisme Agung Mataram: Menjaga Jangkar Budaya 1 Suro dan 1 Muharram

Romdani. • Senin, 15 Juni 2026 | 18:42 WIB
Ahmad Busri.
Ahmad Busri.

Oleh: 

Ahmad Busri

Sekjen Sedulur Paguyuban Jawa Tengah Gayeng Tenan Kaltim

Sekjen Paguyuban Demak Kalijogo Balikpapan

 

KALTIMPOST.ID-Malam 1 Suro bukanlah sekadar pergantian kalender, melainkan sebuah momentum sakral bagi kita untuk melakukan mulat sarira atau introspeksi diri dan membaca batin.

Di tengah banjir informasi di dunia digital saat ini, menjaga akar budaya adalah jangkar hidup agar kita tidak kehilangan arah.

Tradisi ini punya sejarah yang mendalam, lahir dari kebijakan luhur Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam, pada 1633 masehi. 

Sultan Agung Telah melakukan sinkretisme cerdas, menyatukan penanggalan hijriah (Islam) dan kalender saka (Jawa-Hindu) menjadi satu ketetapan penanggalan Jawa.

Langkah politis-spiritual itu diambil agar seluruh lapisan rakyat, baik kaum santri maupun abangan, bisa bersatu dalam satu ritme sosial dan ikatan spiritual yang sama tanpa ada sekat pembatas.

Perpaduan kultural itu menegaskan bahwa malam 1 Suro dan 1 Muharram adalah dua sisi dari satu mata uang yang tidak bisa dipisahkan; 1 Muharram membawa spirit hijrah menuju kebaikan secara vertikal kepada Gusti Allah.

Baca Juga: Hyatt Place Semarang Hadir di POJ City, Siapkan 154 Kamar dan Lengkapi Ekosistem Bisnis hingga Hospitality

Sementara 1 Suro mengejawantahkannya ke dalam laku prihatin batiniah secara horizontal. Sejak saat itulah, bulan Suro disepakati sebagai waktu yang wingit atau keramat.

Itu adalah momen khusus bagi manusia untuk melakukan tirakat atau pengendalian hawa nafsu agar hidup kita senantiasa ayem tentrem dalam lindungan Gusti Kang Murbeng Dumadi, sekaligus bentuk membumikan doa awal tahun Islam ke dalam laku budaya Nusantara.

Pada masa lalu, para leluhur mengekspresikan kesakralan malam 1 Suro lewat berbagai ritual yang kaya akan simbol kehidupan. Kaum priyayi di dalam keraton biasanya fokus pada Jamasan Pusaka atau membersihkan senjata pusaka.

Secara esensi intelektual Jawa, itu bukan menyembah benda, melainkan simbol rontoging dosa atau membersihkan jiwa dari karat-karat egoisme dan kesombongan.

Sementara, para sesepuh dan tokoh masyarakat mempraktikkan laku tapa bisu. Mengunci mulut dalam diam adalah cara mereka meredam kebat-kliwating pikiran untuk mendengar suara hati yang paling murni.

Sekaligus menyelaraskan diri dengan kesucian Muharram yang melarang adanya pertumpahan darah dan pertikaian. 

Di akar rumput atau masyarakat biasa, malam Suro dirayakan secara komunal lewat kenduri atau selamatan. Warga berkumpul, manungku puja (berdoa bersama memohon keselamatan tahun baru), dan memotong tumpeng, lalu dilanjutkan dengan lampah tirakat berupa berjalan kaki mengitari wilayah sekitar tanpa bicara. Sebuah bentuk meditasi bergerak untuk menyatu dengan alam dan Sang Pencipta.

Pada era digital yang serba cepat itu, nilai-nilai ngelmu Jawa tersebut sebenarnya sangat kontekstual, sama sekali tidak kuno. Saat ini kita hidup di dunia yang penuh kepalsuan informasi dan ketergantungan akut pada gawai.

Baca Juga: Binus Group dan Paradise Indonesia Kembangkan POJ City, 23 Semarang dan Hyatt Place Lengkapi Ekosistem Terpadu

Dalam sudut pandang modern, laku tapa bisu dan lampah tirakat adalah bentuk digital detox yang paling murni.

Itu adalah momen merdeka ketika kita sengaja mematikan layar ponsel, keluar dari kebisingan media sosial, demi menemukan kembali kedirian kita yang sejati. 

Maka, tantangan zaman ini ada di pundak generasi muda dan paguyuban. Anak muda zaman sekarang tidak bisa lagi dicekoki ritual secara dogmatis. Mereka harus disentuh rasionalitasnya melalui digitalisasi narasi, mengemas esensi Suro dan Muharram ke dalam video pendek, infografis, atau ruang diskusi yang hangat, agar mereka paham isi di balik kulitnya.

Melestarikan malam 1 Suro di tengah modernitas bukanlah sikap kolot yang menolak kemajuan. Itu adalah strategi kebudayaan agar kita ora kelangan jawane atau tidak hilang jati dirinya sebagai manusia yang berbudaya dan ber-Tuhan.

Paguyuban harus tampil sebagai fasilitator yang luwes, yang mampu menerjemahkan tradisi purba itu ke dalam gaya hidup modern tanpa merusak pakem utamanya, terutama nilai unggah-ungguh dan rasa hormat pada leluhur.

Dengan bahasa yang relevan, perayaan Suro akan tetap menjadi ruang kontemplasi yang sejuk bagi generasi penerus.

Melalui laku ini, kita tidak sekadar merawat romantisme sejarah masa lalu, tetapi sedang membentuk karakter masyarakat yang memiliki landep teko mikir, jembar teko dodo atau tajam dalam berpikir, namun luas dan bijaksana dalam melapangkan dada hadapi perubahan zaman. (rd)

Editor : Romdani.
#ibu kota nusantara #malam tahun baru #tahun baru islam #Kutai Barat #Muharram 1447 H