KALTIMPOST.ID - Gegap gempita Piala Dunia 2026 yang dilaksanakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mendapat atensi dari jutaan orang penggemar sepak bola di seluruh dunia. Suporter tim nasional dari negara yang bertanding berbagi keseruan dengan suporter tim nasional lawannya dengan menonton langsung di stadion.
Namun demikian keseruan Piala Dunia 2026 tidak hanya milik suporter yang bernyanyi dan berjingkrak-jingkrak di tribun stadion. Jutaan suporter dan penikmat sepak bola dari berbagai negara turut menjadi bagian dari euforia Piala Dunia 2026 melalui layar televisi, layanan streaming, maupun nonton bersama di ruang-ruang publik.
Situs Inside FIFA menyebutkan bahwa lebih dari 54 juta orang di ketiga negara penyelenggara menyaksikan pertandingan pembuka Piala Dunia. Laga pembuka antara Amerika Serikat versus Paraguay ditonton oleh 27,5 juta pemirsa televisi/streaming, menjadikannya pertandingan sepak bola dengan jumlah penonton televisi terbanyak sepanjang sejarah penyiaran di Amerika Serikat. Capaian tersebut menegaskan bahwa Piala Dunia tetap menjadi magnet yang mampu menyatukan perhatian penduduk bumi.
Satu hal yang menarik dari Piala Dunia kali ini adalah status Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah dan keikutsertaan tim nasional sepak Republik Islam Iran sebagai wakil dari konfederasi Asia. Situasi ini membuat perhatian sebagian penduduk dunia tidak saja yang terjadi di lapangan, namun juga yang terjadi di luar lapangan.
Sebagaimana diketahui Amerika Serikat dan Republik Islam Iran saat ini sedang dalam situasi konflik bersenjata yang jika tidak segera dicari penyelesaiannya dapat memicu terjadi konflik bersenjata yang lebih besar. Tidaklah menjadi sebuah keseruan yang membahagiakan jika world cup dibarengi dengan potensi world war.
Perjalanan Tim Nasional Iran menuju Piala Dunia 2026
Tim nasional sepak bola Iran memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 pada 25 Maret 2025 setelah bermain imbang 2-2 melawan Uzbekistan dalam lanjutan putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia. Hasil tersebut mengantarkan Team Melli (julukan Tim Nasional Sepak Bola Iran) menjadi salah satu wakil Asia di putaran final Piala Dunia 2026.
Di bulan yang sama dengan lolosnya Team Melli ke Piala Dunia 2026, terjadi ketegangan antara Pemerintah Republik Islam Iran dengan Pemerintah Amerika Serikat, yang persoalan program nuklir Iran kembali dipermasalahkan oleh Amerika Serikat.
Donald J. Trump, Presiden Amerika Serikat, pada awal Maret 2025 menyampaikan kepada Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran Ayatollah Ali Khamenei agar mau membuka jalur perundingan mengenai program nuklir Iran. Kantor berita internasional Reuters memberitakan bahwa pada akhir Maret 2025, Presiden Trump kembali melancarkan ultimatum bahwa jika Iran tidak membuka jalur perundingan dan mencapai kesepakatan, maka Amerika Serikat akan mengebom Iran.
Respons Iran terhadap ultimatum tersebut adalah dengan mengirimkan surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan menyebutkan bahwa ultimatum Amerika Serikat reckless and belligerent" (ceroboh dan bersifat menghasut perang) yang tidak selaras dengan prinsip-prinsip dalam Piagam PBB terutama Pasal 2 ayat 3 dan ayat 4 serta Pasal 33. Sejak di titik inilah hubungan kedua negara menjadi lebih buruk. Persiapan Team Melli menuju Piala Dunia 2026 diiringi dengan situasi perubahan dari jalur diplomasi menuju konfrontasi militer.
Baca Juga: Tembus Panggung ASEAN dan AFC, Borneo FC dan Persib Bandung Ditunggu Jadwal Padat
Amerika Serikat Serang Fasilitas Nuklir Iran
Eskalasi konflik Amerika Serikat-Iran mencapai puncaknya ketika pada 21/22 Juni 2025, Presiden Trump mengumumkan bahwa militer AS menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran (Fordow, Natanz, dan Isfahan). Presiden Trump menyatakan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut telah "completely and totally obliterated" (sepenuhnya dihancurkan), sekaligus memperingatkan Iran agar memilih jalan damai atau menghadapi serangan lanjutan.
Perlu diketahui, bahwa seminggu sebelum Amerika Serikat menyerang fasilitas nuklir Iran, Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas nuklir, pangkalan militer, dan sejumlah pejabat tinggi Iran yang kemudian dibalas oleh Iran dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel.
Terjadilah saling balas serang-menyerang antara Iran dan Israel yang dilanjutkan dengan “turut campur” sekaligus menandai keterlibatan militer langsung pertama Amerika Serikat dalam konflik Iran versus Israel. Adapun terhadap serangan Amerika Serikat ke fasilitas nuklirnya, Iran membalas dengan serangan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang menjadi markas militer Amerika Serikat.
Dari perspektif hukum internasional, Iran berupaya mendasarkan tindakan militernya pada Pasal 51 Piagam PBB mengenai hak membela diri setelah menjadi sasaran serangan bersenjata. Namun, legalitas penggunaan hak tersebut tidak berhenti pada klaim semata. Hukum internasional mensyaratkan bahwa tindakan pembelaan diri harus memenuhi prinsip necessity dan proportionality, sehingga pertanyaan apakah seluruh respons militer Iran telah memenuhi kedua syarat tersebut tetap menjadi perdebatan di kalangan akademisi dan praktisi hukum internasional.
Konflik bersenjata tersebut berlangsung beberapa minggu sampai dengan pada akhir Juni 2025, Presiden Trump mengumumkan bahwa ada Iran dan Israel menyepakati gencatan senjata penuh. Walaupun pada awalnya masih terjadi beberapa pelanggaran, secara umum gencatan senjata tetap bertahan dan mengakhiri perang yang berlangsung sekitar dua belas hari, meskipun setelahnya masih terdapat ketegangan dan insiden sporadis.
Persiapan dan Drawing Piala Dunia 2026
Di saat konflik berlangsung, Tanggal 5 dan 10 Juni 2025 , Team Melli masih menjalani dua laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Qatar (kalah 1-0) dan Korea Utara (menang 3-0). Kemenangan atas Korea Utara menjadi penutup manis perjalanan Iran pada kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, beberapa hari kemudian, perhatian bangsa Iran beralih dari lapangan hijau ke medan konflik ketika Israel melancarkan serangan terhadap Iran.
Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat terlibat langsung dalam operasi militer. Dalam rentang waktu kurang dari dua pekan, Iran mengalami transisi yang dramatis dari merayakan kelolosan Piala Dunia 2026 menuju menghadapi perang.
Eskalasi konflik dengan Israel dan Amerika Serikat tidak menghambat persiapan Team Melli menuju putaran final Piala Dunia 2026. Tercatat pada bulan Oktober 2025 Team Melli bertanding pada FIFA Match Day melawan Rusia (kalah 2-1) dan Tanzania (menang 2-0) dilanjutkan dengan laga di bulan November 2025 melawan Tanjung Verde dan Uzbekistan (keduanya Iran menang adu penalti).
Persiapan Piala Dunia berlanjut secara berturut-turut dengan turun laga pada bulan Maret 2026 (kalah 2-1 lawan Nigeria dan menang 5-0 lawan Kosta Rika), Mei 2026 (imbang 0-0 lawan Gambia), dan awal Juni 2026 (menang 2-0 lawan Mali).
Situasi ini seolah-olah menandakan bahwa walaupun sedang berkonflik dengan Israel dan Amerika Serikat, tidak lantas menghambat persiapan Team Melli menuju putaran Piala Dunia 2026, walaupun akibat dari konflik bersenjata, semua pertandingan kandang Team Melli harus dilakukan di negara lain (main di Uni Emirat Arab dan Turki) dengan alasan keselamatan.
Sampai akhirnya, berdasarkan hasil drawing Piala Dunia 2026 menempatkan Team Melli di Grup G bersama dengan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir dengan pertandingan yang akan dilaksanakan SoFi Stadium, Los Angeles dan Lumen Field, Seattle, Washington.
Sebuah “friksi” di luar lapangan, Iran harus pergi ke Amerika Serikat dan Amerika Serikat harus menerima Iran di american soil dalam kondisi kedua negara sedang berkonflik. Di luar lapangan, kedua negara masih dibayangi dinamika konflik, di dalam stadion, keduanya dipersatukan oleh aturan yang sama di bawah bendera FIFA.
Baca Juga: Rapat Paripurna DPRD Kaltim Batal, Jahidin Sebut Pemprov Lecehkan Marwah Legislatif
Di bawah bayang-bayang konflik kedua negara, Team Melli tetap memilih hadir di Piala Dunia. Alih-alih mundur atau menjadikan situasi politik sebagai alasan untuk mengundurkan diri, Team Melli menunjukkan bahwa tugas mereka adalah bertanding, membawa nama bangsa, dan menghormati kompetisi sepak bola dunia.
Memang sempat Federasi Sepak Bola Iran mengusulkan agar pertandingan yang melibatkan Team Melli dipindahkan ke Meksiko atau Kanada, namun usulan tersebut ditolak FIFA dengan alasan teknis, namun FIFA berjanji membantu Iran untuk berkomunikasi dengan Pemerintah Amerika Serikat terkait penerbitan visa dan membantu pengaturan logistik agar Team Melli tetap dapat bertanding di Amerika Serikat. (*)
Catatan Mahendra Putra Kurnia
Penulis merupakan dosen di Fakultas Hukum Universitas Mulawarman, Samarinda
Editor : Ery Supriyadi