Oleh: Muhammad Aufal Fresky, esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Pada mulanya saya tidak begitu mengetahui betul siapakah sosok bernama lengkap Fathimah Azzahra. Belakangan namanya mencuat dan menjadi perbincangan publik. Viral di jagat media sosial (medsos) dan menjadi pemberitaan di berbagai media arus utama sebab vokal mengkritisi program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.
Karena itulah, saya pun mulai menelusuri, siapakah perempuan kritis tersebut? Usut punya usut, ternyata dia adalah mahasiswi Kedokteran Universitas Indonesia (UI) yang juga sedang menjabat sebagai Wakil Ketua BEM UI. Aspirasinya dianggap mewakili kegelisahan masyarakat terkait tata kelola pemerintahan saat ini.
Dalam program Catatan Demokrasi yang ditayangkan di kanal YouTube @tvOneNews, Selasa (23/6/2026), Fathimah menguliti habis-habisan korupsi yang melibatkan lingkaran dekat Prabowo. Terutama pentolan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menjadi tersangka korupsi pengelolaan MBG. Dia menegaskan, penangkapan koruptor bukanlah suatu kebaruan atau prestasi pemerintah.
Hal itu menurutnya adalah suatu kewajiban yang memang seharusnya dilakukan. Dan penangkapan koruptor, sekali lagi, adalah bukti sistem yang dibentuk pemerintah masih gagal.
Baca Juga: Idealisme Mahasiswa di Ujung Tanduk?
Tidak hanya itu, dia juga mengkritisi respons pemerintah terhadap aksi-aksi demonstrasi mahasiswa. Dia merasa pemerintah bersikap nirempati terhadap aspirasi arus bawah. Selaku penulis, saya cukup salut dengan keberanian Fathimah. Di depan wartawan, dalam sorotan kamera, di hadapan ribuan atau bahkan jutaan pasang mata, dia secara terang-terangan mengoreksi kebijakan dan program unggulan pemerintah.
Padahal, bukan tidak mungkin, ada pihak yang kebakaran jenggot, yang bisa saja mengintimidasi dan bahkan melakukan ancaman secara psikologis dan fisik kepadanya. Keberanian Fathimah dalam mengambil risiko patut diacungi jempol. Tidak semua aktivis sevokal dan seberani dirinya.
Sebelumnya, barangkali telah kita ketahui bersama, ada sosok bernama Tiyo Ardianto, aktivis mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga berani dan vokal mengkritik tajam tata kelola MBG. Belum lagi jaringan aktivis mahasiswa di berbagai wilayah di Tanah Air yang saat ini masih menyuarakan kepentingan rakyat.
Baca Juga: Mahasiswa sebagai Pilar Kekuatan Sipil
Hal tersebut tentu saja menjadi kabar gembira bahwa demokrasi kita masih belum sepenuhnya sekarat. Mahasiswa sebagai kekuatan sipil nyatanya masih menyimpan kepedulian yang cukup tinggi terhadap nasib dan masa depan bangsanya. Mahasiswa sebagai kekuatan moral dan sekaligus kontrol sosial masih menaruh empati dan simpati terhadap jeritan hati rakyat.
Kendatipun beberapa hari lalu kita sempat dihebohkan oleh aktivis mahasiswa dari Universitas Bung Karno (UBK) yang menerima uang terkait aksi unjuk rasa, hal itu tidak menjadi alasan untuk mengendorkan gerakan mahasiswa secara keseluruhan. Justru hal itu menjadi momentum untuk membangun soliditas pergerakan mahasiswa agar lebih kokoh.
Hal itu juga menjadi alarm pengingat bahwa gerakan mahasiswa harus berbasiskan integritas yang tinggi. Bahwa gerakan mahasiswa wajib bersandarkan pada moralitas. Tanpa hal itu, idealisme yang mereka usung hanya berada di tataran wacana. Sebab, realitasnya justru mereka menjadi pengkhianat demokrasi itu sendiri.
Lebih lanjut lagi, salah satu hal yang patut diwaspadai adalah adanya penunggang gelap atau pihak-pihak yang sengaja menjadi provokator untuk melemahkan gerakan mahasiswa. Pihak-pihak yang sengaja menyusup ke dalam aksi demonstrasi hanya untuk mengendalikan kekuatan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat. Pihak-pihak yang dengan sistematis dan terencana hendak mengadu domba mahasiswa dengan tujuan mempersempit ruang gerak demonstrasi.
Baca Juga: Kartelisasi Politik dan Absennya Kekuatan Oposisi
Lagi pula, yang diperjuangkan mahasiswa adalah kepentingan rakyat. Untuk apa takut dan khawatir berlebihan? Bukankah demonstran-demonstran tersebut adalah calon pemimpin bangsa di masa depan? Bukankah mereka semua adalah anak-anak kita yang akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa di berbagai lini?
Seharusnya pemerintah berterima kasih atas kepedulian anak-anak muda ini. Di saat mahasiswa lainnya mungkin apatis, justru aktivis-aktivis ini menjadi pendobrak, inisiator, konseptor, dan bahkan aktor perubahan yang berdiri tegak di belakang rakyat.
Kembali lagi terkait Fathimah, saya pikir, sudah saatnya spiritnya dihidupkan di berbagai organisasi intra dan ekstra kampus. Bahwa Fathimah ini berani bersuara dan kritis menyikapi keadaan. Dia tidak hanya berpikir bagaimana cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan yang mapan.
Semacam ada panggilan jiwa, seolah ada yang mengusik nuraninya, bahwa kepintaran dan kecerdasannya harus diberdayakan untuk bangsa dan negaranya. Sepertinya dia paham betul, negerinya sedang tidak baik-baiknya. Tampaknya dia mengerti, pemimpinnya perlu diingatkan agar tidak semakin jauh menyimpang.
Baca Juga: Ketika Wakil Rakyat “Membisu”
Spirit perjuangan Fathimah perlu ditiru oleh aktivis-aktivis lainnya. Dia tidak bisa bergerak sendirian. Apalagi hanya dengan gerbong BEM UI-nya itu. Perlu ada semacam konsolidasi yang menyeluruh antaraktivis dan simpul-simpul organisasi mahasiswa di berbagai wilayah agar misi yang dibawa selaras. Agar target yang dituju senada. Agar pergerakan mahasiswa tidak gampang terombang-ambing, mudah diadu domba atau dipecah, dan apalagi dibajak pihak-pihak tertentu.
Bagaimanapun juga, pergerakan mahasiswa haruslah murni karena dan untuk rakyat, karena dan untuk bangsa dan negara. Selain itu, gerakan mahasiswa perlu dijaga dari kepentingan-kepentingan pragmatis yang dapat merusak idealisme perjuangan.
Pemerintah, selaku penerima mandat rakyat, memang semestinya diimbangi, diawasi, dan dikontrol oleh kelompok mahasiswa sebagai kekuatan sipil. Jika tidak, besar kemungkinan pemerintah akan bersikap sewenang-wenang dan otoriter. Dan hal itu sama sekali tidak kita kehendaki.
Maka dari itulah, masa depan demokrasi kita, salah satunya, ditentukan oleh mahasiswa hari ini, yakni mahasiswa yang visioner, cerdas, berintegritas, kritis, nasionalis, dan patriotik. (*)
Editor : Almasrifah