Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Euforia Piala Dunia 2026 dan Nasionalisme Cair

Redaksi • Rabu, 1 Juli 2026 | 20:03 WIB
Zulkifli Abdullah, mahasiswa Program S3 Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.
Zulkifli Abdullah, mahasiswa Program S3 Ilmu Politik, Universitas Hasanuddin.

KALTIMPOST.ID - Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko bukan hanya ajang bagi 48 negara memperebutkan trofi paling bergengsi di dunia sepak bola. Lebih dari itu, turnamen ini menjadi panggung yang memperlihatkan bagaimana manusia modern membangun rasa memiliki, loyalitas, dan identitas. Bahkan kepada bangsa yang bukan tanah kelahirannya.

Lihat saja suasana di berbagai kota di Indonesia, sejak dimulainya perhelatan Piala Dunia, mulai kafe, hotel, restoran hingga warung-warung kopi dipenuhi penonton yang rela begadang hingga dini hari. Sorak-sorai pecah setiap kali gol tercipta, sementara wajah-wajah tegang menghiasi layar ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir.

Yang menarik, banyak di antara mereka mengenakan jersey tim nasional favoritnya dengan penuh kebanggaan, mulai dari Argentina, Portugal, Brasil Jepang, Jerman, Prancis, dan berbagai jersey tim nasional peserta Piala Dunia 2026.

Ketika tim favorit mereka menang, mereka bersorak seolah ikut membawa pulang kemenangan. Sebaliknya, ketika kalah, rasa kecewa bahkan tangis haru tampak begitu tulus. Emosi yang muncul terasa nyata, bukan dibuat-buat. Seakan-akan yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan harga diri mereka sendiri.

Baca Juga: Latsarmil, KDMP, dan Citra Pemerintah

Padahal, jika dipandang secara administratif maupun geopolitik, hubungan itu nyaris tidak ada. Di antara mereka banyak yang bukan warga negara yang ikut bertanding di Piala Dunia tahun ini.  Mereka tidak berbicara dalam bahasa sehari-hari negara tersebut, tidak membayar pajak di sana, bahkan banyak yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di negara yang mereka bela dengan begitu emosional.

LALU, MENGAPA IKATAN ITU BISA TERASA BEGITU KUAT?

Di sinilah sepak bola memberi kita pelajaran penting tentang perubahan masyarakat modern. Loyalitas tidak lagi selalu lahir dari batas-batas teritorial atau kewarganegaraan. Identitas kini semakin lentur, dibangun melalui pengalaman bersama, konsumsi media, budaya populer, dan kedekatan emosional yang melampaui batas negara.

Fenomena inilah yang dapat disebut sebagai nasionalisme cair, sebuah bentuk identitas yang tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh tempat lahir atau status kewarganegaraan, melainkan oleh afeksi, pilihan, dan rasa memiliki yang dibentuk melalui interaksi global.

Dalam konteks Piala Dunia, jutaan orang dapat merasa menjadi bagian dari sebuah bangsa selama 90 menit pertandingan, tanpa pernah benar-benar menjadi warga negara bangsa tersebut.

KETIKA IDENTITAS TIDAK LAGI “PADAT”

Untuk memahami fenomena ini, kita bisa kembali pada pemikiran Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983). Anderson berargumen bahwa bangsa pada dasarnya adalah komunitas terbayang. Kita tidak pernah mengenal sebagian besar sesama warga negara, tetapi tetap merasa terikat oleh sejarah, bahasa, simbol, dan narasi kebangsaan yang sama.

Pada masa itu, nasionalisme masih bersifat "padat": identitas nasional melekat kuat pada wilayah, kewarganegaraan dan tempat kelahiran. Namun, dunia telah berubah. Globalisasi dan revolusi digital membuat batas-batas geografis tidak lagi menjadi penentu utama rasa memiliki. Di sinilah gagasan Zygmunt Bauman tentang Liquid Modernity (2000) menjadi relevan.

Bauman menjelaskan bahwa kehidupan modern ditandai oleh identitas yang semakin lentur, dinamis, dan mudah bergeser mengikuti arus perubahan. Jika dahulu nasionalisme diwariskan melalui negara, kini ia juga dibentuk oleh pengalaman, media, dan budaya populer yang melintasi batas-batas teritorial.

Sepak bola merupakan salah satu ruang paling nyata dari perubahan itu. Siaran langsung beresolusi tinggi, film dokumenter di platform streaming, hingga algoritma media sosial seperti TikTok, Instagram, dan X memungkinkan jutaan orang mengikuti kehidupan sebuah tim nasional secara sangat intim.

Baca Juga: DPRD Mahulu Sambut Sinergi Kaltim-Kaltara, Dorong Percepatan Jalan Penghubung ke Malinau

Kita tidak hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga mengonsumsi kisah perjuangan para pemain, sejarah kejayaan dan kegagalan sebuah bangsa, hingga filosofi permainan yang mereka anut. Kedekatan emosional itu perlahan menciptakan rasa memiliki yang tidak lagi bergantung pada paspor atau tempat lahir.

Akibatnya, nasionalisme mengalami apa yang dapat disebut sebagai “detasemen territorial”. Ikatan terhadap sebuah bangsa tidak lagi sepenuhnya berakar pada wilayah fisik, tetapi juga pada pengalaman emosional yang dibangun melalui ruang digital.

Seseorang dapat tetap menjadi warga negara Indonesia yang mencintai Merah Putih, tetapi selama 90 menit pertandingan berlangsung ia larut sebagai pendukung Argentina, Portugal, Brasil, Jepang, Jerman, Prancis atau negara lain. Bukan karena ia berpindah kewarganegaraan, melainkan karena afeksi dan identitas simboliknya untuk sementara menemukan rumah di tempat lain.

Fenomena suporter Piala Dunia 2026 pada akhirnya menunjukkan bahwa nasionalisme tidak sedang menghilang, melainkan sedang berubah bentuk. Dari identitas yang kaku dan teritorial sebagaimana dijelaskan Anderson, bertransformasi menjadi identitas yang lebih lentur sebagaimana digambarkan Bauman.

Baca Juga: Hotel Bintang Tiga Jadi Primadona! Okupansi Hotel Berbintang di Balikpapan Melesat 55,98 Persen

Di era media digital, loyalitas tidak lagi hanya lahir dari batas negara, tetapi juga dari cerita, emosi, dan pengalaman bersama yang melampaui peta politik dunia. Sepak bola membuktikan bahwa di abad ke-21, bangsa bukan hanya tempat kita dilahirkan, tetapi juga ruang emosional yang kita pilih untuk kita bela.

ILUSI DAN PELARIAN SEMENTARA

Fenomena ini perlu dibaca secara lebih jernih. Nasionalisme cair yang muncul dalam sepak bola tidak sepenuhnya menggantikan nasionalisme yang sesungguhnya. Ia lebih merupakan identitas yang bersifat sementara, lahir dari intensitas emosi sebuah turnamen, lalu perlahan memudar ketika euforia berakhir.

Setelah peluit panjang babak final dibunyikan, jersey-jersey Argentina, Portugal, Brasil, Jepang, Jerman, Prancis dan tim nasional negara-negara peserta Piala Dunia 2026 kembali tersimpan di lemari. Kehidupan pun berjalan seperti biasa, dan identitas kebangsaan yang nyata kembali mengambil tempat.

Di sisi lain, dukungan yang begitu besar terhadap tim nasional asing juga dapat dipahami sebagai bentuk kompensasi psikologis. Ketika tim nasional Indonesia masih berjuang menembus level tertinggi sepak bola dunia, sebagian suporter menemukan ruang untuk ikut merasakan pengalaman menjadi pemenang melalui negara lain yang mereka kagumi.

Baca Juga: Bukan dari Pemerintah! Okupansi Hotel di Balikpapan Tembus 58 Persen Juni 2026, Sektor Ini yang Jadi Penyelamat!

Mereka tidak sekadar mendukung sebuah tim, tetapi juga mengidentifikasi diri dengan kisah sukses, tradisi juara, dan narasi kepahlawanan yang dibangun oleh bangsa tersebut selama puluhan tahun. Karena itu, mendukung Argentina, Portugal atau negara lain bukanlah persoalan berpaling dari Indonesia.

Fenomena ini lebih mencerminkan bagaimana manusia modern mencari ruang afeksi dan pengalaman emosional yang mampu memenuhi kebutuhan akan kebanggaan kolektif. Dalam dunia yang semakin terhubung, kemenangan sebuah tim nasional dapat dirasakan sebagai kemenangan personal oleh jutaan orang yang sama sekali tidak memiliki hubungan kewarganegaraan dengannya.

Ironisnya, justru di balik nasionalisme yang tampak mengglobal itu, tersimpan kerinduan yang sangat lokal: keinginan untuk suatu hari nanti menyaksikan Indonesia berdiri di panggung yang sama, memainkan laga-laga besar, dan menghadirkan euforia yang tidak perlu lagi "dipinjam" dari bangsa lain.

Baca Juga: 20 Titik Padam hingga Tengah Malam di Samarinda, Rabu 1 Juli 2026: Dari Jalan KS Tubun hingga Abdul Muthalib

Barangkali itulah pesan terdalam dari Piala Dunia, bahwa di balik gegap gempita mendukung tim asing, tetap ada harapan agar suatu saat Merah Putih menjadi sumber kebanggaan kolektif yang dirayakan oleh bangsanya sendiri.

MERAYAKAN CAIRNYA BATAS DUNIA

Meski demikian, nasionalisme cair tidak perlu dipandang secara pejoratif atau dianggap sebagai ancaman bagi rasa cinta tanah air. Mendukung Argentina, Portugal, atau negara lain selama Piala Dunia tidak serta-merta membuat seseorang kehilangan identitas sebagai warga Indonesia. Justru fenomena ini menunjukkan bahwa identitas manusia pada era global dapat bersifat berlapis.

Kita tetap dapat mencintai tanah air, sembari mengagumi dan merayakan kisah, nilai, atau budaya bangsa lain melalui sepak bola. Dalam konteks itu, Piala Dunia 2026 memperlihatkan salah satu wajah paling indah dari globalisasi.

Selama 90 menit pertandingan, jutaan orang dari berbagai negara dapat larut dalam emosi yang sama, bersorak atas gol yang sama, dan merasakan kesedihan yang sama, tanpa mempersoalkan asal-usul, bahasa, agama, ataupun kewarganegaraan. Sepak bola menciptakan ruang perjumpaan yang sering kali gagal diwujudkan oleh politik dan diplomasi.

Di tengah dunia yang semakin dipenuhi polarisasi, rivalitas geopolitik, dan menguatnya sentimen identitas, sepak bola justru mengajarkan bahwa batas-batas itu dapat menjadi lebih cair. Ia memperlihatkan bahwa empati, rasa memiliki, dan solidaritas tidak selalu berhenti di garis perbatasan sebuah negara.

Manusia tetap mampu membangun ikatan emosional dengan mereka yang berbeda, bahkan dengan bangsa yang berjarak ribuan kilometer. Barangkali inilah pelajaran terbesar yang ditawarkan Piala Dunia. Di satu sisi, ia tetap merayakan kebanggaan nasional melalui bendera, lagu kebangsaan, dan identitas setiap negara peserta.

Namun, di sisi lain, ia juga merayakan cairnya batas-batas dunia. Di atas lapangan hijau, kita diingatkan bahwa sebelum menjadi warga negara dari bangsa tertentu, kita terlebih dahulu adalah sesama manusia yang mampu berbagi kegembiraan, harapan, dan air mata. Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin terbelah, tidak ada bahasa yang lebih universal untuk merayakan kemanusiaan selain sepak bola. Selamat mendukung tim nasional favoritnya! (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Nasionalisme Cair #Suporter Bola Indonesia #Zulkifli Abdullah #Euforia Piala Dunia #piala dunia 2026