oleh RANDU ALAMSYAH*
Sembari mengetik di sebuah kafe di Surabaya Barat, saya melirik ke grup WhatsApp saya yang tak henti-hentinya berdenting. Isinya adalah perdebatan tentang acara apa yang dibatalkan, atau janji temu yang dpindah karena alasan pemadaman bergilir.
Terlalu lelah sebenarnya untuk sebuah ironi. Kalimantan menghidupkan listrik di Jawa dan Bali, termasuk listrik di kafe tempat saya menulis saat ini. Namun, lumbung tak selalu dialiri listrik, lampu-lampu menyala hanya di rumah-rumah pemilik kebijakannya.
Sebagai orang yang sering melintas melalui kapal di Laut Jawa, saya kerap berpapasan dengan tongkang-tongkang besar yang menuju Jawa. Setiap hari, ada 20 hingga 40 kapal besar bermuatan setidaknya 15.000 hingga 30.000 ton yang berangkat dari pelabuhan-pelabuhan batubara di Kalimantan Selatan dan Timur.
Kontribusi Kalimantan untuk pasokan batubara nasional mencapai 82 persen.
Artinya, dari 50-60 persen pembangkit listrik yang dibakar dari batubara, 70 pasokannya berasal dari Kalimantan. Jika batubara tak berproduksi di Kalimantan atau RKAB perusahaan telat, kemungkinan besar lampu di Jawa juga bisa berkedap-kedip.
Namun itu tak terjadi. Awal Juni tadi, listrik di Jawa memang mengalami gangguan karena pasokan batubara seret, namun tak berlangsung lama. Jawa pulih dengan cepat. Sejak 20 Juni, listrik di Jawa dipastikan aman.
Kalimantan jelas berbeda. PLN mengumumkan 11 pembangkit swasta yang mengalami gangguan dan kompak rusak berbarengan. Karena sistem listrik Kalimantan yang saling mengunci (interkoneksi), satu pembangkit rusak bisa menyebabkan sistem lain kelebihan beban dan akhirnya juga ambruk. Diperkirakan listrik Kalimantan baru bisa pulih pada September mendatang.
Jawa hanya perlu dua pekan untuk pulih, tapi Kalimantan perlu berbulan-bulan. Sekilas ini terlihat karena Jawa punya cadangan yang lebih banyak, sistem yang lebih baik serta infrastruktur yang lebih memadai.
Namun jika diulik lagi masalahnya, penyebabnya bisa jadi karena pasokan batubara untuk PLTU-PLTU lokal ini tak cukup atau tak tepat waktu. Pasokan seret karena pengusaha mungkin lebih banyak menjual batubara ke luar negeri karena mendapatkan harga yang lebih baik.
Apakah salah? Gak juga. Kalo Anda pengusaha, Anda jelas harus memikirkan piring nasi anda dulu.
Pemerintah tak bisa terlalu mendesak hal ini atas nama kepentingan nasional, mengingat perusahaan-perusahaan batubara tentu juga memikirkan operasionalnya. Bayaran yang diterima dari PLTU gak bisa nutup ongkos produksi dan ongkos kirim.
Jalan tengahnya mungkin pemerintah harus menaikkan harga batubara lokal yang sejak tahun 2018 lalu belum mengalami kenaikan.
Jika DMO naik jadi 2 juta perton, listrik di Kalimantan berpotensi aman. PLTU gak perlu berbagi dengan ekspor karena tahu perusahaan tentu bisa kirim tepat waktu karena memikirkan cuan.
Kenapa pemerintah gak menaikkan harga beli ini? Karena dampaknya harga batubara yang mahal akan membuat tarif listrik naik. Mungkin sekitar Rp 20-30 ribu perbulan dari tarif saat ini.
Namun mengingat dampaknya yang juga sama-sama menyakitkan, pemerintah mungkin harus berani mengambil keputusan.
Pemadaman selama satu jam saja bisa membuat bisnis UMKM merugi Rp50.000 hingga 200.000. Jika pemadaman terjadi empat kali selama sebulan, jumlah kerugian yang diderita UMKM jelas lebih besar dari selisih harga kenaikan listrik.
Belum menghitung jumlah kulkas, televisi, dan alat-alat elektronik lainnya yang rusak karena pemadaman ini. Tarif servis AC yang rusak tentu tak nutut 20-30 ribu.
So, kuncinya tetap pada pemerintah. Mau menaikkan harga batubara dalam negeri meski listrik harus naik, atau tetap pada harga sekarang tapi rentan membiarkan warga negara khususnya di Kalimantan yang tersiksa oleh pemadaman?
Mungkin ada jalan tengah: pemerintah bisa menerapkan subsidi silang. Kenaikan beban PLN cuma buat pelanggan 1300 VA ke atas. Di bawah dari itu, pemerintah bisa mengambil keuntungan untuk mensubsidi. Jika ada hujungannya, pemerintah bisa mememasukkannya ke "dana cadangan batubara" untuk menjaga stok nasional.
Tentu saja syaratnya: Asal jangan dikorupsi. Saya percaya Mas Bahlil yang Ganteng bisa menangani ini. ()
*Penulis, tinggal di Ubud