Sepatu Hitam, Surat Terbuka buat Kadisdikbud Balikpapan

Ismet Rifani • Dipublikasikan Senin, 27 Juli 2026 | 06:45 WIB
Ismet Rifani.

Oleh: Ismet Rifani (Redaktur Kaltim Post)

INI persoalan klasik. Sudah diperdebatkan sejak duluuuuuu sekali. Sejak zaman Pak Harto. Sejak Mendikbud-nya Fuad Hasan atau bahkan Mendikbud sebelumnya. Sejak ke sekolah wajib bersepatu.

Saya tidak tahu siapa yang memulai. Tak ada referensi pasti. Mungkin idenya bagus. Supaya seragam. Kan agak aneh nyerempet lucu kalau satu murid ke sekolah pakai sepatu ala koboi, lalu temannya pakai sepatu balet ungu muda, dan teman yang lain lagi pakai sepatu bola pink. 

Supaya sekolah tak jadi ajang pentas beda strata. Siswa kaya pakai alas kaki Gucci atau LV berbagai warna, siswa pas-pasan cukup pakai sepatu sejuta umat merek B..a. Yang satu bisa pongah, yang satu minder di pojok. Tak mendidik. 

Maka keluar kebijakan, ke sekolah harus pakai sepatu hitam. Ngematch dengan seragam. Celana merah, baju putih, sepatu hitam. Cakep. Atau biru putih hitam, juga abu-abu putih hitam. Orang Betawi kate, gue demen amat ini. 

Sampai sini tak ada persoalan. Masalahnya, Pak Irfan, sekolah dan pabrik sepatu tak satu frekuensi dan jelas beda visi. Pabrik sepatu menangkap peluang sekaligus kebutuhan akan sepatu hitam ini. Tapi terkadang ada pabrik yang menambahkan sedikit unsur warna lain sebagai pemanis.

Supaya pembeli tertarik. Bisa sol yang warna putih atau merk-nya berwarna nonhitam, atau ada pernik-pernik kecil. Intinya di sepatu hitam ada tercampur warna lain. Tapi jika kita tanya ke orang, apa warna sepatu itu, jawabnya pasti hitam.

Takkan ada yang menyebut sepatu Kadisdikbud Pak Irfan hitam, bergaris putih merah putih lambang Gucci. Atau sepatu Pak Wali Kota Rahmad Mas'ud warna hitam, bersol putih dengan merek LV. Pasti orang bilang, itu sepatu hitam. 

Lalu kenapa siswa ke sekolah bersepatu hitam, dengan sol putih dilarang. Siswa bersepatu hitam tertera merek (Ardilles, Eagle, Speec, Tomkins,  Ventela, Brodo, Kanky, Kasogi, Aerostreet, League, Ando, Astec dstnya) nonhitam DILARANG?  Sengaja saya pilih merek lokal di atas, supaya membantu industri dalam negeri. Meski kini sepatu brand dari luar juga dibuat di Indonesia dengan lisensi. 

Yang mau saya sampaikan adalah, mengapa sekolah masih berkutat kepada urusan-urusan sunnah muakad seperti ini. Persoalan sepele. Sol putih dilarang, ada merek nonhitam dilarang, tali sepatu tidak hitam dilarang. Pikirkan dong urusan wajib, bagaimana menambah kuantitas dan kualitas guru. Bagaimana memperbaiki toilet sekolah, memastikan ketersediaan air bersih untuk murid buang hajat. 

Pikirkan bagaimana anak-anak pergi dan pulang sekolah selamat. Larang siswa SMP bersepeda motor ke sekolah. Belum cukup umur, jelas tak punya SIM, kerap ugal-ugalan dan membahayakan keselamatan siswa juga orang lain di jalan. 

Lihatlah ABG saat berkendara di jalan. Zigzag seenaknya, ngebut tanpa aturan, tanpa helm dan seperti punya lima nyawa. Kita berulang menyaksikan siswa di kota ini tewas di jalan saat mengendarai motor di sekolah. Apa tak bisa dibuatkan aturan kaku. Misal kalau siswa SMP bermotor ke sekolah, motor diserahkan ke Polantas. Kan aneh sekolah membiarkan siswanya melanggar hukum sejak usia dini. Pendidikan macam apa ini.

Jelas saja mereka kelak akan melanggar hukum dengan pasal lebih berat, karena sejak usia sekolah kita biarkan mereka mengencingi produk-produk hukum kita. 
Kembali ke laptop. Saat reuni dengan teman-teman SMP, salah satu yang kami bahas adalah mengapa masih saja ada sekolah yang ketinggalan zaman, lebih fokus urusan sol sepatu sekolah, tapi di satu sisi seperti berusaha mendapatkan keuntungan dan aji mumpung setiap tahun ajaran baru tiba.

Pemkot Balikpapan membagi 3 seragam gratis. Merah putih, batik Balikpapan dan pramuka. Tapi siswa menebus 5 seragam di sekolah. Gratisnya 3, bayarnya 5. 
Ada batik sekolah, seragam Adiwiyata, seragam olahraga, seragam kaos pramuka, baju koko dan rompi sekolah. Masih ditambah harus beli 4 jilbab (putih, biru, hitam dan coklat) jika siswi. Plus dasi dan kaos kaki. 

Kenapa tak sekalian tebus tas sekolah, jaket sekolah, bantal sekolah, tumbler sekolah, kipas angin sekolah, tempat pulpen sekolah, celana dalam sekolah, behel gigi sekolah untuk siswa yang menggunakan behel, jam tangan sekolah, dan handphone merek sekolah. Mumpung kan. Bisa mengatasnamakan sekolah. Kapan lagi?
Sekolah hanya 5 hari, tapi mengapa seragam demikian banyak? Kapan semua seragam itu dipakai? 

Kami para orangtua bingung, BBM naik tinggi, harga kebutuhan pokok melambung tak terbeli, program makan gratis yang diagung-agungkan belum menyentuh sekolah anak kami, tapi sekolah seperti berlomba menodong dengan dalih agar koperasi sekolah bisa hidup. 

Warna sepatu tak ada hubungannya dengan kecerdasan siswa dan kualitas lulusan. Negara maju sudah berpikir bagaimana sampai ke Mars, kita masih ngerocoki warna sol sepatu siswa. Karena itu Pak Irfan, saya punya usul konkret, untuk mengurangi beban kami para orangtua. Mengapa tak membiarkan siswa bersepatu hitam, meski solnya putih. Sebab itu toh sepatu hitam. 

Atau kalau mau kompromi, beri dispensasi setidaknya 6 bulan bagi siswa baru kelas 1 dan 7 yang sudah telanjur membeli sepatu hitam dengan merek, sol atau pernak pernik nonhitam.  Kenapa 6 bulan? Sebab dalam 6 bulan kaki mereka tumbuh membesar, dan harus beli sepatu.

Jadi saat beli sudah tahu harus full black. Ini akan memberi orangtua napas mengatur pengeluaran rumah tangga. Sebab tak sedikit orangtua yang harus memasukkan lebih dari satu anaknya saat tahun ajaran baru. Pemerintah harus jeli dan bijak melihat ini.
Atau yang ini. Bikin saja program sepatu gratis. Ini biasa diterapkan untuk atlet jelang Porprov. Jadi selain seragam gratis juga sepatu gratis. Aha, peluang baru buat pemburu rente! (riz)

 

Editor : Muhammad Rizki
Seragam sekolah Balikpapan sepatu hitam irfan taufik sekolah balikpapan disdikbud bontang