Pemuda, Kontrol Sosial, dan Demokrasi Berkeadaban

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 17:08 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura

KALTIMPOST.ID, Saat ini, kaum pemuda bisa melontarkan aspirasi melalui pelbagai kanal. Tinggal dipilah dan dipilih mana yang sesuai selera. Saat ini, setiap dari kita selaku pemuda memiliki kesempatan yang sama untuk menyalurkan pemikiran, gagasan, dan kritikan kepada pemerintah.

Melalui konten berupa tulisan, gambar, grafik, video, dan semacamnya, kita bisa mengawasi dan sekaligus mengecam pejabat publik yang semena-mena terhadap kita sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. Dengan begitu, kontrol sosial dalam alam demokrasi menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditanggalkan begitu saja.

Jika tidak, bersiap-siaplah menerima keputusan, aturan, dan program dari pemerintah yang tidak pro-rakyat. Jika tidak, bersiap-siaplah untuk terus menerus dipimpin oleh orang-orang yang menodai sumpah jabatannya.

Persoalannya, apakah pemuda sekarang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap situasi dan kondisi negeri? Apakah pemuda kini memiliki empati yang tinggi terhadap ragam persoalan yang sedang menimpa tanah airnya? Kesadaran akan pentingnya peran pemuda sebagai kontrol sosial akan menggerakkan kita untuk lebih proaktif mencari cara dan solusi dalam rangka menjadi problem solver.

Pemuda, dalam hal ini, tidak hanya berpangku tangan, tetapi juga memiliki tekad yang berkobar-kobar dalam jiwa untuk mendharmabaktikan diri sepenuhnya pada Ibu Pertiwi. Kesadaran ini tidak serta-merta didapatkan begitu saja. Faktor teman, lingkungan, bacaan, pendidikan, guru/mentor, dan pengalaman hidup, saya rasa, ikut membentuk kesadaran itu.

Kesadaran ini perlu ditumbuhkembangkan detik ini juga. Masa muda hanya sekali seumur hidup. Spirit perjuangan yang masih menyala-nyala menjadi modal berharga dalam mengakselerasi pembangunan nasional di berbagai bidang. Terutama dalam catatan ini, saya lebih menekankan lagi bahwa pemuda menjadi kekuatan moral dan sekaligus penjaga nilai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Terutama lagi, ikut mengawasi jalannya tata kelola pemerintahan yang akhir-akhir ini kerap kali mendapatkan sorotan tajam dari publik. Mulai dari kasus korupsi kelas kakap yang melibatkan petinggi Badan Gizi Nasional (BGN) hingga pembangunan beberapa Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih yang dinilai tidak strategis dan cenderung menghambur-hamburkan anggaran negara.

Di situlah peran penting kaum muda, yakni bagaimana menjadi corong publik terkait pelaksanaan program prioritas presiden yang acap kali janggal dan tidak sesuai dengan harapan. Ditambah lagi, baru-baru ini, Presiden Prabowo mengumumkan akan mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) di beberapa wilayah.

Pimpinannya pun, dalam hal ini Gubernur URI, sudah dilantik, yakni Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan. Pelantikan tersebut menuai polemik sebab Donny tidak melepas jabatannya sebagai Wamenhan. Publik khawatir hal itu justru akan mengganggu kinerjanya. Perihal URI ini, sumber pendanaannya berasal dari APBN. Lalu, bagaimana dengan semangat efisiensi yang selama ini digembor-gemborkan pemerintah?

Menyikapi hal tersebut, hemat saya, angkatan muda kita tidak boleh diam. Apalagi bersikap seolah-olah negeri ini sedang baik-baik saja. Bersikap seakan-akan persoalan negara ini hanyalah menjadi tugas dan tanggung jawab angkatan tua dan pemerintah. Bagaimanapun juga, segala jenis regulasi dan kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah, itu pasti berdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung, kepada generasi muda.

Bayangkan saja, kesempatan sebagian pemuda untuk lanjut kuliah menjadi menipis sebab anggaran beasiswa dipangkas. Bukankah itu juga imbas dari kebijakan pemerintah?

Baiklah, dalam catatan ini, saya sama sekali tidak ada maksud atau niatan untuk memprovokasi atau memanas-manasi kaum muda untuk melontarkan sumpah serapah atau caci maki kepada presiden, wakil presiden, dan jajarannya. Sebab, cara-cara semacam itu tidak mencerminkan jati diri kita sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya ketimuran.

Bagaimanapun juga, menyampaikan kritik dan saran kepada penyelenggara negara harus elegan dan tidak melabrak norma agama, norma hukum, dan norma kesusilaan yang selama ini kita junjung tinggi.

Meskipun kekecewaan kita begitu besar terhadap Prabowo, misalnya, dilarang keras untuk menjatuhkan marwahnya. Apalagi sampai mencibir sekehendak hati; apalagi sampai menyerang pribadi Prabowo; apalagi sampai memfitnahnya. Cara-cara serampangan semacam itu memang harus dihindari.

Saya selaku penulis sepenuhnya percaya betul bahwa masih banyak kaum muda di negeri ini yang tidak gampang diombang-ambingkan arus, tidak mudah diadu domba, apalagi mudah diajak untuk menyerang pribadi presiden dengan membabi buta. Demokrasi kita tidak seliberal itu.

Demokrasi yang kita anut berpijak pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Demokrasi yang sedang dan akan terus kita jalankan adalah demokrasi yang menjunjung tinggi keadaban. Kaum muda dalam melakukan kontrol sosial mesti memperhatikan dan menerapkan hal itu.

Jangan sampai rasa amarah dan barangkali juga rasa frustrasi terhadap kebijakan pemerintah yang tidak memihak rakyat justru menjadikan kita “kesetanan”. Pengejawantahan idealisme kaum muda di jagad maya ataupun nyata tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang keras, penuh amarah, dan kebencian.

Sebab, yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana kita bisa tahu diri dan berani mengambil peran aktif dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang sesuai dengan perintah konstitusi.

Bagaimana kita bisa selalu terdorong dan tergerak untuk membersamai dan membela kepentingan rakyat lewat pemikiran, ide, tindakan, materi, dan semacamnya. Pada akhirnya, kita sebagai pemuda memang sudah saatnya berdiri tegak mengambil peran sebagai inisiator, aktor, dan sekaligus akselerator pembangunan nasional.

Menjadi tumpuan masyarakat hari ini. Sebab, kita ini adalah calon pemimpin masa depan. Percayalah, sebentar lagi, estafet kepemimpinan nasional berada di genggaman kita. Dan sebelum itu, sedari sekarang, mari bersama-sama berupaya memajukan demokrasi kita dengan keadaban.

Sebab, demokrasi yang berkeadaban ini, hemat saya, menjadi modal penting untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur di kemudian hari. (*)

Editor : Almasrifah
berkeadaban pemuda kontrol sosial kritik demokrasi