Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, World Economic Forum (WEF) memperkirakan 83 juta pekerjaan akan hilang sebelum 2027 akibat otomatisasi dan Artificial Intelligence (AI). Ditambah lagi, sekitar 60 persen tenaga kerja global membutuhkan pelatihan ulang atau peningkatan keterampilan agar tetap relevan di era AI.
Laporan tersebut menunjukkan pada kita bahwa dunia sedang dan bahkan telah memasuki babak baru dalam revolusi industri digital. Termasuk lapangan pekerjaan yang semakin hari membutuhkan tenaga kerja terampil, profesional, kreatif, inovatif, dan adaptif. Hal tersebut menjadi persoalan sekaligus tantangan bagi lulusan perguruan tinggi untuk lebih jeli dan cekatan dalam mengikuti perputaran roda zaman.
Persoalan tersebut menjadi semakin serius apabila meninjau kondisi Indonesia. Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), per Februari 2025, masih terdapat sekitar 7,28 juta penganggur, dengan lulusan perguruan tinggi tetap menjadi bagian dari kelompok pencari kerja yang menghadapi persoalan skill mismatch. Hal tersebut semakin menguatkan pandangan bahwa kompetensi lulusan perguruan tinggi perlu kembali dipertanyakan. Ternyata, bermodalkan selembar ijazah dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) tinggi itu nyatanya tidak cukup.
Kita sukar membantah lagi bahwa nama mentereng kampus tidak menjadi jaminan lulusannya akan terserap di dunia kerja. Gelar, ijazah, prestasi akademik, dan nama mentereng kampus mungkin hanya menarik pihak Human Resources (HR) perusahaan di tahapan administrasi atau pemberkasan.
Baca Juga: Demokrasi Terjepit, Hutan Kian Lenyap
Selebihnya, yang hemat saya paling krusial alias menentukan adalah ketika tahapan wawancara. Laporan LinkedIn Future of Work menunjukkan bahwa perusahaan kini lebih menekankan keterampilan (skills-first hiring) dibanding sekadar gelar akademik. Banyak perusahaan global mulai merekrut berdasarkan kemampuan nyata kandidat, terutama kemampuan digital, analisis data, pemecahan masalah, dan penguasaan AI.
Tidak hanya itu, perusahaan akan menyelidiki dan menilai kapabilitas si pelamar dari segala sisinya. Selain dari sisi akademik, perusahaan akan mempertimbangkan pengalaman, kepemimpinan, dan skill yang dikuasai pelamar.
Mereka akan mengulik dengan jeli motivasi, potensi, kelebihan, kekurangan, sikap, dan kepribadian kita berdasarkan jawaban yang kita berikan atas pertanyaan mereka. Di tahapan inilah, biasanya banyak berguguran para pelamar. Apalagi jika ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pemahaman dan penguasaan pelamar terhadap teknologi AI, tambah pula tantangannya.
Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menyebabkan perusahaan-perusahaan di segala penjuru dunia melakukan pemangkasan terhadap jumlah karyawannya. Alasannya cukup masuk akal, yakni demi terwujudnya efektivitas dan efisiensi dalam proses produksi, distribusi, promosi, dan sebagainya.
Selain itu, untuk mendongkrak kinerja perusahaan tersebut pastinya. Hal tersebut menuntut pemahaman dan penguasaan teknologi AI bagi semua karyawannya. Sebuah keharusan yang mesti dijalani selekas mungkin jika tidak ingin mengalami ketertinggalan dan kemunduran. Sebab, di tengah-tengah kita, perubahan bisa terjadi dalam sekejap mata. Hanya perusahaan yang memiliki kemampuan beradaptasi dan berinovasi yang barangkali bisa menjawab tantangan tersebut dan memenangkan persaingan.
Apalagi, sebelum AI ini menjalar ke berbagai bidang kehidupan, kita sudah dihadapkan pada persoalan pelik yang namanya pengangguran dan kemiskinan. Jauh sebelum marak penggunaan AI, kedua persoalan itu, dari tahun ke tahun, dari era Sukarno hingga Prabowo, masih menjadi pekerjaan rumah yang seolah sangat sukar dientaskan.
Ditambah lagi, hari ini AI begitu potensial untuk menggantikan beberapa pekerjaan tertentu di dunia industri. Seperti halnya laporan dari WEF yang menemukan bahwa pekerjaan seperti kasir, teller bank, data entry, sekretaris eksekutif, hingga administrasi keuangan termasuk yang mengalami penurunan tercepat. Salah satu penyebabnya adalah sebagian besar tugasnya bisa dikerjakan lebih cepat oleh sistem digital dan AI.
Secara perlahan tetapi pasti, teknologi digital dengan biaya lebih terjangkau dan waktu lebih cepat cenderung menjadi pilihan bagi berbagai perusahaan saat ini. Kenyataan selanjutnya yang agak sukar ditepis lagi bahwa pekerjaan yang paling cepat menurun atau bahkan hilang dari peredaran adalah pekerjaan yang mudah diulang. Pekerjaan semacam itu berpotensi besar untuk diambil alih oleh AI. Semisal, petugas entri data, telemarketer, operator seluler, customer service, dan lain-lain.
Dalam konferensi Global Milken Institute, CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan, “Semua pekerjaan akan terdampak. Dan itu terjadi sekarang juga. Bukan AI yang akan menggantikanmu, tetapi orang lain yang menggunakan AI.” Artinya, AI tidak secara langsung menggeser posisi dan peran manusia dalam perusahaan.
Namun, yang menggesernya adalah tenaga kerja yang terampil, cekatan, dan profesional dalam menggunakan AI, terutama dalam membantu perusahaan meningkatkan kinerja, produktivitas, profit, serta menyelesaikan beragam persoalan di dalamnya.
Baca Juga: Ekonomi Kaltim Kembali Tumbuh Membaik
Di era AI, menguasai Microsoft Office saja rasanya masih belum cukup. Banyak perusahaan yang menghendaki calon karyawannya memahami betul apa itu AI, data, otomatisasi, hingga analisis digital. Kecakapan seseorang menggunakan kecerdasan buatan menjadi nilai tambah tersendiri. Atau bahkan menjadi skill yang wajib dimiliki oleh para pemburu kerja.
Lebih-lebih, kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri bahwa dunia kerja sekarang persaingannya kian kompetitif. Beragam ilmu pengetahuan yang dipelajari di bangku kuliah barangkali telah usang. Berbagai kemampuan teknis yang dipelajari di bangku kuliah mungkin telah kedaluwarsa alias ketinggalan zaman atau tidak relevan lagi.
Seperti halnya ketika awal-awal kemunculan internet, sebagian tidak peduli, sebagian tidak menjemput bola, sebagian lagi aktif menggunakannya. Apa yang terjadi? Tentu saja yang berkembang lebih cepat adalah mereka yang telah lebih awal menggunakannya karena kemampuan belajar dan adaptasinya cukup tinggi.
Rasa penasaran, keingintahuan, dan semangat belajarnya menyatu dalam proses pengenalan, pemahaman, dan pembelajarannya. Sehingga, mereka yang lebih awal menikmati dan menggunakan internet adalah yang lebih dulu bergegas memanfaatkannya. Begitu juga dengan AI.
Siapakah di antara kita yang masih menganggap AI ini semacam ancaman yang wajib dihindari? Atau semacam barang haram yang harus dijauhi? Seakan-akan AI ini adalah barang yang membawa kemudaratan bagi penggunanya. Jangankan AI, media sosial saja, jika salah penggunaannya berpotensi besar menyeret kita ke lembah kehancuran. Jadi, sisi positif dan negatif itu pasti ada. Tergantung manusia sebagai makhluk yang berakal dan memiliki hati dalam menggunakannya.
Kembali lagi, terkait AI dan dunia industri. Telah kita dapati sebuah benang merah dari catatan ini bahwa AI adalah alat. Alat yang menyimpan peluang sekaligus ancaman bagi penggunanya. Tinggal kita lebih memilih fokus ke arah mana. Sebab, internet, media sosial, pisau, jabatan, dan semacamnya itu juga sama dengan AI, sebatas sarana atau alat yang bergantung pada pengguna, pemakai, atau pemiliknya.
Kemudian, terkait dunia kerja, ini sudah saatnya perguruan tinggi juga mulai melakukan penyesuaian atau bahkan evaluasi besar-besaran dalam rangka menyikapi perubahan wajah dunia industri hari ini. Artinya, para calon sarjana sudah saatnya mulai diberikan pembekalan khusus terkait AI agar wawasan, pola pikir, sudut pandang, dan kemampuan yang mereka miliki relevan dengan kebutuhan industri.
Demikian pula pemerintah dengan segala kebijakan, regulasi, dan program yang dikeluarkan, terutama berkaitan dengan dunia pendidikan, industri, dan ketenagakerjaan, agar lebih disesuaikan lagi dengan pesatnya perkembangan AI.
Minimnya lapangan kerja, adanya ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), dan melonjaknya angka pengangguran bisa jadi berawal dari kemampuan beradaptasi sarjana kita, perguruan tinggi kita, dan pemerintah kita yang masih rendah. Sementara dunia setiap harinya berubah dengan sangat cepat.
Baca Juga: Di Atas Triliunan Rupiah, Masih Ada Jalan Berlumpur
Sarjana-sarjana kita atau para calon sarjana tidak cukup hanya dibekali dengan kemampuan berpikir, menganalisis, dan memecahkan masalah. Lebih dari itu, mereka harus dibekali juga kemampuan menggunakan AI. Termasuk didorong agar menjadi pembelajar seumur hidup.
Sebab, belajar ilmu pengetahuan dan skill tidak cukup hanya di bangku kuliah, tetapi juga di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Termasuk belajar perihal penggunaan AI. Seperti halnya belajar mengenai pemrograman otomatisasi, pengembangan algoritma, pengolahan big data, dan lain-lain.
Jadi, ketertinggalan sebenarnya bukan disebabkan hadirnya AI di tengah-tengah kita karena AI hanyalah alat. Semua itu kembali pada diri kita sendiri yang mungkin masih menyimpan rasa pesimis, malu, ragu, dan malas untuk mengejar ketertinggalan. Pada akhirnya, AI tidak menentukan siapa yang akan tersingkir dari dunia kerja. Yang menentukan adalah kesediaan manusia untuk terus berkembang, memperbarui keterampilan, dan memanfaatkan teknologi AI sebagai alat untuk menciptakan nilai.
Dengan begitu, tidak bisa dipastikan bahwa masa depan selalu berada dalam genggaman pemilik ijazah dengan nilai terbaik. Masa depan adalah milik orang-orang yang optimistis menghadapi gelombang perubahan serta bersedia menjadi pembelajar sepanjang hayat. (*)
Editor : Almasrifah