Kidulting dan Paradoks Kedewasaan Kita

Redaksi KP • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:41 WIB
Bonar Hutapea.
Bonar Hutapea.

Oleh: 

Bonar Hutapea
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

ANTREAN subuh di gerai mainan edisi terbatas di berbagai kota besar, termasuk Balikpapan dan Samarinda, bukan lagi pemandangan yang aneh. Yang menarik justru siapa yang mengantre: orang dewasa, bukan anak-anak.

Saya pernah berdiri di tengah kerumunan itu. Di balik kemeja kerja dan wajah lelah, saya melihat ekspresi yang perlahan berubah menjadi senyum ketika sebuah kotak mainan akhirnya terbuka. Fenomena ini sering dianggap sekadar gaya hidup konsumtif. Namun, di baliknya tersimpan persoalan psikologis yang lebih dalam: apakah kidulting merupakan cara sehat untuk merawat diri atau justru pelarian dari tekanan kehidupan?

Istilah kidulting menggambarkan kecenderungan orang dewasa kembali menikmati aktivitas yang identik dengan masa kanak-kanak. Di tengah tuntutan pekerjaan, cicilan, persaingan, dan ketidakpastian masa depan, ruang bermain dapat menjadi cara untuk mengambil jeda dari tekanan.

Dalam psikologi sosial, nostalgia tidak selalu berarti kerinduan pasif terhadap masa lalu. Sejumlah kajian Constantine Sedikides dan koleganya menunjukkan bahwa nostalgia dapat berfungsi sebagai mekanisme regulasi emosi yang membantu seseorang membangun kembali makna hidup dan rasa keterhubungan.

Karena itu, ketika orang dewasa kembali menikmati mainan, permainan, atau aktivitas masa kecil, tindakan tersebut tidak otomatis menunjukkan ketidakdewasaan. Donald Winnicott, dalam tradisi psikologi perkembangan, mengenalkan konsep ruang transisional, yakni ruang psikologis yang memungkinkan seseorang mengolah kecemasan melalui objek simbolis dan aktivitas bermain.

Bermain dapat menjadi katup pelepas tekanan. Di dalamnya, seseorang tidak selalu dituntut untuk produktif, rasional, atau kompeten. Ia boleh sekadar merasa senang dan takjub. Selama dilakukan secara sadar dan tidak mengganggu tanggung jawab kehidupan nyata, merangkul sisi kanak-kanak justru dapat menjadi bentuk perawatan diri.

Persoalannya muncul ketika kebutuhan psikologis tersebut bertemu dengan industri konsumsi yang sangat agresif.

Industri budaya mampu mengubah nostalgia menjadi komoditas. Mainan koleksi tidak lagi sekadar benda untuk dinikmati secara pribadi, tetapi dapat menjadi simbol status dan identitas di ruang digital. Algoritma media sosial memperkuatnya melalui tren, kelangkaan buatan, dan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).

Dalam perspektif psikologi konsumen, Russell Belk menunjukkan bahwa konsumsi dapat menjadi bagian dari pembentukan dan ekspresi identitas diri. Karena itu, ketika koleksi dipamerkan dan dibandingkan di ruang digital, hobi dapat bergeser menjadi arena pencarian pengakuan sosial.

Di sinilah batas antara kidulting sebagai pemulihan dan pelarian menjadi semakin tipis.

Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan menempatkan otonomi sebagai salah satu unsur penting kesejahteraan psikologis. Seseorang akan lebih sehat ketika mampu menentukan pilihan berdasarkan nilai dan kebutuhan yang autentik, bukan semata karena tekanan dari luar.

Maka, persoalannya bukan apakah orang dewasa boleh membeli mainan atau bermain. Persoalannya adalah siapa yang sebenarnya mengendalikan keputusan tersebut: diri sendiri atau tren.

Jika seseorang membeli karena memang menikmati hobinya, mampu mengendalikan pengeluaran, dan tidak mengabaikan tanggung jawab, kidulting dapat menjadi ruang pemulihan yang sehat. Sebaliknya, jika keputusan konsumsi muncul karena takut tertinggal, mengejar pengakuan, atau dorongan algoritma, aktivitas tersebut berpotensi berubah menjadi tekanan baru.

Karena itu, kedewasaan di era digital membutuhkan literasi yang lebih dari sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Kita membutuhkan literasi terhadap diri sendiri: kemampuan mengenali mana keinginan yang benar-benar berasal dari dalam diri dan mana yang sengaja dibentuk oleh lingkungan konsumsi.

Tanpa kedaulatan atas perhatian dan pilihan, kita mudah berubah menjadi konsumen yang terus merasa kurang. Kebahagiaan pun tidak lagi ditentukan oleh apa yang kita rasakan, tetapi oleh apa yang sedang menjadi tren.

Pada akhirnya, kidulting bukan persoalan boleh atau tidak. Bermain adalah bagian dari kehidupan manusia dan tidak mengenal batas usia. Yang penting adalah kesadaran dan kendali.

Sisi kanak-kanak bukan sesuatu yang harus dibuang ketika seseorang menjadi dewasa. Ia dapat menjadi sumber kreativitas, kegembiraan, dan ketahanan psikologis. Namun, sisi tersebut perlu ditempatkan secara proporsional agar tidak berubah menjadi pelarian dari kenyataan.

Ujian kedewasaan modern bukanlah seberapa cepat kita meninggalkan masa kanak-kanak, melainkan seberapa bijak kita mengintegrasikannya ke dalam kehidupan dewasa.

Kedewasaan yang sehat bukan berarti berhenti bermain, tetapi tetap mampu menentukan kapan bermain untuk memulihkan diri dan kapan berhenti agar tidak diperdaya oleh keinginan yang diciptakan pasar. (***/rdh)

 

Editor : Muhammad Ridhuan
Universitas Tarumanagara kidulting gerai mainan fomo