Oleh:
Azhari Novy Sucipto
Ekonom Senior KPw BI Kaltim
KALTIMPOST.ID-Ada satu mekanisme yang selama berabad-abad menopang kehidupan Kaltim secara teratur, nyaris tanpa pernah absen yakni musim hujan.
Ia bekerja seperti mekanisme penyaluran likuiditas dalam sistem keuangan, menyuntikkan pasokan air ke berbagai sektor setiap tahun sesuai jadwal, membasahi sawah, mengisi sungai, menjaga kapal tetap mengapung.
Ekonom mana pun tahu, ketika penyaluran likuiditas tiba-tiba mengetat tanpa peringatan memadai, seluruh sistem yang bergantung padanya akan terguncang.
Baca Juga: Bisnis F&B Kaltim Tumbuh 13,79 Persen, Transaksi Naik tapi Omzet Hanya Bertambah 3 Persen
Sesuatu yang serupa kini dialami Kaltim, pasokan hujan mengetat, dan provinsi ini merasakan sesuatu yang oleh para ekonom sering disebut credit crunch, pengetatan likuiditas yang tiba-tiba dan menyeluruh.
Milton Friedman, salah seorang tokoh besar teori moneter modern, mengingatkan bahwa kebijakan bekerja dengan long and variable lags, jeda waktu yang panjang dan tak menentu antara sebab dan akibat.
Guncangan hari ini bisa saja baru terasa penuh setahun atau dua tahun kemudian, di sektor yang tampaknya tak berhubungan sama sekali.
Prinsip itulah yang akan ditelusuri di sepanjang tulisan ini, bagaimana pengetatan pasokan air akibat El Nino merambat, dengan jeda yang berbeda-beda, ke berbagai sektor perekonomian Kaltim pada 2026.
BMKG telah meminta sejumlah instansi terkait untuk menyiapkan mitigasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung dari Juni hingga akhir 2026. Langkah itu menandai kesadaran dini bahwa “modal air” akan langka bagi hampir semua sektor produktif di provinsi ini.
Baca Juga: Penataan Guru di Kaltim Dikritik Pengamat Unmul, Sekolah Unggulan Dinilai Perlu Kajian Matang
Ketika Kredit Air Ditarik dari Peredaran
Pertanian, pada dasarnya, adalah sektor yang paling bergantung pada kredit jangka pendek dari alam, setiap musim tanam adalah pinjaman air yang mesti “dilunasi” lewat hasil panen. Di Kaltim, sebagian besar lahan pangan mengandalkan curah hujan musiman tanpa jaringan irigasi teknis seluas Jawa.
Sehingga ketika pasokan hujan seret, petani lokal berisiko kehilangan akses ke “fasilitas kredit” yang selama ini mereka andalkan.
Perhatian yang besar dari pemerintah dalam permasalahan ini menjadi sinyal bahwa risiko gagal panen dianggap nyata oleh otoritas terkait, bukan sekadar prosedur rutin.
Persoalan menjadi berlapis karena Kaltim juga tetap bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah lewat jalur sungai dan laut, jalur yang seperti akan terlihat pada dua bagian berikutnya, ikut terganggu oleh musim kering yang sama. Dua tekanan ini datang hampir bersamaan.
Asap yang Tak Pernah Masuk Neraca
Ronald Coase, penerima Nobel Ekonomi yang mengubah cara dunia memahami biaya sosial, mengajarkan bahwa banyak kerugian nyata dalam perekonomian tidak pernah tercatat dalam pembukuan siapa pun, karena tak ada mekanisme pasar yang memaksa pihak penyebab kerugian untuk membayarnya.
Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) adalah salah satu bentuk eksternalitas semacam itu, biaya yang ditanggung bersama, namun jarang muncul dalam laporan keuangan resmi.
Berdasarkan laporan sejumlah media, dampak kebakaran lahan terasa di sejumlah wilayah di provinsi ini, meliputi Samarinda, Balikpapan, Paser, Penajam Paser Utara, Bontang, Kutai Timur, Berau, dan Mahakam Ulu.
Baca Juga: Kabut Asap di Kutim Bikin Belajar Jarak Jauh, Distribusi MBG untuk TK hingga SMP Masih Dihentikan
Dari kumpulan asap tebal hingga bau menyengat dari sisa pembakaran menjadi sejumlah dampak yang dialami beberapa wilayah tersebut.
Berdasarkan pantauan BMKG, Bandara Kalimarau di Berau sempat mencatat penurunan jarak pandang hingga 1.800 meter pada awal September 2026.
Bandara Melalan Melak di Kutai Barat, menurut siaran resmi Kementerian Perhubungan, membatalkan seluruh penerbangan datang dan pergi selama periode 1-5 September 2026 karena jarak pandang tak memenuhi standar keselamatan operasional.
Secara agregat, pemberitaan mengenai gangguan penerbangan akibat asap karhutla di wilayah Kalimantan mencatat Kaltim sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pergerakan penerbangan terdampak di sepanjang September 2026.
Di jalur sungai, sejumlah laporan menyebut distribusi bahan bakar minyak, bahan pangan, dan kebutuhan pokok menuju Mahakam Ulu turut tersendat, berkaitan dengan menyusutnya debit air Sungai Mahakam.
Ketika Milik Bersama Kehilangan Alirannya
Elinor Ostrom, satu-satunya perempuan peraih Nobel Ekonomi, menunjukkan bahwa sumber daya milik bersama, hutan, perikanan, dan Sungai hanya bisa lestari jika dikelola dengan aturan kolektif yang jelas dan dipatuhi bersama.
Sungai Mahakam adalah bentuk nyata dari the commons yang dimaksud Ostrom. Tak dimiliki satu pihak, namun menjadi tumpuan hidup dan jalur logistik ribuan ton kargo setiap harinya.
Berdasarkan laporan APBI-ICMA dan Bloomberg Technoz, Sungai Mahakam di sejumlah titik menyusut hingga memperlihatkan dasar berpasir pada 2026.
Baca Juga: Gawat! Kabut Asap Samarinda Mulai Berdampak ke Kucing, Kasus Sesak Napas Meningkat
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), sebagaimana dikutip media, menginstruksikan perusahaan dan pemilik pelabuhan membatasi muatan tongkang dari kapasitas normal sekitar 7.000 ton menjadi 5.500-6.000 ton untuk mencegah kapal kandas di jalur yang mendangkal.
Sejumlah laporan media juga menyebut beberapa perusahaan tambang batu bara di Kaltim yang mengangkut hasil produksinya melalui fasilitas pemuatan tongkang di sepanjang Sungai Mahakam turut menghadapi kendala serupa, meski redaksi masing-masing perusahaan belum merilis estimasi resmi dampaknya terhadap volume produksi atau ekspor.
Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) mengonfirmasi Mahakam mengalami kondisi kandas bersamaan dengan sungai-sungai besar Kalimantan lainnya.
Di sinilah pelajaran Friedman tentang lag kembali relevan: gangguan hari ini pada muatan tongkang bukan sekadar soal volume yang turun sesaat, melainkan getaran yang berpotensi merambat lebih jauh, pada stok yang menumpuk di pelabuhan, pada biaya logistik yang naik, dan pada pendapatan daerah yang sangat bergantung pada kelancaran komoditas ini.
Menulis Ulang Partitur di Tengah Pertunjukan
Joseph Schumpeter menyebut kapitalisasi sebagai proses “kehancuran kreatif”, sistem yang menemukan vitalitasnya lewat kemampuan menghancurkan cara lama dan menciptakan cara baru saat tekanan memaksa perubahan.
Analogi ini relevan menggambarkan posisi Kaltim hari ini: bukan sekadar menunggu hujan turun kembali, melainkan didorong menata ulang cara mengelola air, hutan, dan jalur logistiknya di tengah situasi yang sedang berlangsung.
BMKG memperkirakan fenomena El Nino secara nasional berlangsung sembilan hingga 12 bulan, dengan puncak kemarau pada Agustus-September sebelum berangsur mereda menuju akhir tahun.
Bagi Kaltim, itu berarti provinsi masih harus melewati beberapa pekan tersulit ke depan. Langkah mitigasi lintas dinas yang telah diinisiasi adalah langkah awal yang tepat.
Namun perlu dilengkapi dengan pengelolaan daerah aliran sungai hulu Mahakam sebagai milik bersama yang dijaga kolektif, cadangan air bagi lahan pangan lokal, dan diversifikasi jalur logistik batu bara agar tak sepenuhnya bergantung pada satu urat sungai yang terbukti rentan setiap kali kemarau memanjang.
Baca Juga: LAPSUS: Sudah Kabut Asap di Kaltim, Ditambah Listrik Padam Jadi Menambah Beban ke Masyarakat
Sebab pada akhirnya, tak ada pihak yang bisa dimintai pertanggungjawaban penuh atas berkurangnya curah hujan.
Yang bisa dilakukan adalah membangun cadangan ketahanan sendiri dalam bentuk air, kelembagaan, dan kesiapan agar ketika musim kembali tak menentu, Kaltim tak lagi menghadapinya dengan cara yang sama. (rd)
Editor : Romdani.