Membaca Sejarah, Membangun Bangsa

Muhammad Aufal Fresky • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 19:48 WIB
Muhammad Aufal Fresky. (IST)
Muhammad Aufal Fresky. (IST)

Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais dan Penulis Buku

KALTIMPOST.ID, Dalam peringatan momentum satu abad Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Sabtu (19/9/2026) lalu, Kiai Hasan Abdullah Sahal berpesan, “Cerdaslah menyikapi sejarah, karena kita akan membangun sejarah.” Saya rasa, pesan tersebut tidak semata-mata tertuju kepada santri, alumni, dewan asatid, gus, kiai, dan seluruh tamu yang hadir saat acara tersebut. Wejangan itu, saya rasa juga tertuju kepada segenap komponen bangsa. Terutama generasi muda yang nantinya akan meneruskan estafet kepemimpinan bangsa di segala sektor. Bahwa pemuda hari ini, didorong untuk tidak sekadar membaca, mengingat, dan mengenang sejarah perjalanan bangsa. Lebih dari itu, bagaimana agar mampu memahami dan memaknai ragam peristiwa sejarah. Sebab, sejarah bukan hanya cerita penting di masa lalu. Di balik itu, ada sebab, akibat, konteks, dan nilai-nilai yang bisa kita pahami sebagai bekal untuk membangun Indonesia.

Terkait hal itu, Poespowardojo (1968) mengungkapkan bahwa visi bangsa yang merdeka, maju, berdaulat, adil, dan makmur jarang disinggung dalam proses pembelajaran sejarah. Padahal sebagaimana pernah dinyatakan oleh Soedjatmoko (1986) bahwa suatu bangsa yang sedang membangun, suatu bangsa yang sedang berjuang, tidak bisa lain daripada melangkahkan kakinya pada jalan yang disinari oleh cita-citanya, dengan penuh kesadaran tentang yang sudah, yaitu sejarahnya.

Baca Juga: Kuliah Gratis di PTN, Saatnya Menghapus Jalur Mandiri

Termasuk sejarah Indonesia penting untuk dipahami, digali, dan dikritisi secara mendalam. Pemuda hari ini, dengan pikiran dan kecerdasannya itu, memang seharusnya tidak gampang menelan mentah-mentah sejarah yang barangkali didapatkan dari berbagai sumber atau referensi. Apalagi tantangan kian kompleks ketika kita hidup di era di mana hampir seluruh pengetahuan seputar masa silam berada di ujung jari. Lebih tepatnya lagi ketika ledakan informasi tersebut tidak serta-merta membuat kita memahami sejarah. Memang, dalam hitungan detik sebuah peristiwa sejarah bangsa mungkin sudah dapat kita ketahui. Termasuk setiap tokoh yang terlibat, tanggal, dan tempat kejadiannya. Hanya, terus terang saja, kita belum tentu memahami konteks dan makna di balik peristiwa sejarah tersebut.

Dengan begitu, nasihat Kiai Sahal menjadi relevan dan tepat, bahwa memang generasi sekarang perlu kritis alias cerdas membaca sejarah. Kemudian, agar kita sebagai penerus bangsa bisa terdorong untuk mengetahui dan memahami lebih mendalam sejarah bangsa ini, sehingga memiliki motivasi yang kuat sebagai bahan bakar untuk lebih getol mempelajari sejarah. Perlu adanya alasan-alasan yang menguatkan kita untuk tetap menelaah sejarah sebagai bekal perjalanan panjang kita ke depan. Artinya, kita memang mesti mengetahui kegunaan atau faedah membaca sejarah.

Baca Juga: Kuliah Gratis di PTN: Momentum Menghapus Jalur Mandiri dan Mengembalikan PTN pada Mutu

Mengenai hal tersebut, Meilina dan Febrianti (2019) telah mengemukakan bahwa pembelajaran sejarah setidaknya memiliki empat kegunaan, yaitu: (1) bersifat edukatif, yakni bahwa pelajaran sejarah membawa kebijaksanaan dan kearifan; (2) bersifat inspiratif, artinya memberi petunjuk; (3) bersifat instruktif, yaitu membantu kegiatan menyampaikan pengetahuan atau keterampilan, dan (4) bersifat rekreatif, yakni memberikan kesenangan estetis berupa kisah-kisah nyata yang dialami manusia.

Setali tiga uang dengan pendapat Meilina dan Febrianti, selaku penulis saya juga memiliki pandangan bahwa dengan belajar sejarah, anak-anak bisa lebih memperkuat identitas dan karakter diri mereka. Sebab, jika kita amati dengan saksama, pemuda memiliki ragam persoalan dan tantangan yang cukup kompleks. Mulai dari maraknya judi online hingga degradasi moralitas. Sebagian pemuda yang memang sedang mencari jati diri dan gampang terombang-ambing arus kehidupan, mesti memiliki “kompas moral” sebagai penunjuk jalan. Dan salah satunya yaitu dengan lebih intens mempelajari sejarah bangsanya. Dengan begitu, pemuda kita akan lebih tahu, paham, dan sadar bahwa di balik kemerdekaan yang kita raih, ada tetesan keringat dan darah para pendahulu dan pahlawan bangsa. Dengan begitu, anak-anak muda bisa melihat betapa luar biasanya perjuangan dan pengorbanan para patriot bangsa di masa silam. Bahwa para pendiri bangsa kita rela dipenjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil selama bertahun-tahun hanya untuk mewujudkan cita-cita luhurnya, yaitu menjadikan Indonesia merdeka.

Baca Juga: Bedah Forensik Kesesatan Alibi, Menjaga Muruah Kaltim (Bagian 1)

Bekal semacam itulah yang bisa menjadi modal utama bagi pemuda untuk kembali memantapkan diri dalam melangkah dan mengarungi bahtera kehidupan. Sehingga kita secara perlahan bisa tumbuh dan berkembang menjadi pemuda yang penuh empati dan simpati dengan keadaan sosial masyarakat. Sehingga dengan begitu, kita akan memiliki semangat optimisme yang berkobar-kobar dalam jiwa untuk membangun bangsa. Entah itu lewat pikiran, tenaga, materi, gerakan, dan sebagainya. Intinya, semakin tinggi pemahaman kita akan sejarah Indonesia, diharapkan spirit pengabdian terhadap tanah air kian melonjak.

Pembelajaran sejarah ini saya rasa juga tidak hanya berhenti di ruang-ruang kelas sekolah ataupun universitas. Anak-anak muda tidak boleh membatasi diri dalam mendalami sejarah. Sebab, pembelajar sejati itu tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang telah diperoleh di bangku formal. Dia akan selalu berupaya meningkatkan pengertian dan pemahamannya terkait segala hal, terutama dalam konteks ini, yaitu sejarah bangsanya. Artinya, di era digital sekarang, kita pun bisa belajar sejarah Indonesia di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Yang terpenting, daya kritis itu harus tetap dalam mode on. Jangan semua hal yang kita baca atau tonton di internet dikonsumsi tanpa filter. Tanpa dicek, divalidasi, dan dikritisi lebih dalam mengenai konteks peristiwa dan semacamnya. Dan itu, sekali lagi, dalam rangka meningkatkan kesadaran kita terhadap sejarah bangsa.

Baca Juga: Dari Tepian Mahakam, Erau Mengingatkan Kita Siapa Kita

Selain itu, mendalami sejarah bangsa juga sebagai refleksi diri yang berkelanjutan melalui kesadaran sejarah. Soedjatmoko (1984) pernah mengungkapkan bahwa kesadaran sejarah ini merupakan orientasi intelektual, suatu sikap yang perlu ditanamkan kepada bangsa dalam rangka membentuk kepribadian nasional. Secara umum, sikap kesadaran ini adalah kesadaran yang menunjukkan tingkat penghayatan pada makna sejarah sebagai tuntunan menghadapi masa kini dan masa yang akan datang.

Pada akhirnya, lewat artikel ini, saya kembali mewanti-wanti pemuda, terutama diri saya selaku penulis, agar tidak hanya berpatokan pada slogan Jas Merah atau jangan sekali-kali melupakan sejarah ala Bung Karno. Apalagi hanya menjadikan sejarah sebatas hafalan di luar kepala. Tetapi, lebih dari itu, bagaimana agar lebih cerdas membaca sejarah bangsa untuk menjadi generasi yang mampu mencetak sejarah dan peradaban gemilang di kemudian hari. Kesadaran sejarah hanyalah salah satu bekal untuk membangun negeri ini. Sebab, dengan kesadaran tersebut, generasi penerus bisa menjadi lebih berani untuk berpikir dan berjiwa besar. Lewat kesadaran sejarah yang terpupuk itulah, pemuda Indonesia hari ini diharapkan bisa menjelma menjadi Kesatria-Kesatria Muda yang siap mewujudkan Indonesia Emas 2045 lewat beragam kontribusi nyatanya. Intinya, kita mesti cerdas membaca sejarah, tangkas membangun bangsa. (*)

Editor : Almasrifah
Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Kiai Hasan Abdullah Sahal Wejangan patriot bangsa