KALTIMPOST.ID - Di tengah dinamika global yang kerap menempatkan pergerakan nilai tukar pada titik-titik rentan, diskursus publik kita sering kali terjebak dalam perdebatan seputar suku bunga acuan, cadangan devisa, hingga derasnya pelarian modal asing. Padahal, ada sumber devisa lain yang diam-diam turut menyangga rupiah.
Tidak semua dolar datang dari kapal-kapal pengangkut batu bara atau pabrik-pabrik raksasa. Sebagiannya lahir dari butiran kopi hasil olahan kelompok tani, selembar kain batik karya pengrajin desa, atau cokelat olahan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) yang mampu menembus pasar ekspor.
Di tengah tekanan eksternal yang sulit diprediksi, setiap entitas kecil yang berhasil menembus pasar ekspor ini sedang melakukan kerja sunyi: mencangkul dolar demi menjaga napas rupiah. Hasilnya memang tidak serta-merta mencetak surplus raksasa dalam semalam, namun ketika jutaan unit usaha bergerak serentak, tetes-tetes devisa itu berhimpun menjadi bantalan kokoh bagi ketahanan nilai tukar kita.
Baca Juga: Wagub Seno Aji Tegaskan Pemprov Kaltim Belum Larang Vape, Bakal Kumpulkan Pelaku Usaha
Gagasan tersebut bukan sekadar romantisme ekonomi kerakyatan. Temuan Tran et al. (2020) dalam International Economics menunjukkan bahwa negara dengan struktur ekspor yang lebih terdiversifikasi cenderung memiliki kemampuan lebih baik dalam meredam volatilitas nilai tukar riil ketika menghadapi guncangan eksternal.
Bagi Indonesia, pesan studi tersebut sederhana namun penting: menjaga ketahanan rupiah tidak cukup hanya melalui instrumen makroekonomi, tetapi juga dengan memperluas basis pelaku penghasil devisa.
Indonesia sebenarnya memiliki "pasukan" yang luar biasa besar untuk menjalankan peran tersebut. Lebih dari 64 juta UMKM menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Ironisnya, kontribusi UMKM terhadap ekspor nasional masih berkisar 15 persen. Paradoksnya jelas: UMKM adalah raksasa di pasar domestik, tetapi masih menjadi kurcaci di pasar global.
Potensi tersebut bukan sekadar teori. Sejumlah kelompok usaha berbasis desa telah membuktikan bahwa komoditas lokal mampu menembus pasar dunia. Di Mojokerto, kelompok tani kakao Mulyojati membangun rantai nilai dari budidaya hingga pengolahan cokelat sehingga produknya berhasil memasuki pasar ekspor.
Baca Juga: Karya Fesyen dan Kuliner Kaltim Tembus ISEF 2026, Siap Jajaki Kemitraan Bisnis Nasional
Di Jembrana, Bali, ratusan petani kakao yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani menghasilkan kakao fermentasi berkualitas premium yang dipasarkan ke berbagai negara di Eropa, Jepang, dan Australia, bahkan meraih penghargaan Cacao of Excellence.
Sementara itu di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, kelompok-kelompok perajin tenun berhasil memperluas akses pasar internasional melalui peningkatan kualitas produk, standardisasi, dan penguatan kelembagaan. Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa devisa tidak selalu lahir dari rahim korporasi besar atau industri padat modal.
Ia juga dapat tumbuh dari organisasi ekonomi rakyat yang dikelola secara profesional. Jika model-model seperti itu direplikasi pada ribuan sentra produksi di seluruh Indonesia, sumber devisa nasional akan menjadi kian beragam. Diversifikasi tersebut bukan hanya memperkuat daya saing ekspor, tetapi juga memperluas pasokan valuta asing yang menopang ketahanan eksternal perekonomian.
Tentu saja, ekspor UMKM maupun kelompok tani bukan satu-satunya faktor yang menentukan nilai tukar. Rupiah tetap dipengaruhi berbagai variabel lain, mulai dari suku bunga global, arus modal, kondisi fiskal, pembayaran utang luar negeri, hingga dinamika geopolitik.
Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa diversifikasi ekspor mampu mengurangi volatilitas makroekonomi sekaligus memperkuat ketahanan nilai tukar dalam jangka panjang. Karakter UMKM yang tersebar di berbagai sektor dan wilayah menjadikannya instrumen penting untuk menciptakan diversifikasi tersebut.
MELAHIRKAN “LITTLE GIANTS” INDONESIA
Persoalannya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki banyak UMKM, tetapi juga membutuhkan lebih banyak UMKM yang mampu naik kelas menjadi eksportir berkelanjutan. Mereka harus mampu meningkatkan skala produksi, memenuhi standar internasional, mengembangkan inovasi produk, dan membangun jaringan pasar global.
Baca Juga: Eropa Bergolak Akibat Krisis Biaya Hidup, Pemerintah Pantau Keselamatan WNI
Dalam konteks inilah konsep Little Giants yang dikembangkan Tiongkok menarik untuk dicermati. Negeri Tirai Bambu tersebut secara sistematis membina perusahaan-perusahaan kecil dan menengah yang memiliki keunggulan teknologi maupun spesialisasi agar mampu menjadi pemain penting dalam rantai pasok global.
Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha, dan asosiasi industri menciptakan ekosistem yang mendorong UMKM tumbuh menjadi perusahaan berdaya saing internasional.
Transformasi tersebut ibarat kapal yang hendak melintasi Terusan Panama. Kapal tidak dibiarkan berjuang sendiri menghadapi perbedaan ketinggian permukaan air. Serangkaian pintu air secara bertahap mengangkat kapal hingga mampu melanjutkan pelayaran. Demikian pula UMKM dan kelompok tani.
Mereka memerlukan "pintu-pintu air" berupa pembiayaan, teknologi, standardisasi, sertifikasi, agregasi produksi, pendampingan bisnis, kemitraan dengan industri besar, hingga akses pasar ekspor. Seluruh elemen itu harus bekerja sebagai satu ekosistem yang secara bertahap mengangkat kapasitas pelaku usaha kecil.
Baca Juga: Lowongan Kerja di Tambang Menyusut, Sektor Jasa dan Pemasaran Terbuka Luas
Pembiayaan menjadi salah satu “pintu air” yang paling menentukan. Selama ini pembiayaan UMKM masih banyak mengalir ke sektor perdagangan. Tidak ada yang keliru dengan kondisi tersebut. Namun, jika Indonesia ingin melahirkan lebih banyak eksportir berbasis UMKM, pembiayaan juga perlu semakin diarahkan kepada sektor-sektor produktif, khususnya industri pengolahan yang mampu menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.
UMKM dan kelompok tani tidak cukup hanya menjual produk yang sudah ada. Mereka perlu didorong menjadi pencipta nilai tambah: petani kakao yang mengolah bijinya menjadi cokelat premium, kelompok tani kopi yang membangun merek kopi spesialti sendiri, atau sentra pangan lokal yang mengembangkan produk olahan berstandar ekspor.
Di sinilah devisa tidak lagi semata-mata berasal dari volume ekspor, tetapi juga dari peningkatan nilai setiap produk yang dijual ke pasar dunia. Dengan demikian, ikhtiar melahirkan Little Giants Indonesia bukan semata agenda menaikkan kelas UMKM, melainkan juga memperluas basis penghasil devisa nasional. Tentu, akselerasi ekspor UMKM dan kelompok tani bukan obat tunggal bagi Rupiah.
Namun, ketika semakin banyak UMKM dan kelompok tani mampu menembus pasar dunia, sumber devisa Indonesia akan semakin beragam dan ketahanan eksternal pun semakin kokoh. Pada akhirnya, menjaga Rupiah tidak hanya berlangsung di pasar keuangan. Ia juga dapat dimulai dari bawah, yaitu ketika semakin banyak pelaku usaha kecil mampu mencangkul dolar dari pasar dunia. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo