Oleh:
Kelvin Ho
Mahasiswa Universitas Airlangga
Saat ditanya mengenai apa yang akan mereka lakukan untuk mempersiapkan diri untuk masa depan, kebanyakan orang akan mengatakan mereka akan mempelajari ilmu pengetahuan masa kini dan teknologi. Hal ini tentunya tidak salah, tetapi ada sesuatu yang sering dilupakan, yaitu masa lalu.
Melihat ke masa lalu dapat diibaratkan sebagai kaca spion. Meskipun spion lebih kecil dari kaca depan, melihat spion tetap penting untuk menghindari kecelakaan.
Begitu juga dengan kehidupan, kita seharusnya tidak melupakan masa lalu dan budaya lokal yang kita miliki, karena terdapat banyak nilai dan pelajaran hidup yang dapat membimbing kita menuju masa depan. Dalam tulisan saya, saya akan mengangkat upacara Bakudung Batiung.
Saya mengangkat upacara ini karena meski upacara ini terlihat kuno, saya menemukan nilai-nilai yang kaya dalam budaya ini. Dengan mengangkat upacara ini, saya harap saya dapat menunjukkan dan membuktikan pandangan saya bahwa kearifan lokal, terutama upacara Bakudung Batiung, tetap relevan di masa kini.
Dari segi etimologi, Bakudung Batiung terdiri atas kata bakudung yang berasal dari bahasa Gaai “Nae Plie Ngatan” dan batiung yang berasal dari bahasa Gaai “Lamko”. Bakudung Batiung sebenarnya merupakan dua upacara, yaitu pesta syukuran atas panen (Bakudung) dan upacara penobatan remaja lelaki menjadi dewasa (Batiung).
Kedua upacara yang dilakukan sama-sama memiliki tujuannya sendiri. Upacara Bakudung bertujuan untuk memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas penyertaan-Nya sepanjang proses penanaman hingga panen. Sementara itu, upacara Batiung adalah upacara yang dilakukan sebagai penobatan remaja lelaki menjadi dewasa.
Uniknya, menurut hukum adat, seorang pemuda hanya boleh menikah setelah mengikuti upacara Batiung. Selain dua upacara utama, upacara juga diisi dengan olahraga dan kesenian tradisional. Salah satu atraksi yang ditampilkan adalah Panjat Piruai, yaitu tradisi mengambil madu dari pohon yang tinggi.
Tidak hanya upacara, acara ini juga memuat proses transfer pengetahuan. Proses pengetahuan ini dapat saya lihat terjadi melalui dua metode, yaitu bercerita dan melibatkan generasi muda dalam adat. Bercerita dilakukan oleh generasi tua yang meneruskan nilai-nilai adat melalui cerita dan dongeng. Kegiatan melibatkan generasi muda tampak melalui proses memasak dan menari bersama. Kedua proses transfer pengetahuan menyebarkan ilmu dan nilai-nilai adat yang saya anggap tidak ternilai dan patut dilestarikan.
Selain itu, upacara ini juga mendapatkan dukungan besar dari masyarakat dan pemerintah. Hal ini dibuktikan dengan terkumpulnya anggaran sekitar 463 juta rupiah dari berbagai sumber, termasuk sumbangan dari masyarakat. Pemerintah juga mendukung kegiatan ini dan melihat potensi pengembangan kesejahteraan di dalamnya melalui ekonomi kreatif dan UMKM. Dapat dikatakan bahwa pemerintah dan masyarakat sudah menyadari pentingnya upacara ini sehingga rela memberikan dana untuk melestarikan kearifan lokal ini.
Berbicara tentang relevansi upacara Bakudung Batiung, saya percaya bahwa tradisi ini tetaplah relevan di masa kini, terutama nilai-nilai yang mendasarinya. Upacara Bakudung mengajarkan saya untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa saat mencapai kesuksesan, bahkan saat mengalami kegagalan. Upacara Batiung mengingatkan saya sebagai seorang lelaki untuk mempersiapkan diri saya sebelum berkeluarga karena berkeluarga adalah hal yang memerlukan kedewasaan. Saya yakin nilai-nilai ini tidak hanya dapat diaplikasikan bagi saya, tetapi peradaban manusia secara keseluruhan.
Metode yang digunakan dalam proses transfer pengetahuan di masa lalu masih digunakan hingga sekarang. Metode bercerita masih banyak digunakan oleh orang tua untuk menyampaikan ilmu dan pelajaran hidup dengan menyenangkan. Metode melibatkan secara langsung juga tetap digunakan hingga sekarang dengan istilah seperti learning by doing, membuktikan efektivitas metode ini dalam mempelajari berbagai ilmu.
Menurut saya, jelas bahwa kedua metode ini masih memiliki tempat dalam pendidikan masa kini, terutama disertai dengan nilai-nilai adat yang mendasarinya, misalnya nilai menghormati orang yang sedang memberikan pengetahuan dengan mendengarkan dengan penuh perhatian.
Dari kacamata saya, anggaran yang dikeluarkan bukan merupakan pemborosan. Pemborosan artinya mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak penting, tetapi upacara Bakudung Batiung adalah budaya yang penting. Nilai-nilai budayanya yang telah saya jelaskan tidak dapat dinilai dengan rupiah semata.
Nilai-nilai tersebut tidak ternilai harganya, sehingga telah menjadi kewajiban kita untuk melestarikannya. Oleh karena itu, saya merasa bahwa dukungan masyarakat dalam bentuk anggaran sudah ditujukan pada tempat yang tepat, yaitu pelestarian upacara Bakudung Batiung.
Dengan tulisan saya di atas, saya telah menunjukkan bagaimana upacara Bakudung Batiung dan nilai-nilainya tetap relevan dengan masa kini. Selain itu, saya telah menunjukkan terdapatnya dukungan dari masyarakat terhadap upacara ini dan bagaimana saya mendukung hal itu.
Di tengah kemajuan dunia yang makin pesat, saya berharap bahwa esai saya dapat membujuk Anda untuk tidak meninggalkan kearifan lokal, terutama upacara Bakudung Batiung. Marilah kita, dimulai dari esai kecil ini, melestarikan upacara Bakudung Baitung agar dapat menjadi dasar menghadapi masa depan. (*)
Editor : Muhammad Ridhuan